
Di dalam mobil, baik Gea maupun Briel tak memulai pembicaraan mereka. Mereka memilih radio sebagai teman penghantar perjalanan mereka saat itu. Lagi pula Gea merasakan kantuk yang luar biasa lantaran malam tadi mereka tidur cukup larut.
Gea memejamkan matanya, namun percuma. Dirinya tak mampu menuju ke alam mimpi yang sejak tadi ingin ia jemput.
"Bayang ... ngantuk," adu Gea manja dengan wajah cemberut. Ia menatap Briel sedangkan Briel hanya sesekali bisa menatap ke arah Gea. Pikirannya juga harus tetap fokus dengan mobil yang ia kemudikan di jalanan yang cukup padat.
"Tidurlah Geyang," titah Briel pada Gea. Tangannya sekilas menyentuh pipi Gea. Ia mengganti radio dengan lagu yang syahdu yang mampu menghantar Gea pada keterlelapan.
"Susah Bayang," ungkap Gea manja.
"Ya sudah, kita mengobrol saja," ucap Briel.
Mereka berdua pun terbuai dalam sebuah percakapan ringan,namun terasa begitu hangat. Hangat, hingga gelak tawa pun memenuhi mobil itu.
"Sial!"
Tiba–tiba saja Briel mengumpat. Ia melihat terus ke spion mobilnya.
"Ada apa Bayang?" tanya Gea penasaran dengan wajah yang was–was.
"Ada mobil yang membuntuti kita." Wajah Briel terlihat begitu serius.
Gelak tawa yang semula terdengar begitu renyah kini pun lenyap seketika. Gea yang semula tak peduli pun menatap ke arah belakang. Ada dua mobil yang mengikuti mobil mereka berdua.
"Get eratkan sabuk pengaman. Aku akan mengemudikan mobil ini lebih kencang. Pegangan yang erat," titah Briel. Ia tak ingin istri dan calon anaknya kenapa–napa karena hal ini. Setidaknya dengan sabuk pengaman, cidera akan lebih diminimalisir jika kemungkinan terburuk terjadi.
Gea mengangguk dan melakukan apa yang Briel perintahkan.
"Telepon Bima agar dia segera memberikan bantuan!"
Gea mencari ponsel di tasnya. Secepat mungkin ia menekan nomor bernama terang "Kak Bima" hingga terdengar bunyi sambung.
"Kirimkan bantuan. Aku akan menghidupkan GPS," ucap Briel tanpa basa basi sembari terus konsentrasi pada jalanan yang ia lalui.
__ADS_1
"Baiklah. Belokkan ke gang depan. Kami akan menunggu di persimpangan jalan dekat sana," ucap Bima di seberang sana.
"Oke." Briel mematikan sambungan itu. Ia kembali berkonsentrasi pada apa yang ia lakukan. Ia mencari gang yang Bima maksud.
Sesekali Briel mengamati spion. Mobil itu masih mengejar. Namun karena keahlian Briel dalam mengemudikan mobil, mobil yang mengejarnya agak kesulitan untuk menghadang mobil Briel lantaran jalanan yang cukup padat namun masih lancar itu.
"Itu dia," gumam Briel. Ia menemukan gang yang dimaksud. Tanpa aba–aba Briel pun langsung membelokkan mobilnya ke gang itu. Ia langsung mencari persimpangan jalan yang dimaksud.
"Damn it! Kemana dia," ucap pengemudi mobil yang mengejar Briel. Mereka kehilangan jejak mobil Briel. Namun mereka ingat, GPS.
"Lacak GPSnya!" titahnya pada yang lain. Ia berharap GPS yang ada di sekitar Briel hidup.
Dan benar saja, sesuai dengan harapan dan pikiran mereka.
"Bagus," ucapnya dengan tersenyum miring. Ia segera membelokkan mobilnya ke arah dimana titik lokasi itu terlihat.
🍂
"Bos ada yang aneh!" ucap mereka yang ia sebut bos itu. Ia masih mendengarkan kelanjutannya. "Titik lokasi keberadaan Briel tidak bergerak, dan mobil itu ada di depan," tunjuknya pada mobil yang terparkir di pinggir jalan di depan sana.
"Arrrgh sial!" umpatnya. Ia tak menemukan siapapun di dalam mobil itu. Dan saat ini mereka tak dapat menemukan keberadaan Briel dan Gea lantaran mereka sudah masuk ke dalam mobil Bima.
🍂
"Hampir saja!" ucap Bima. Kejadian kali ini benar–benar menegangkan. Terlambat sedikit saja, pastinya Briel dan Gea akan diserang oleh mereka.
"Astaga ... Benar–benar senam jantung," gumam Gea. Ia tak tahu lagi apa yang akan terjadi jika tak ada Bima dan yang lainnya.
"Untung saja aku kemarin membawa mobil yang lebih besar. Jadi bisa menampung orang lebih banyak," ucap Bima. Di dalam mobil itu memang ada 6 orang dewasa. Entah sudah feeling atau memang kebetulan, namun kenyataan itu sangatlah berguna.
"Kamu tidak apa–apa kan, Sayang?" Briel mengusap kedua pipi Gea dengan tangannya. Wajahnya terlihat begitu khawatir. Seusai itu, ia mengelus lembut perut Gea dengan sayang.
"Aku baik–baik saja Bayang." Gea tersenyum hangat, begitu tulus, menenangkan. Senyum itu terbukti mampu membuat Briel lebih tenang. Senyum itu menular pada Briel.
__ADS_1
"Astaga ... Kenapa kalian bermesraan di dalam mobilku?" gerutu Bima.
Pasalnya mereka berempat yang belum memiliki pasangan tak suka melihat Briel dan Gea bermesraan di dalam mobilnya, meski tak bisa dipungkiri ada rasa bahagia di dalam hati mereka kala melihat pasangan yang terbilang masih cukup baru itu sangatlah harmonis.
"Suka–suka kamilah. Makanya kalian cepat sana nikah!"
"Astaga Bos ... Mau menikah bagaimana? Calon saja belum punya," ucap Runi.
"Kamu enak Run. Tinggal pilih noh. Di mobil ini saja ada 3 pria jomblo. Pilih salah satu," goda Gea. Ia sengaja ingin menjodohkan Runi dengan salah satu dari antara mereka bertiga.
Seketika tatapan Adam dan Runi bertemu.
"Ogah!" ucap mereka berdua bersamaan. Mereka saling membuang muka. Hal itu membuat Gea menggelengkan kepalanya.
"Awas benci sama cinta bedanya sehelai saja. Terpeleset sedikit saja bisa berubah," celetuk Hendrik tiba–tiba. "Pasangan yang aneh," gumamnya lirih kemudian.
"Bicara apa kau Ndrik?!" tanya Adam meski ia masih mendengar jelas ucapan Hendrik.
"Pasangan aneh." Bukan suara Hendrik. Namun Briel lah yang menjawab Adam. Sungguh ia gemas dengan sahabatnya itu.
"Najis," umpatnya.
"Geaa ... Lihat mereka malah meledeknya. Mana sama orang gelo ini lagi," adu Runi pada Gea.
"Uluh–uluh Sayang ..." Gea memeluk lembut sahabatnya itu dari samping.
"Sudah–sudah. Jangan peluk–peluk!" Briel melepas pelukan mereka berdua. Ia langsung memeluk tubuh Gea. Seketika gelak tawa terdengar begitu renyah di antara mereka, sedikit melupakan kejadian menegangkan yang baru saja terjadi.
🍂
//
Happy reading gaees,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕