
Pagi-pagi Isel sudah main kejar-kejaran bersama Ura, dikarenakan Aira sedang sakit jadi dia menggantikan Ai mengurus bocah kecil yang sedang aktif.
"Isel kedua, dari pagi sudah membuat gempar." Diana geleng-geleng membiarkan keduanya repot.
Di depan duduk, Andra dan Andri hanya bisa terdiam melihat Ura yang ketawa membawa kayu mengejar Isel.
"Kenapa kamu yang mengejar Bunda?" Isel berteriak membuat setiap orang keluar rumah.
"Eh calah, ayo Buntel kejal Ura." Aura berlari kencang hanya menggunakan Pampers membawa kayu berputar-putar.
"Ini anak mirip tuyul berambut panjang." Isel duduk di samping Andra, meminum susu Andri karena kelelahan.
Langkah Dean terdengar memanggil Ura, meminta memakai baju karena anak perempuan tidak boleh hanya menggunakan Pampers, tidak pantas dilihat saudara lelaki.
"Ura asih ecil Abi," ujar Ura yang berlari mengelilingi Dean yang sudah rapi siap bekerja.
"Tidak ada batasan antara si kecil dan besar karena kita wajib menggunakan baju," balas Dean yang menggendong Ura, mengangkatnya ke atas untuk mandi.
"Ura idak cuma Buntel." Wajah cemberut terlihat menatap Isel yang masih ngos-ngosan.
"Bunda sayang, tidak boleh memanggil orang tua seperti itu." Dean megusap kepala Ura agar segera mandi bersama baby sitter.
Teriak Ura terdengar berlari lagi saat melihat Mira dan Mora keluar rumah membawa tembakan.
Tawa Ura terdengar heboh karena kejar-kejaran bersama Mora dan Mira yang menembakkan, kepala kembar beda rahim pusing ulah Aura yang mengacau semua rumah.
Aira keluar dari rumahnya geleng-geleng kepala melihat putrinya yang begitu bahagia bisa mengerjai anak orang, Ura jauh lebih nakal dari dirinya.
"Sudah sehat Kak Ai?"
"Mendingan, Ura tidak akan pernah berhenti jika baterei belum habis," Ai mual melihat Ura yang lari-larian.
"Kapan baterainya habis?"
"Lapar, mengantuk, kecapean, paling mengerikan jika sakit. Ura punya fisik yang kuat, jika tumbang berarti kena karma." Tawa Aira dan Isel terdengar tidak menyangka akan melihat anak perempuan yang super aktif.
Isel meminta Aira periksa ke dokter, jangan sampai kejadian Ura terulang kembali. Tidak disadari Ura sudah dalam kandungan selama lima bulan karena Ai tidak merasakan apapun.
Ai sudah berniat tes, tapi masih khawatir karena Ura masih terlalu kecil untuk memiliki adik.
__ADS_1
"Ura belum tiga tahun, masa iya punya adik lagi." Ai cemas jika benar hamil, punya satu saja hampir gila apalagi dua.
"Kak Ai jangan bicara begitu, belum tahu rasanya diposisi aku yang kehilangan disaat sangat diharapkan." Senyuman Isel terlihat menyalami tangan suaminya yang ingin pergi bekerja.
Tangan Isel hanya melambai saja menyapa Dean yang pergi bekerja. Para lelaki sudah pergi bekerja semua, anak-anak bersiap sekolah.
"Sel, aku juga tahu rasanya menunggu buah hati. Aura bukan anak yang manja, baik kepada Pipinya apalagi aku. Dia tidak pernah minta makan disuap sekalipun kakak Angga memintanya." Ai merasa ada jarak antara dirinya dan Aura, sikap Aura terlalu mandiri sejak dini.
Suara tangisan Aura terdengar, melangkah mendekati Isel langsung memeluknya karena kepalanya sakit dipukul Mira.
Tongkat saktinya juga dipatahkan oleh Mora, dua monster yang sangat kasar kepadanya. Tanpa rasa bersalah Mora dan Mira masuk mobil untuk pergi sekolah.
Empat anak lelaki berlari masuk mobil masing-masing karena takut dimarah, Ura hanya menatap mobil yang melaju pergi.
"Jangan marah kepada Kakak Mira dan Mora, mereka memang seperti itu orangnya." Isel mengusap air mata.
"Unggu Ura esar, tembak meleka berdua." Pelukan Aura erat meminta Isel yang memandikannya.
"Kenapa kamu mau mandi bersama Bunda?"
"Emh, Ura cendiri aja."
"Ya sudah mandi bersama Bunda, nanti ikut Mimi ke rumah sakit." Ai meminta Isel menemaninya.
Sikap cuek dan mandiri Ura, tidak berlaku jika tahu Mimi dan Pipinya terdengar luka apalagi sampai berdarah.
"Andra Andri ayo kita pergi sekolah." Juan memanggil dua putranya yang bergegas lari.
"Di mana Lea?" Ai berpikir Juan sudah pergi bekerja karena hari sudah hampir siang.
"Kurang sehat," balas Juan yang gemes melihat Ura yang sangat cantik.
Kedua tangan Ura mengusap wajah Juan sama-sama gemes, Ura melambaikan tangannya kepada Andri, tapi Andra diabaikan karena tidak bisa dijadikan teman.
"Ura uga mau cekolah." Wajah sedih terlihat karena tidak memiliki teman seumuran.
Lirikan mata Isel ke arah rumah Lea, tidak biasanya Lea bangun siang. Aira langsung berlari ke rumah Lea diikuti oleh Isel dan Ura yang belum pakai baju.
Suara Lea muntah-muntah terdengar, Ai mengusap punggung sahabatnya yang sedang tidak sehat.
__ADS_1
"Andra Andri bakal punya adik lagi." Isel melihat infus yang sudah Juan siapkan jika badan Istrinya semakin memburuk.
"Jangan menakuti Isel, Andra Andri masih kecil. Aku tidak menggunakan baby sister sehingga menjaga mereka ekstra."
"Lalu bagaimana dengan tuyul ini yang akan segera punya Adik, ini double double ekstra." Tawa Isel dan Ura terdengar karena Ura langsung menumpang mandi.
Lea dan Aira kaget, Isel memang sangat peka. Ucapannya tidak mungkin meleset, apalagi dia Dokter psikiater yang paham mimik wajah.
Suara Isel memandikan Ura terdengar, Lea dan Aira hanya melihat saja karena Isel masih muda, namun memiliki jiwa keibuan.
"Isel yang menanti buah hati, tapi diberikan ujian. Aku berharap dia segera memiliki momongan." Lea tersenyum melihat Ura yang bisa manja bersama Isel, sedangkan bersama Ai mirip kucing dan tikus.
"Bunda, ata Ura buta."
Isel menyiramkan air, menatap Ura yang menggigil. Kedua tangan Ura memeluk erat tidak suka dengan air.
"Berapa umur kamu Ura, berat sekali?" Isel menggendong si kecil yang giginya menggerutu.
"Celatus," jawab Ura yang memeluk erat.
Tangan Ura melambai, pamitan kepada Lea yang hanya mengangguk pelan. Ura meminta Miminya menunggu dirinya untuk pergi ke rumah sakit.
"Le, aku siap-siap dulu. Kamu juga ikut ke rumah sakit." Ai mengikuti Isel dari belakang pulang ke rumahnya.
Di dalam rumah, Aliya sudah bertengkar dengan asisten rumah tangganya karena mainan Ura berhamburan.
"Nenda, Ura mau ke lumah." Ura berjalan sambil ditutupi handuk.
"Mandi di mana anak satu ini, cepat pakai baju nanti ada yang lihat kue kamu bagaimana?" Al menatap tajam Ura yang masih saja jahil.
"Kue Ura disembunyikan di sini." Kepala Aura menunduk melihat kuenya di makan semut.
Teriakkan Aira dan Aliya terdengar secara bersamaan, Aura berulah lagi sampai satu rumah penuh semut.
"Nakalnya anak satu ini." Isel menggandeng tangan Ura masuk ke kamar untuk memakai baju.
"Bunda, dulu Bunda akal idak?"
"Tidak, Bunda sangat pendiam, baik dan anggun. Tidak pernah membuat masalah, biang masalah Mimi kamu," jawab Isel penuh kebohongan.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira