Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Manusia Random


__ADS_3

"Astaga Tuhan ... Kenapa kalian memindahkan isi swalayan ke sini?" ucap Gea.


Gea terperangah melihat banyaknya barang yang mereka bawa. Bahkan barang mereka harus dibawa juga oleh Samsul dan beberapa asisten rumah tangga. Tidak lupa juga dengan keberadaan Dini dan minah. Mereka juga membantu memindahkan barang.


"Kalian tu kesurupan apa sampai bawa barang sebanyak itu?"


Gea berjalan ke arah di mana mereka meletakan barang bawaan itu. Ia membuka wadah satu persatu. Gea menepuk dahinya seketika. Ia menatap mereka berempat bergantian.


"Untuk apa barang sebanyak ini? Mereka masih teramat kecil, belum bisa menikmati makanan seperti itu... Astaga, sayang uang kalian tu digunakan untuk membeli hal yang sebenarnya belum diperlukan," tutur Gea. "Dari pada untuk membelikan barang si kembar sebanyak ini, lebih baik kan kalian memberikannya untuk orang yang lebih membutuhkan?" lanjut Gea. Dia mengomel panjang lebar.


It's okay, jika mereka membelikan secukupnya. Masalahnya ini berlebihan.


Semuanya terdiam, tak terkecuali Runi, si akar dari semua kejadian ini. Runi menunduk, merasa bersalah. Andai ia tidak gelap mata, mungkin tidak akan seperti ini, batinnya. Namun semuanya itu juga bukan salahnya lantaran Adam juga membiarkannya.


Hendri menghela napas melihat kebungkaman mereka.


"Maaf Gey, kami hanya ingin membelikan sesuatu untuk baby twins. Tidak ada niat lain. Tapi ternyata kami belanja kebablasan." Hendri angkat bicara. Ia menengahi itu semua.


Perkataan Hendri membuat Adam melotot ke arah Hendri. "Heh bukannya–Aaarghh" pekiknya tertahan. Kakinya terasa sakit akibat diinjak oleh Runi yang ada di sampingnya. Ia tidak ingin Adam merusak suasana yang baru saja diperbaiki oleh Hendri.


"Kurang ajar," gumam Adam lirih. "Mana sakit lagi," keluhnya kemudian.


Bagi Hendri, mereka datang berempat, jika salah satu salah namun sudah menjadi keputusan bersama, itu artinya kesalahan itu milik bersama. Bukan milik perorangan lagi.


"Ada apa sih ini?"


Briel datang tiba–tiba. Ia menimbrung mereka. Dari kejauhan Briel melihat mereka tengah bersitegang. Ia merangkul menyamping tubuh Gea dari arah belakang.


"Itu lihat Bayang, ulah mereka," adu Gea. Ia menunjuk ke arah barang bawaan mereka. Raut wajahnya juga kesal.


"Makasih ya semuanya."


Berbeda dari respon Gea, Briel malah berterimakasih pada mereka.


"Loh kok malah terima kasih?" Gea terperangah dengan sikap Briel. Ia pikir Briel akan melakukan hal yang sama seperti dirinya; menceramahi mereka, mengomeli mereka panjang lebar.


"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Briel lembut dan hati–hati. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan Gea.


"Itu banyak sekali."

__ADS_1


"Nah itu. Justru karena banyak ya harus berterimakasih. Lagian sudah terlanjur di beli. Yasudah diterima."


Briel mencoba memberikan pengertian untuk istrinya itu. Maksudnya memang baik, agar mereka tidak menghabiskan uang untuk hal seperti itu. Namun usaha mereka juga harus dihargai agar tidak merasa tertolak. Mereka sudah bersusah payah memilih dan membawa barang itu ke rumahnya serta mengeluarkan uang yang tentunya tidak sedikit.


Gea menatap manik mata yang menatapnya dalam itu.


"Ck ah, Bayang gak asik!"


Briel tidak bisa diajak kompromi. Gea memalingkan wajahnya lantas meninggalkan Briel. Ia tetap tidak sejalur dengan pikiran dan ucapan Briel. Ia memilih untuk kembali pada duo kembar yang memang terdengar tengah menangis. Mungkin mereka lapar. Waktu itu memang sudah waktunya mereka untuk minum ASI.


"Makasih ya. Tidak usah di ambil hati. Sejak ada Rio dan Nino, Gea memang lebih galak. Kayak macan yang dibangunkan dari tidur panjangnya," bisik Briel kala Gea sudah tidak lagi berada dalam jangkauan matanya.


Mereka mengangguk mengiyakan.


"Seganas apa?" tanya Bima penasaran.


"Ya ganas pokoknya," jawab Briel singkat. Dia malas menjelaskan.


"Seperti orang di sampingku ini?" tanya Adam. Ia menunjuk Runi.


Plak


Kepala belakang Adam terpukul cukup keras oleh telapak tangan Runi. Runi tidak terima oleh tuduhan Adam. Sedangkan Adam mengaduh kesakitan.


Ucapan Adam menuai sebuah lirikan tajam. Mereka tertawa melihat ulah Adam dan Runi.


"Sudahlah, lagi pula nanti aku tidak perlu belanja. Keperluan mereka nanti telah kalian cukupkan sebagian besar," ucap Briel dengan santainya. Tidak ada satupun yang ia tutupi.


Respon Briellah yang membuat mereka terperangah. Sungguh respon di luar dugaan. Ternyata Briel juga memiliki jiwa gratisan.


"Biasa aja!" tegur Briel. Siapa sih yang gak suka geratisan? Semua manusia pasti juga tidak menolak yang geratis. Lebih menguntungkan.


"Dahlah, ayo ke teras samping," ajak Briel. Tidak mungkin ia mengajak mereka ke kamar duo kembar saat istrinya tengah menyusui kedua anaknya.


"Tujuan kami ke sini kan menemui baby twins. Kenapa kau ajak kami ke teras?!" tanya Runi sewot. Ia tidak sabar bertemu dengan Rio dan Nino.


"Enak saja. tidak boleh!" larang Briel keras. Ia tidak rela jika tubuh istrinya dilihat oleh mereka semua. Terlebih ada 3 orang pria lain. Ia tidak rela!! Setelah Gea selesai, dia baru mengijinkan mereka menemui duo kembar.


"Iya–iya ... gitu saja marah," ucap Bima.

__ADS_1


Briel tidak lagi menggubris mereka. ia tetap melangkahkan kakinya ke teras samping. Mereka mengikuti ke arah mana Briel melangkah.


"Tumben kalian mendadak main ke rumah. Kemarin kemana saja hmm?" tanya Briel pada mereka. Sedikit jengkel namun juga lega pada akhirnya mereka berkumpul lagi.


"Heihh ... Baru datang tu harusnya disuguh makanan atau minuman kek. Ini dari tadi malah disuguh dengan kalimat panjang dan juga kata tanya dari kalian. Astaga ... Kalian benar–benar tidak memperlakukan tamu dengan baik," sindir Adam. Sedari tadi ia bosan mendengarkan banyak kalimat dari pasangan suami istri itu. Kupingnya terlalu panas untuk mendengarkan banyak kalimat lagi.


"Itu namanya juga suguhan. Ya sudah, sudah disuguh kan? Berarti sudah tidak perlu.


"Bik ... Minuman sama camilannya gak usah dibuat! Mereka tidak butuh lagi!" teriak Briel untuk asisten rumah tangganya.


Bakk!


Bima melempar sebuah bantal kecil ke arah Briel. Briel berhasil menangkis bantal itu dengan telapak tangannya.


"Kurang ajar! Benar–benar tuan rumah kurang ajar. Kami juga haus tauk!" protes Bima, menyuarakan rasa dahaga yang sedari tadi menyergapnya.


"Santai Bim santai. Hidup jangan keras–keras. Dunia ini sudah keras, jangan ditambah keras lagi," ujar Briel. Ia tergelak.


"Gimana Den? Jadi tidak minumnya," tanya asisten rumah tangganya yang datang menghampiri. Ia sedikit membungkuk hormat di depan mereka semua.


Briel semakin tergelak. Ternyata asisten rumah tangganya menanggapi candaannya itu dengan serius.


"Astaga Bibi ... Jadi Bik, aku hanya bergurau saja," ungkap Briel.


"Oke siyap Den," ucapnya lantas kembali ke dapur lagi.


"Kalau perlu kasih racun ya Bik, buat mereka," teriak Briel kala sang asisten sudah agak menjauh.


"Wah ... Ck ck ck ck." Adam menggelengkan kepalanya pelan.


"Durhaka kau Bri, mempermainkan hati seorang ibu–ibu." Adam semakin absurd dengan tingkahnya.


"Hidihh sok. Biasanya kau yang mempermainkan beliau. Sok merasa paling benar kau tu, dahal lebih durhaka." Briel mengingat kala Adam sering menjahili asisten rumah tangganya.


"Nah justru itu. Kan aku sudah bertobat," kilah Adam. Ada saja jawaban yang terlontar dari mulut Adam.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2