SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
LUAR NEGERI


__ADS_3

Mata Axel melirik Angga yang berjalan pelan sambil memegang dadanya, mengambil paspor yang ada di tangan.


Selesai melewati proses pemeriksaan, Isel membantu Angga berjalan masuk ke pesawat dan duduk diam.


"Sudah dua tahun Kak, kenapa tidak pernah bicara dengan Isel? Kakak sebenarnya mengingat Isel tidak?"


"Kita ingin pergi ke mana?"


"Pergi ke tempat yang tenang," jawab Isel sambil tersenyum masih belum bisa memahami Angga sama sekali.


Helaan napas terdengar, Isel memejamkan matanya mengingat kembali setelah dua bulan hilangnya Black. Dia ditemukan oleh seorang pemancing yang tinggal di tengah hutan.


Seorang pria tua yang bisu merawatnya menggunakan obat-obatan herbal, Isel menemukan Black dalam keadaan kritis langsung melarikannya ke rumah sakit.


Black melakukan perawatan satu tahun akhirnya baru sadar, melakukan operasi selama lima karena luka di dadanya.


Dokter yang merawat Black orang kepercayaan keluarga Leondra, hanya Isel yang memiliki akses untuk menemui Blackat.


Selama dua tahun Isel merasa bersalah karena menyembunyikan Black, tapi dia juga tidak ingin Aira menanggung kesedihan melihat kondisi Black.


Bertahun-tahun Blackat tidak pernah bicara, hanya beberapa patah kata. Isel merasa Black bisu, dan hilang ingatan.


"Isel, apa Aira dan Dean akan menikah?"


"Tidak tahu, Kak Angga sebenarnya mengingat Isel tidak?"


Kepala Angga mengangguk, tangannya menyentuh dada yang tiba-tiba merasakan sakit kembali.


Obat yang diberikan oleh dokter langsung Isel berikan, dia harus mengirim Angga secepatnya kepada Kakeknya agar Paman Hendrik bisa melakukan operasi terakhir.


Air mata Isel menetes, dia sebenarnya kasihan melihat Angga yang berjuang di meja operasi demi menyelamatkan hidupnya. Luka tembak di usia remaja membuat organ tubuhnya rusak, ditambah lagi tembakan Imel yang melukai bagian lain.


"Maafkan Isel ya Kak, hanya ini yang bisa Isel lakukan. Biarkan Kak Ai menganggap sudah tiada." Tangan Isel mengusap air matanya.


"Aku baik-baik saja Isel, jangan berjuang untuk aku." Tangan Angga mengusap air mata Isel yang rela menghabiskan waktunya hanya untuk menanggung rasa sakit.

__ADS_1


Kedua tangan Angga bergetar kembali, Isel memalingkan wajahnya tidak sanggup melihat Angga yang menahan rasa sakit sampai gemetaran.


"Apa Isel jahat memaksa Kak Angga untuk bertahan demi keegoisan Isel sendiri?"


Mata Angga terpejam, hanya aliran air mata yang tersisa. Isel hanya bisa menatap tidak berani menyentuh tidak tega melihat lelaki yang dulunya kuat, namun berubah sangat lemah.


"Sel, maaf jika Kak Angga memutuskan menyerah. Ini sangat menyakitkan, terima kasih karena kamu tidak mengizinkan Aira menanggung sakit melihat kondisi aku." Obat membawa Angga hilang kesadaran terlelap tidur.


"Iya kak, sudah cukup Kak Angga menanggung sakit. Isel ikhlas melepaskan,"


Perjalanan panjang membawa Isel dan Angga berada di negara yang sangat jauh dari keluarga.


Orang kepercayaan Kakek Isel menjemput langsung mengantar ke rumah sakit. Isel sudah bicara dengan pamannya untuk perawatan Angga.


"Paman Hendrik, ini Isel." Pelukan Isel mendarat menyapa pamannya.


"Iya aku tahu, siapa dia sebenarnya?"


Senyuman Isel terlihat, meminta maaf karena dirinya tidak bisa membocorkan identitas rahasia Angga.


"Aku sudah melihat pemeriksaan medis kamu, dari awal aku sudah mengatakan jika resiko besar. Belum tentu kamu selamat,"


Dunia menangis mengetahui idola dan inspirasi memilih pamit dari depan kamera, Ai membuat duka yang sama seperti saat kematian Blackat.


"Kenapa mundur Ai? menjadi aktris impian kamu." Kepala Angga tertunduk, teringat ucapan Aira mengatakan jika alasan dirinya menjadi aktris hanyalah Blackat.


Jika Blackat tidak ada, maka berakhir juga perjalanan karir Ai, lawan paling imbang sudah pergi untuk selamanya.


"Apa yang kamu lihat? ayo masuk." Hendrik membantu Angga berjalan untuk diperiksa luka tembak di dadanya yang tidak bisa sembuh.


Helaan napas Hendrik terdengar, dia hanya menjamin 30% kemungkinan besar operasi berhasil, namun jika tidak operasi Angga tidak akan bertahan lama.


"Isel meninggalkan Kak Angga di sini, Isel harus menemui Kakek Nenek dan kawan lalu pergi ke negara lain untuk kuliah. Paman Hendrik tolong rahasia soal Kakak Angga." Punggung Isel membungkuk, pamitan kepada Hendrik, mengusap punggung Angga menyemangati.


"Sel, jika aku gagal, jangan datang ke pemakaman Kak Angga. Kamu harus menjadi wanita yang hebat." Senyuman Angga terlihat menyemangati Ghiselin.

__ADS_1


Kepala Isel mengangguk menahan air matanya, langsung melangkah pergi untuk melepaskan Angga selamanya.


Semangat Isel gugur saat mendengar persentase sangat kecil, namun dia tidak ingin menangis di depan Angga yang pasti tahu jika harapan hidupnya sangat kecil.


"Ada hubungan apa kamu dan Isel?"


"Idola dan penggemar, dia remaja yang hebat,"


"Isel hanya remaja pengacau, kamu satu-satunya yang mengatakannya hebat." Tawa Hendrik terdengar, memantau perawat yang memasangkan infus.


Mata Angga terpejam, rasa rindunya kepada Aira sangat besar. Wanita yang dicintainya akan segera menjadi milik orang lain, dan selama hidup perasaan Angga terbawa mati.


"Kamu merindukan seseorang?"


"Ya, seseorang yang tidak bisa aku miliki. Dia wanita yang cantik, pemarah, selalu membuat masalah, namun dia spesial hanya satu-satunya." Tangisan Angga terlihat meminta maaf karena dirinya begitu lemah.


Hendrik menggelengkan kepalanya, Angga pria yang sangat kuat. Tidak banyak orang yang mampu bertahan dengan rasa sakit yang teramat sakit.


Luka goresan pisau saja perih, apalagi luka tembak yang bersarang di atas dada. Seumur hidup Angga dia menyimpan rasa sakitnya.


"Bertahanlah, aku berikan 50% jika kita akan berhasil. Sesuatu yang melewati memang bukan milik, tapi yang ditakdirkan tidak akan pernah melewati tujuannya." Tawa kecil Henrik terdengar, meminta maaf jika kata-katanya tidak menghibur.


Putra Hendrik yang selalu membuat istilah, apalagi mengajari Bundanya. Hidup tenang Hendrik hanya ada di ruangan penelitian jika di rumah hanya keributan.


"Wanita berisik memang memiliki tempat spesial, aku berpikir tempat ternyaman itu kuburan, namun ternyata paling nyaman bersama keluarga." Hendrik menyuntikkan sesuatu ke infus Angga agar bisa beristirahat total.


Senyuman Angga terlihat, terpikirkan dengan adiknya yang akan menikah tanpa satupun keluarga.


Lea pasti sangat kesepian karena tidak ada satupun dari pihak dia yang akan datang berkunjung.


Suasana ruangan Angga hening, Hendrik sudah melangkah pergi meninggalkan Angga yang sedang menangis.


"Maafkan Kakak Lea, kamu harus kuat karena akan ada lelaki baik yang menjaga kamu. Kamu jangan pernah menyerah Lea, hidup tidak selamanya sulit." Kesadaran Angga perlahan hilang, obat penghilang rasa sakit membawanya ke alam mimpi.


Ruangan semakin sunyi, dan terasa hampa karena tidak akan ada satupun orang yang akan berkunjung.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2