SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
OBAT PENUNDA


__ADS_3

Selesai mandi Dean meminta Isel duduk, ada hal penting yang ingin dirinya bicarakan. Tidak paham baik atau buruk, tapi Dean membutuhkan pendapat Isel.


"Kenapa tidak ada darah ya Uncle?"


"Ada, tadi malam. Jangan dibahas lagi, ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Dean meminta Isel duduk di sofa memintanya sarapan terlebih dahulu.


"Uncle bicara saja, Isel akan menjawab jika ada jawabannya." Isel menatap Dean sambil mulutnya penuh mencoba menyimak ucapan Dean.


"Kamu jangan salah paham karena kita tidak akan berpisah, tidak peduli apapun alasan kecuali maut. Itu janji aku ke kamu sebagai suami, sekalipun kamu meminta pergi, tetap aku pertahankan." Dean bicara sangat serius karena apa yang dia inginkan demi kebaikan Isel.


Kepala Isel mengangguk, seharusnya dirinya yang mengatakan tidak akan melepaskan karena memang faktanya Isel tidak akan rela.


Mulut Isel mengunyah makanan dengan lahap, fokus menyimak ucapan Dean yang melarangnya untuk pergi ke bar dan klub apalagi pesta karena dia bukan gadis lagi, tapi istri.


Dean ingin Isel memiliki pikiran baik, dan fokus dengan kuliahnya. Sudah menjadi perjanjian keduanya jika Isel harus memiliki banyak pengalaman.


"Sel, aku ingin kita menunda memiliki momongan, bukan karena aku tidak menginginkannya, tapi kamu masih terlalu muda. Nikmati masa muda kamu, dua tahun lagi baru kita mempersiapkan diri menjadi orang tua, setidaknya usia kamu sudah matang." Dean menatap Isel yang nampak santai saja mengangguk pelan.


Senyuman Isel terlihat mengiyakan keputusan suaminya karena Isel tahu Dean selalu mengutamakan dirinya, takut Isel stres karena usianya masih muda.


Di dalam hati sebenarnya Isel sedih, dia ingin menikah muda menjadi ibu muda sehingga bisa berteman dengan anaknya. Menjadi Mama juga bisa menjadi sahabat.


"Kamu tidak ingin protes, ini harus keputusan berdua Sel?"


"Jika demi kebaikan, kenapa menolak Uncle? Isel hanya perlu menunggu dua tahun?" Isel menujukkan dua jari sambil tersenyum.


"Kamu yakin, jika menolak cari solusi lain karena aku takut ...."


"Isel paham, Uncle tidak ingin kehilangan Isel hanya demi mempertaruhkan nyawa demi anak karena usia Isel belum matang." Isel memegang wajah Dean menyetujui keputusan Dean.


Mulut Dean tergerak namun tidak megeluarkan suara apapun, Isel paham apa yang dipikirkan Dean.


"Uncle ingin Isel meminum obat penunda hamil? tanya Isel sambil tertawa.


"Tidak perlu, aku tidak nyaman." Dean hanya akan menghentikan hubungan intim mereka daripada kebobolan.


Bibir Isel manyun, dia tidak ingin berhenti. Lebih baik Isel minum obat daripada menjaga jarak.


"Uncle harus keluar untuk membelinya, ayo cepat sebelum proses pembuahan?"


"Isel yakin?"

__ADS_1


Kepala Isel mengangguk, membiarkan Dean pergi untuk membeli obat, saat pintu tertutup air mata Isel menetes karena dia harus membuang harapannya demi bisa bersama Dean.


Jika suaminya tidak siap, bagaimana mungkin bisa Isel mengandung tanpa sepengetahuan Dean.


Di depan pintu Dean menarik napas panjang karena tidak punya pilihan, Dean tidak berani melihat anak usia sembilan belas tahun hamil.


Pintu rumah terbuka, Dean langsung teriak kaget karena Mommy dan Daddy duduk di depan apartemennya.


"Mommy, Daddy kenapa di luar?" Dean menutup mulutnya karena dirinya mengabaikan bel.


"Keterlaluan kamu Dean, ada di rumah pintu tidak dibuka." Mommy Anggun memukuli Dean kesal karena hampir satu jam menunggu dan ponsel keduanya mati.


Mendengar suara ribut, Isel langsung keluar melihat suaminya dipukul. Isel juga kaget karena Nenda kesayangannya datang.


"Nenda, kangen." Isel merentangkan tangannya memeluk erat Mommy Anggun.


Daddy Dimas juga memeluk Isel erat, Dean hanya bisa diam karena dirinya tidak dirindukan sama sekali bahkan dianggap tidak ada.


Senyuman Mommy terlihat menatap rambut Dean dan Isel masih basah, langsung paham kenapa pintu lama terbuka.


"Dad, Dean keluar dulu beli makan soalnya kita hanya sarapan pagi saja. Ini baru ingin beli makan siang." Dean langsung pamit keluar.


Anggun mencubit perut suaminya yang sudah tua masih saja tidak peka, hanya karena menunggu satu jam saja sudah sinis.


Tawa Isel terdengar bercerita bersama Mommy Daddy yang ada di luar negeri, mendengar kabar soal Hairin langsung terbang selama lima jam dan besok harus balik lagi.


"Kalian baik-baik saja di sini?"


"Emh, meksipun kemarin sempat tegang. Isel juga tidak menyangka jika Irin beda orang." Isel tidak menceritakan detail karena tidak ingin kedua orang tua mereka khawatir.


Tidak berapa lama Dean sudah balik lagi, meminta Isel menyiapkan makanan agar mereka bisa makan siang bersama.


"Berikan kepada Mommy Dean," pinta mommy.


"Tidak Nenda, tetap di sini saja. Isel sekarang sudah bisa masak, meksipun Uncle selalu marah, tapi makannya tetap lahap." Isel ke dapur bersama Dean.


Tangan Isel menadah, meminta apa yang Dean inginkan. Isel juga tidak ingin membuat suaminya kecewa jika sampai hamil.


Dean memberitakan obat, Isel langsung mengupas memasukkan ke dalam mulutnya di depan Dean.


Mata Dean terpejam, menarik napas panjang langsung ke meja makan. Isel masih berdiri melamun, menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sel ambil piringnya," pinta Dean.


Isel langsung bergegas mengambil piring, menyusunnya di tempat makan. Dean menuangkan lauk yang dia beli.


"Uncle, Isel tidak suka buah pir."


"Bukan buat kamu," balas Dean yang mengunyah buah pir.


Mommy memukul punggung Dean yang menjahili Isel, mengambil semua buah pir agar di letakkan di dalam lemari pendingin.


Senyuman Isel terlihat, dia tidak suka melihat buah pir, dan lebih suka ada buah strawberry yang merah merona.


"Makanan apa ini Dean? makanan ini tidak cocok untuk perut Daddy yang sudah tua." Dimas menggelengkan kepalanya tidak suka dengan lauk yang Dean beli.


"Bagaimana jika kita makan ramen?" Isel menatap Daddy yang memberikan jempol.


"Tidak boleh!" Mommy dan Dean melarang secara bersamaan.


Terpaksa Dimas mengambil makanan yang ada, begitupun dengan Isel yang tidak bisa membantah jika Mommy yang melarang.


"Siapa yang ingin masaknya?"


"Isel Mommy Nenda, Isel mau." Senyuman Isel terlihat sampai lompat jauh kesenangan.


Kepala Dean menggeleng, tidak mengizinkan mommy jika tidak ingin melihat dapurnya hancur.


Mommy tetap membiarkan Isel masak ala dirinya, dan yang lainnya hanya menonton panik.


"Daddy Kakek ingin berapa telur?" Isel menunjukkan dua telur di tangan dan jatuh satu.


"Sel, hati-hati," pinta Dean.


Mommy Anggun khawatir melihat cara Isel apalagi banyak barang jatuh dan berhamburan. Panik jika sampai melukai tubuh Isel.


"Aliya kedua, lebih baik tidak masuk dapur." Dimas geleng-geleng rasa laparnya langsung hilang.


Kepala Dean geleng-geleng, sudah dirinya peringatan jika hasilnya memang enak, namun dapur hancur.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2