
"Aihhh semua makanan habis. Mau makan apa aku hari ini kalau begini? Garam? Enak aja! Gak level makan gituan!"
Dela ngedumel kala ia tak menemukan sedikitpun makanan di dalam kulkas ataupun lemari dapur. Berulang kali ia mengecek, kali ada yang terlewat. Namun hasilnya tetap sama; nihil.
Wkwk astaga Dela, di sini tidak ada jin yang bisa mengadakan hal yang tidak ada.
Dela merutuki dirinya sendiri yang semakin lama semakin halu, mengharapkan hal yang tidak akan pernah mungkin terjadi.
"Kemana si dia? Tidak pengertian sekali!"
Dela berjalan ke luar, mencari keberadaan Gaza. Hidup pas–pasan seperti itu harus menjadi suatu kebiasaan di hidup Dela mulai saat itu. Sebenarnya ia bisa saja kabur. Tapi ia tidak memilih untuk kabur. Kenapa demikian? Karena ia tidak memiliki cukup uang. Uang? Bahkam seribu saja ia tidak punya. Bagaimana ia harus hidup?
Untuk bekerja ia terlalu malas. Ia sayang dengan kemulusan kulitnya yang tetap saja akan berkurang lantaran sudah cukup lama ia tidak melakukan perawatan. Lebih baik ia tetap bersama Gaza yang secara kebutuhan bakalan ditanggung walaupun pas pasan. Lagi pula jika ia memilih untuk menjadi wanita malam, pastinya saat ini tidak akan laku. Kehamilannya makin lama akan semakin besar. Jika ia memilih untuk mengaborsi kandungannya lagi, bisa dipastikan gagal jika dilakukan di kontrakan itu. Jika ia pergi dan melakukannya di tempat lain, ia khawatir nyawanya juga akan ikut melayang. Hiii ngeri. Hanya dengan membayangkan kematian saja mampu membuat Dela bergetar ketakutan.
"Heh!" Dela melempar kulit kacang pada Gaza yang menatap kosong ke arah depan, yang ia temukan di meja. Niatnya ia hanya ingin membuangnya di luar rumah, namun melihat Gaza yang hanya bersantai seperti itu, membuatnya kesal seketika. Sedangkan Gaza berjengit kaget dengan apa yang Dela laukan padanya. Ia menatap Dela malas, sekilas, lantas kembali cuek.
"Bukannya kerja kek atau apa kek, malah melamun di sini. Makan siang kita belum ada dan aku lapar," cerocos Dela. Kenyataannya memang benar. Cacing di perutnya mungkin telah menggerogoti usus halusnya. Lebay!
"Bisa diam tidak sih? Jangan membuatku semakin pusing." Kali ini Gaza memang tengah sensitif. Mengingat hal yang seharusnya tidak perlu diingat membuat moodnya hancur seketika.
"Eh eh? Kenapa jadi kau yang marah? Harusnya aku yang marah. Kau tu ya tidak bertanggung jawab sekali. Kau membawaku ke–"
"Shuuuuttt"
Gaza menempelkan jari telunjuk tangannya di depan bibirnya sendiri. Ia menginterupsi Dela agar Dela berhenti bicara. Sedangkan Dela yang terpotong pembicarannya pun tersinggung. Ia tidak suka ucapannya dipotong kala ia berbicara.
"Wah wah wah wah ..." Dela mulai gusar lantaran api yang mulai menyala di dalam benaknya.
"Kau benar–benar ya... Kau ingin aku mati kelaparan di sini? Ya ya tidak apa sih, tapi sebelum itu mungkin aku akan berteriak kepada tetangga kalau kau ... Telah memukulku, melukai seorang ibu hamils muda dengan tindak kekerasan dan kau tertuduh dengan tindakan KDRT!" ancam Dela.
__ADS_1
"Pfffft"
Sekuat tenaga Gaza menahan tawanya, namun ternyata pecah juga. Tawanya menggema sampai ke telinga Dela. Hal itu membuat Dela menganga lebar. Apa yang ia ucapkan bukanlah lelucon yang bisa menjadi bahan tertawaan seperti itu. Gaza telah membuang putung rokoknya kala Dela menghampirinya.
"Kau tuu!!"
"Haaiihh ha ha..." Gaza berusaha meredam tawanya, agar ia berhenti tertawa.
"Apa hmm? Bagaimana aku tidak tertawa? Ucapanmu saja semuanya halu. KDRT? Sejak kapan kita berumah tangga hm?"
Perkataan Gaza membuat Dela tersadar. Ia malu dengan apa yang ia ucapkan. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa malunya itu dengan alibi yang menggiringnya merasa benar.
"Ya–ya kan itu hanya suatu strategi saja biar tetangga percaya."
"Bodoh! Memangnya kau punya surat nikah?" Gaza menatap Dela dan Dela menggeleng sebagai jawabannya. Gaza terkekeh. "Tidak kan? Yang ada kita yang digiring, dinikahkan paksa. Mau?"
"Idiiihhh ogah! Mending ni bocah lahir tanpa bapak dari pada punya bapak pelit seperti kau!"
"Ya sudah. Kalau sudah tau begitu, kenapa pula kau menyuruh–nyuruhku untuk bekerja? Aku tidak punya tanggung jawab padamu untuk menafkahimu."
Menyebalkan, benar–benar menyebalkan. Spesias seperti Gaza itu jika bisa ia musnahkan akan ia musnahkan. Dela mengerucutkan bibirnya. Wajahnya terlihat begitu masam. Ia menghentakkan kakinya sekali sebelum akhirnya ia berlalu pergi.
Baru kali ini perdebatannya dikalahkan oleh seorang pria yang belum lama ia kenal. Ia menggerutu sebal. "Dia pria atau perempuan sih? Mulutnya lemes sekali seperti perempuan yang baru saja datang bulan!" gumamnya lirih.
Baru kali ini Dela menemukan pria seperti Gaza. Biasanya pria yang ia kenal itu paling tidak seperti Davin atau paling tidak ya tidak banyak bicara seperti itu.
Sekelibat kala terlintas nama Davin di benaknya, ia mempertanyakan bagaimana Davin sekarang, mantan suami yang sebenarnya belum sepenuhnya mantan lantaran surat cerai itu belum ia tanda tangani.
"Aihhh tidak tidak tidak" Dela menggeleng cepat untuk mengenyahkan nama itu dari pikirannya. "Dia bahkan sudah mati. Ngapain juga aku memikirkannya seperti itu. Dia puduli saja tidak. Kenapa pula harus dipikirkan."
__ADS_1
Tidak bisa dipungkiri, beberapa saat hidup bersama memang menyisakan kenangan walaupun itu hanya sedikit. Dan itu terjadi di dalam hidupnya. Kenangan tidak selalu indah bukan?
Dela berjalan ke dapur lagi. Ia menilik rice cooker untuk memastikan nasi sisa kemarin masih ada. Dan benar saja, matanya berbinar kala Dela melihat ada cukup nasi untuk ia makan.
Dela menghela napas. Seperti namanya yang terbalik "Delima", ia dilema lantaran tidak ada sedikitpun lauk. Hanya ada garam dan kecap. Makan dengan garam dan kecap saja membuatnya mual.
"Apa aku masak nasi goreng saja ya? Tapi gimana caranya? Memegang pisau saja aku kebingungan, apa lagi menyalakan kompor dan menggunakan wajan?" keluh Dela. Semasa hidupnya ia tidak pernah menyentuh kompor dan wajan. Dahulu hanya dengan menjentikkan jari saja semuanya sudah siap tersedia.
Plak!
Dela memukul ringan kepalanya. "Sadar Del sadar. Dulu tidak akan pernah terulang lagi," ucapnya dengan nada yang sebenarnya terdengar lucu jika didengar orang lain. Wajahnya pun cemberut imut.
"Tidak tidak. Pokoknya aku harus bisa masak. Garam sama kecap mentah terlalu iyuhh untuk dimakan." Membayangkannya saja membuat Dela mual. Ia menahan dirinya agar tidak muntah kala membayangkannya.
Dengan keraguan dan keberanian yang di atas rata–rata, Dela mulai melakukan aktivitasnya itu. Bunyi berisik yang Dela timbulkan membuat Gaza yang masih termenung berdecak kesal.
"Kenapa lagi sih itu bumil?"
Pada akhirnya Gaza memilih beranjak untuk melihat apa yang terjadi.
"Astaga Tuhan Dela..." Gaza melihat dapurnya sudah tidak berbentuk dapur. Semua bahan dan peralatan berserakan di sana. Hal itu membuat Gaza menepuk dahinya sendiri lantas meraup wajahnya kasar. Ia menatap Dela dengan tatapan datar sedangkan Dela hanya meringis, menampilkan deretan gigi putihnya.
"Maaf," ucap Dela. Sebuah perubahan yang cukup besar. Kata itu adalah kata "maaf" pertama yang tanpa sadar Dela ucapkan yang mampu membuat Gaza menarik kedua sudut bibirnya.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
Ig: @asa_bernisle