Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
120. Kado Teristimewa


__ADS_3

Diam–diam Gea menghela napas. " Aku pikir, hari ini adalah hari yang mengejutkan dan membahagiakan untuk Bayang. Namun ternyata aku salah. Hari ini adalah petaka bagiku karena Bayang tak menyukai apa yang aku lakukan," sesal Gea dalam hati dengan tatapan matanya yang sendu.


Perlahan lilin itu mulai meleleh, mengecil, terbakar hampir setengah oleh api yang menyala. Bahkan lelehan lilin itu sampai menyentuh permukaan kue itu. Briel masih menatap Gea tanpa ada keinginan untuk meniup lilin itu.


"Bang …." panggil Gea. Tatapannya penuh harap. Ia berharap paling tidak Briel mau melantunkan doa dalam hati lalu memejamkan matanya bersiap untuk memadamkan nyala api itu.


Deru napas Briel terdengar. Ia menghela napas dalam dan menghembuskannya cepat. Ia memejamkan matanya, melantunkan sebuah doa untuk hidupnya. Ia menuruti kemauan istri tercintanya.


"Aku ingin bahagia bersama keluarga kecilku."


Hanya itu doa yang dapat ia lantunkan dalam benaknya. Ia membuka matanya dan meniup nyala api itu hingga padam. Briel mengangkat sudut bibirnya. Menatap Gea dan ….


"Hahh …." Briel menghela napas. "Aku gak suka kamu bikin kejutan seperti ini. Apakah kamu tidak berpikir? Apakah kamu tahu betapa paniknya aku ketika aku mendengar kabar buruk tentangmu?" Briel menumpahkan kekesalannya.


Sudah lama sekali ia tak mendapat kejutan ulang tahun. Jika diingat, mungkin terakhir kalinya setelah ia lulus kuliah. Kala ia memutuskan untuk mengelola perusahaan di Jerman, saat itu juga tak ada lagi kejutan ulang tahun untuknya. Ia hanya hidup berdua dengan Adam tanpa orang spesial lain di sana.


Tapi kali ini, setelah sekian lama, kejutan ulang tahun untuknya sangatlah mengecewakan. Ia tak suka dengan cara yang Gea gunakan. Gea yang mendapat omelan itu terdiam. Bahkan ia memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang salah dengan kejutan ini Bang? Aku membuat kesalahan apa?" tanya Gea.


Briel tersenyum sinis. Dan ….


Prok prok prok


Belum sempat melontarkan kata–kata, suara tepuk tangan memecah ketegangan antara sepasang suami istri itu. Tepuk tangan itu berasal dari sepasang suami istri paruh baya. Mereka datang bersamaan dan berdiri di ambang pintu. Mereka melangkah masuk. Briel membalikkan badannya karena posisi dia membelakangi.


"Selamat ulang tahun yang ke 30 sayang," ucap Tere yang masuk dengan membantu Frans berjalan ke dalam kamar.


Briel mengangguk dan tersenyum. Kekesalan itu masih terlihat jelas di wajah Briel.


"Kamu kenapa Bri?"


"Tidak, Bun," jawab Briel singkat. Tere menatap Briel menyelidik, mencoba mencari kebenaran dari sorot mata Briel.


"Ada apa? Kamu tidak bisa bohong sama Bunda." Tere menuntut sebuah jawaban dari Briel.


"Jujurlah Bri. Dari pada urusannya panjang." Frans menimpali. Ia tahu bagaimana sifat Tere jika mode ngambek telah aktif. Ia bisa didiamkan selama tiga hari.


Briel menghela napas lagi. "Ini semua gak lucu Bun. Boleh kasih kejutan, tapi, Briel mohon. Jangan buat Briel khawatir seperti orang gila."


Ia mengingat betapa khawatirnya dia, marah–marah tidak jelas.

__ADS_1


Akhirnya Tere pun mengangguk paham akan permasalahan yang terjadi. Tere menahan tawanya. Ia ingin berbicara, namun suara seorang pria membuat Tere mengurungkan niatnya.


"Memang kau kan gila Bri!" ucap Adam yang juga masuk ke kamar itu.


Briel berdecak kesal. "Ngapain kau ke sini?!" ucap Briel ketus.


"Ya suka suka dirikulah!" Adam menjulurkan lidahnya layaknya anak kecil. Gelak tawa terdengar di antara mereka karena ulah Adam dan Briel. Adam berjalan menghampiri Tere dan Frans.


"Eh Bunda, Ayah," sapa Adam. Ia mencium punggung tangan mereka berdua.


"Udah dari tadi Dam?"


"Udah, Bun. Tapi markirin mobil dulu tadi habis nyetirin Orang Gila," sindirnya sembari melirik Briel sekilas.


"Hilihh," ujar Briel. "Aku gila juga gara–gara ini," ucap Briel yang kesal kembali.


"Kamu gak suka Bayang?" ucap Gea dengan mata berkaca–kaca. Entah mengapa, kata–kata Briel bagaikan penolakan yang teramat menusuk.


"Briel ah …. Bunda ngaku deh. Maafkan Bunda ya. Semua ini ide Bunda. Gege maafkan Bunda ya karena telah berbohong kalau kamu kenapa–napa bahkan Bunda tak memberitahumu. Bunda hanya ingin melihat bagaimana dan apa yang akan kamu lakukan kalau tengah khawatir lah. Selama ini Bunda tak pernah melihatmu kelabakan seperti itu."


Briel dan Gea melongo tak percaya. Ternyata ide gila itu berasal dari Tere.


"Pantas saja Bayang sekesal itu," gumam Gea dalam hati.


"Gey, maafin Abang ya karena meluapkan kekesalan Abang padamu."


Briel mencium kening Gea. Cukup lama ia menumpahkan rasa cintanya pada Gea. Gea menikmati sentuhan dingin nan hangat itu.


"Bayang, aku punya sesuatu untukmu."


Gea tersenyum cerah. Ia mengambil bungkusan kotak besar yang ramping. Briel menerima bungkusan itu.


"Apa ini?"


"Bukalah."


Perlahan Briel membuka bungkusan itu. Betapa bahagianya ia melihat rupanya sendiri terlukis jelas di sana. Dengan gaya pelukisan sketsa wajah gambar dirinya terlukis indah di sana berbingkai kayu dengan desain klasik.


"Wow …." gumam Briel lirih dengan sudut bibir yang terangkat. Ia menatap Gea. Senyum Gea tak memudar.


"Buatan siapa ini? Lain kali aku ingin memesannya lagi." Briel juga ingin membuatkan sketsa wajah untuk Gea.

__ADS_1


"Lah ini gak pesan Bang."


"Terus?" tanya Briel dengan tatapan menyelidik.


"Ya gak pesan. Kan aku sendiri yang membuatnya. Jelek ya, Bang?" tanya Gea hati–hati mengenai hasil karyanya. Waktu itu, Gea membeli segala perlengkapan dan peralatan lukis bersama dengan Hendri kala itu.


Sedangkam ketiga orang lainnya yang ada di sana masih memandangi kemesraan dua sejoli di depan mereka itu.


Mata Briel semakin berbinar. Termyata karya itu adalah hasil karya istrinya sendiri. Ia berjala mendekat, ingin memeluk Gea. Namun Gea menahan tubuh Briel.


"Bagus. Istimewa malahan," jawab Briel jujur.


"Sebentar! Masih ada satu lagi, Bang."


Gea mengambil lagi kotak persegi panjang. Ia menyerahkkannya pada Briel.


"Apalagi ini Gey?" Briel memerima kotak persegi panjang itu heran. Ia menerka–nerka apa isi dari kotak itu.


"Masak iya kalung. Seandainya iya, tapi kan aku pria," gumamnya dalam hati yang menerka–nerka.


Briel membuka kotak itu. Ia menemukan sebuah alat dengan gambar 2 garis merah. Ia menatap ke arah Gea. Gea masih tersenyum.


"Apa ini?"


"Astaga mendadak CEO menjadi bodoh karena kebingungan," gurau Frans. Gelak tawa terdengar di sana. Briel hanya berdecak kesal karena dia tak tahu.


"Istrimu hamil. Begitu saja tidak tahu," ledek Frans.


Briel terperangah. "Iya kah? Beneran tidak bermimpi? Aku jadi seorang Ayah?" ucap Briel yang masih tak percaya. Tere dan Frans mengangguk. Kemudian ia beralih menatap Gea.


Gea mengangguk bahagia. "Iya, Bayang. Sebentar lagi kita jadi orang tua."


Tanpa berpikir panjang ia memeluk erat istrinya. Tidak ada hal yang bisa menggambarkan betapa bahagianya ia saat ini. Kebahagiaan yang tak akan pernah bisa dibeli dengan uang. Dan tak akan pernah bisa ditukar dengan harta. Kali ini ia mendapatkan kado teristimewa di hidupnya.


"Terimakasih Tuhan ..." ucap Briel.


🍂


//


Happy reading gaeess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2