
Pintu rumah terbuka, Nenek menatap Imel yang tersenyum lebar kepadanya ingin meminta bantuan. Imel berlutut di kaki wanita tua yang usianya sudah 90 takut, tapi masih bisa beraktivitas meksipun menggunakan kursi roda.
Tamparan kuat mendarat, Imel memegang wajahnya melihat pengawal pribadi nenek menamparnya dengan sangat kuat.
"Kalian membohongi saya selama bertahun-tahun, katanya Imel kuliah di luar negeri kenyataannya dia sudah meninggal." Suara nenek meninggi.
Papa Imel membantu Putrinya berdiri, menjelaskan kepada Nenek soal kejadian yang menimpa Imel.
Tidak menyangka jika Nenek tua bisa mengetahui sebelum surat wasiat jatuh ke tangannya.
"Ini semua salah keluarga Rahendra Nek, dia yang menyebabkan Imel meninggal karena menggagalkan pembuatan obat ilegal." Papa mencoba membujuk dengan berbohong.
"Kamu pikir saya bodoh yang mudah percaya kebohongan kamu, anak ini hanyalah wanita miskin yang tidak layak menjadi penerus. Bahkan dia sangat lemah, kalah jauh dari saudara kembarnya yang memimpin perusahaan besar dengan artis internasional." Nenek meminta Imel keluar dari keluarganya dan menganggapnya hanya sebatas benalu.
Wanita lemah tidak diterima dalam keluarga Taher, bahkan perusahaan yang baru Imel miliki berada diujung tombak kehancuran.
"Nek, ini salah ...."
"Jangan menyalahkan keluarga Rahendra, mereka hanya terlihat saja seperti orang berpendidikan tinggi, baik dan berwibawa. Di dalam keluarga itu memiliki orang yang mempunyai kejeniusan di atas rata-rata. Kepintaran mereka berasal dari keluarga pembantaian puluhan tahun yang lalu. Dua anak kembar yang bersatu kembali." Kepala nenek menggeleng, mencari masalah dengan mereka sama saja menggali kuburan.
"Siapa mereka? Kevin akan menyingkirkannya Nek,"
"Menyingkirkan kamu bilang! bahkan kamu tidak tahu jika Aira selebriti terkenal itu Putrinya, dan gadis remaja di rumah sakit juga Putri kembaran satunya." Nenek membanting Gucci, tidak akan pernah dia memberikan sepeserpun hartanya kepada anak cucunya yang sangat lemah.
Imel berjalan mendekati Nenek, menyebut nama Diana dan Aliya. Mereka si kembar dalam keluarga Rahendra.
Nenek meminta Imel menutup mulutnya dan tidak menyebut nama, jika masih ingin hidup. Jika Nenek mampu menyingkirkan keduanya, sudah lama mereka mati sejak dalam kandungan psikopat.
Senyuman lebar Aira terlihat, melepaskan earphone di telinganya. Makanan masuk ke dalam mulutnya dengan sangat pelan.
"Apa aku bilang benar? nenek ini bukan orang sembarangan. Dia pasti tahu asal-usul keluarga psikopat." Ai menjilat pisau yang dia gunakan untuk memotong daging.
"Dia juga tahu jika aku psikopat kecil?" tawa Isel terdengar mengulum batu es sampai kedua pipinya mengembung.
Potongan daging masuk ke dalam mulut Ai, dia mengunyah dengan sangat pelan menikmati makanannya.
"Kak Ai, sekarang apa yang akan Kak Ai lakukan? perusahan itu tidak mungkin bisa diselamatkan." Batu es Isel keluar sampai jatuh ke piring Aira.
__ADS_1
"Yap, harus ada yang bertanggung jawab untuk itu. Dan orang itu nenek Taher, dia yang akan menghacurkan Imel dan Kevin juga Papanya." Ai memegang batu es memasukkan kembali ke dalam mulut Isel, langsung mencuci tangannya.
"Kak Aira jorok!" Isel langsung memukul meja sampai piring berjatuhan.
Ai menatap Isel tajam, mereka bukan hanya bayar makanan, tapi bayar barang yang rusak juga.
"Isel sialan! tidak bisa kamu berhati-hati?"
"Salah Kak Ai sendiri,"
Keduanya melangkah keluar dari restoran setelah mendengar percakapan di rumah keluarga Imel. Aira tahu jika sebagian orang pasti mengenalinya.
Alasan utama Aliya melarang Ai karena dia memiliki banyak privasi yang tidak boleh diketahui oleh publik, bukan soal perjalanan karier, tapi asal keluarga yang pernah ada di masa kelam.
Kabar soal perusahaan YN diselidiki kepolisian sudah terdengar, bahkan banyak barang yang sita secara paksa.
Beberapa selebriti dan artis juga dipanggil untuk melakukan pemeriksaan, Aira merasa tenang karena bisa menikmati suasana kacau.
"Kepala Imel pasti seperti benang kusut, merasa depresi hanya dengan satu kali serangan." Ai tertawa terpingkal-pingkal karena membayangkan wajah Imel merah menahan amarah.
"Wajah Imel juga ditampar, pasti sakit sekali." Tangan Isel memegang pipinya kesakitan.
"Siapa Kak? tapi Isel tidak penasaran. Dia seperti tidak mungkin berani macam-macam, hanya saja anak cucunya yang ingin menguji kemampuan." Kepala Isel menggeleng, kepalanya menoleh ke arah wanita yang sebelumnya menjadi pacar Dean.
Tangan Isel tergempal kuat, Aira memperlambat laju mobilnya. Melihat satu mobil di samping mereka.
"Bukannya dia pacar Dean?"
"Hanya mantan, kenapa wanita tidak ada yang setia? apa kurangnya Uncle?"
Ai mengerutkan keningnya, menujuk dirinya dan Isel yang juga seorang perempuan. Menjelekkan wanita tanpa sadar jenis kelamin diri sendiri.
"Sel, bagaimana jika aku dan Dean menikah?"
"Baguslah, berarti Blackat untuk aku." Senyuman Isel terlihat berdoa dengan sangat keras berharap Ai dan Black putus.
"Bagaimana jika aku dan Black menikah?"
__ADS_1
Helaan napas Isel terdengar, wajahnya langsung sedih memikirkan nasib Uncle kesayangan yang pasti akan semakin gila bekerja juga hilang kebahagiaan.
"Aku yang akan menikahinya?"
Mobil Ai mengerem dadakan, menatap Isel yang hanya nyengir kuda. Tidak merasa berdosa atas ucapan yang mengatakan jika ingin menikahi Uncle sendiri.
"Gila kamu!"
"Makanya Kak Ai harus bersama dengan Uncle, dan berikan Black kepada Isel,"
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? dosa Isel,"
"Kenapa dosa? dia bukan Uncle kandung Isel. Meksipun tidak pernah dikatakan Isel tahu siapa Mama dan bagaimana masa lalunya, dan bagaimana baiknya keluarga Kakek dan Nenda Anggun." Kepala Isel tertuduk, memainkan kukunya yang diwarnai.
Aira juga tidak tahu jika Dean bukan Uncle kandung, meksipun terlihat membingungkan. Ai tidak pernah bertanya alasan usia Dean dan Diana terpaut sangat jauh.
Ternyata bisikkan tetangga benar adanya, Isel yang masih kecil juga mengetahuinya soal hubungan keluarga yang rumit.
"Apa lagi yang kamu ketahui?"
"Uncle Genta dan Aunty Shin juga bukan keluarga kita, Papa anak tunggal sedangkan yang lainnya hanya anak angkat. Isel salut dengan keluarga kita yang menerima satu sama lain." Meksipun kepala Isel pusing, dia takut jodohkan dengan sepupu lainnya.
Tawa Aira terdengar, merasa konyol dengan ketakutan Isel. Sikapnya yang tidak normal membuat kedua orangtuanya takut dengan masa depan Isel.
"Sepertinya memang hanya Dean yang mampu mengendalikan kamu, maka nikahi saja Dean." Ai tersenyum melihat Isel yang kesal menatapnya.
Berurusan dengan Dean dia bisa menjadi burung dalam sangkar yang tidak punya kebebasan.
"Aira! apa yang kamu lakukan? Lea sedang berduka, tapi kamu mengacau perusahaan YN?" Dean memukul pintu mobil.
"Jika ada Dean rasanya kehidupan tenang langsung buyar. Kerjaannya marah terus,"
"Makanya Isel takut dengannya, Isel bernapas saja salah dimatanya." Isel keluar melihat Dean yang menatapnya tajam.
Tangan Dean tergempal, kesal melihat Aira yang tidak mengakui jika dirinya terlibat dengan pemberitaan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira