
Mata Isel memincing ke sebelah tempat tidurnya karena Dean belum juga kembali, sudah tiga hari Dean jarang di rumah sibuk menyelesaikan korban dari Bian.
"Kenapa Bian harus membuat suamiku sengsara, ini sudah jam satu dini hari masih saja belum pulang." Isel beranjak dari tempat duduknya melangkah keluar setelah melihat Hairin duduk sendirian di ruang tamu.
Senyuman Hairin terlihat menatap Isel yang mengambil air minum, duduk di samping Irin yang sedang mengepal tangannya.
"Kak Irin memikirkan apa?"
"Sel, jika kamu memiliki saudara kembar, tapi saudara kamu jahat apa yang akan kamu lakukan?"
"Pertama membawa dia ke jalan yang benar, jika gagal maka itu pilihan dia. Meksipun kita berada di rahim yang sama, nasib, rezeki, jodoh, pikiran, karakter tidak mungkin sama. Orang jahat maka dia harus dihukum." Isel paham jika Hairin tidak ingin adiknya berada di jalan yang salah, namun membawa ke jalan yang baik harus ada niat tersendiri dari orangnya tidak bisa dipaksakan.
Kepala Hairin mengangguk, Irin tidak tahu pasti masa kecilnya. Selama ini dia tidak pernah diceritakan masa kecilnya, hanya saja saat melihat Lika dan Bian bicara Hairin baru tahu jika papanya mencoba melindungi dirinya.
"Bagaimana masa lalu kalian?"
"Keluarga kami dibantai menyisakan aku dan Alika yang bersembunyi, saat kepolisian datang Alika tetap berada di tempat persembunyiannya sampai akhirnya Bian membawanya." Irin tidak tahu saat itu mereka berusaha berapa tahun, dirinya tidak bisa ingat apapun.
Kepolisian yang datang saat itu Yandi, dia membawa Hairin yang sedang terluka ke rumah sakit, merawatnya hingga hilang ketakutan barulah dibawa pulang dan diangkat anak.
"Sel, aku tidak niat menyakiti siapapun. Aku dan Dean menyelidiki kasus Bian, tapi tanpa sengaja melihat Lika. Aku pikir dia istrinya Bian, tapi ternyata dia menipu aku." Kedua tangan Hairin meremas rambutnya.
Tawa Isel terdengar, dia tidak kasihan sama sekali dengan takdir Hairin. Jika dia memutuskan menjadi orang baik, maka harus siap disakiti, dikhianati, ditipu bahkan selalu dalam masalah. Orang baik memiliki banyak ujiannya.
"Kenapa Sel?"
"Coba Kak Irin seperti Isel, siapa yang menyakiti bantai, tapi jika orang baik kepadaku mungkin aku yang akan tunduk kepadanya. Isel yakin orang baik di dunia ini banyak, tapi yang hatinya tulus sendikit. Isel wanita baik, tapi hati Isel tidak seutuhnya tulus." Isel meminta Hairin tidak menyesal apa yang terjadi, dia hanya perlu memperbaiki apa yang sudah ada di depan matanya.
Pintu apartemen terbuka, Isel langsung berdiri karena suaminya pulang. Kepala Irin geleng-geleng melihat Isel yang nampak senang.
"Uncle," panggil Isel langsung memeluk Dean.
__ADS_1
Tangan Dean mendorong kepala Isel, memintanya mundur karena Dean seharian dari luar tidak ingin Isel terkena virus yang dia bawa.
"Masuk Uncle Aunty, Dean ke kamar dulu." Dean menatap Dimas dan Helen yang baru tiba.
Tangisan Hairin langsung terdengar, menatap kedua orangtuanya yang juga terkejut melihat kondisi wajah Irin.
"Aunty, dia Hairin yang asli." Isel menatap mata Helen yang berkaca-kaca.
Yandi memeluk erat Hairin, mengusap kepalanya lembut agar berhenti menangis karena papanya sudah datang.
"Kenapa kamu melakukan ini Rin?" Yandi mengusap kepala Putrinya penuh kasih sayang.
"Mama maafkan Hairin." Irin berlutut di kaki Helen, bersujud di kaki mamanya karena dirinya sudah membuat malu keluarga.
Air mata Helen menetes, memegang pundak putrinya memeluk erat karena Helen yang membesarkan Irin hingga menjadi gadis dewasa.
Hatinya sangat terluka melihat perubahan Putrinya, sejak kecil dibesarkan dicintainya tidak dibedakan dengan kakak adiknya.
Hatinya tersayat melihat wajah cantik anaknya hancur, apalagi yang melakukannya saudara kandung putrinya.
"Jangan nangis sayang, nanti kita obati wajah Irin." Helen mengusap kepala Irin lembut.
Kepala Isel terangkat ke atas mencoba menahan air matanya tidak ingin menunjukkan kesedihan karena tidak ada untungnya dirinya menangis.
"Isel, di mana baju aku!" teriakan Dean terdengar sampai keluar kamar.
"Baju, matilah aku bajunya aku cuci dan masih di luar rumah." Isel menatap Helen yang langsung menahan tawa melihat tingkah laku Isel yang mirip mamanya.
"Kamu cuci semua baju Dean, terus dijemur sampai tengah malam di luar?" Helen geleng-geleng sungguh luar biasa tingkah laku Isel.
Senyuman Isel lebar langsung lari kencang ke dalam kamar karena seharian di rumah Isel melakukan pekerjaan rumah, tapi dia lupa jika tidak menyisakan baju Dean sama sekali.
__ADS_1
Dimas menggenggam tangan Hairin, meminta duduk di sofa karena ada hal penting yang ingin Yandi katakan.
"Papa tahu kamu menyukai Dean, tapi saat ini Dean sudah menikah dengan Isel. Memang sulit dimengerti, tapi hubungan Isel dan Dean tidak sedarah." Penuh kelembutan Yandi ingin putrinya tidak mencintai lelaki yang sudah memiliki istri.
"Iya Pa, Dean sudah mengatakannya. Irin tidak akan mengangumi lelaki yang sudah beristri," ucap Irin yang tulus melepaskan perasaannya.
Senyuman Yandi terlihat, memeluk Putrinya yang akhirnya kembali, Hairin yang mereka kenal memiliki hati yang begitu tulus.
"Pa, Irin ingin pulang dan bertanggung jawab atas kekacauan yang diperbuat oleh Alika. Papa pasti juga terkena imbasnya karena Hairin." Air mata Irin menetes meminta maaf karena sudah mengecewakan.
Kepala Yandi menggeleng, Hairin tidak harus bertanggung jawab karena sejak kemunculan Alika sudah Yandi ketahui. Wajah boleh sama, tapi perasaan seorang ayah tidak mungkin salah.
Yandi meminta tim khusus mencari keberadaan Hairin, meminta bantuan Dean untuk mengejar Bian karena sejak awal kasus Bian ditangani oleh Hairin dan Dean, tapi secara tiba-tiba karakter Hairin berubah.
"Papa tahu jika Hairin ada kembaran?"
"Ya Papa tahu, itulah kenapa kita langsung mencari cara untuk tetap mengawasi Lika. Kejadian yang tidak terduga, ada orang yang menyerang Alika hingga kejahatan terungkap." Yandi terpaksa harus putar cara agar rencana awal tidak gagal.
"Dean mencari aku karena permintaan Papa, berarti Isel salah paham." Tawa Hairin terdengar memeluk Papanya erat.
"Jangan khawatirkan Isel, dia tidak beda jauh sama mamanya. Meksipun tidak mengenal Diana dekat, tapi aku tahu Diana sejak dulu jahat, namun hatinya baik. Begitupun dengan Isel, meksipun ucapannya kasar, dia tidak bersungguh-sungguh menyakiti." Helen mengusap kepala Hairin lembut.
Suara Dean marah-marah terdengar, Isel diusir keluar dari kamar membuat Yandi tertawa karena Dean sangat mirip dengan papanya jika sudah mengoceh urusan panjang.
"Uncle ingin makan apa, Isel buatkan makan malam," panggil Isel dari depan pintu.
"Jangan masak, satu dapur kamu hancurkan." Dean meminta Isel cukup diam.
Tangan Isel garuk-garuk kepala, dia memang tidak punya bakat menjadi ibu rumah tangga, semua perkejaan tidak ada yang beres.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira