SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERSAING SEHAT


__ADS_3

Suara langka kaki Diana berlarian terdengar, merasa cemas dengan Mommynya yang sudah menangis histeris meminta Diana cepat datang.


"Mom, sudah jangan menangis. Angga akan baik-baik saja." Diana memeluk mommy Anggun yang terus menangis.


"Daddy, di mana Angga sekarang?" Hendrik sudah menduga jika Angga akan kembali masuk rumah sakit karena jika sampai lukanya pendarahan bisa menimbulkan rasa sakit yang lebih besar.


Dimas menujukkan ruangan, Angga sudah tidak sadar sekitar satu jam, tidak ada yang bisa dokter lakukan karena mereka tidak bisa bertindak jika bukan dokter yang bertanggung jawab dengan opersi sebelumnya.


"Mom, tidak akan terjadi apapun, hanya ada pendarahan saja." Dokter Hendrik mencoba menggunakan agar Anggun berhenti menangis.


Diana mengusap punggung Dean yang sedang menatap kakaknya di dalam ruangan rawat, wajah Dean juga terlihat sangat sedih.


"Sabar, Blackat pasti baik-baik saja kita coba hentikan dulu pendarahannya." Diana meminta bantuan rumah sakit agar dia dan Hendrik bisa segera mendapatkan ruangan operasi terbaik.


"Kak Di, Dia saudara kandung Dean, kita pertama kalinya makan bersama, bahkan makan juga tidak sampai habis, dan Kakak sudah dirawat lagi. Kapan penderitaan dia berakhir Kak?"


Ekspresi Dean nampak kaget, melihat ke arah Mommy dan Daddy-nya menanyakan maksud ucapan Dean. Diana mengenal Black, tapi tidak mungkin mereka bersaudara.


Daddy mengusap kepala Diana, membenarkan ucapan Dean. Banyak hal yang terjadi di masa lalu, Angga korban yang paling tersakiti.


"Nak, selamatkan adik kamu. Jika kamu sangat menyayangi Dean, izinkan Angga juga mendapatkan kasih sayang yang sama. Bawa dia keluar dari ruangan operasi dalam keadaan baik-baik saja." Mommy memeluk erat Diana yang langsung menangis memeluk Mommynya.


Ruangan operasi sudah siap, Angga dibawa ke ruangan. Daddy menyentuh kening meminta anaknya kuat sekali lagi agar bisa merasakan keluarga yang utuh.


"Kak, Dean tunggu di sini ya, cepat keluar dan bangun." Air mata Dean menetes memeluk Mommynya yang meneteskan air mata.


Di dalam ruangan operasi, Diana hanya memandangi Hendrik yang membuka kembali jahitan. Kondisi Angga stabil, dia sedang tidur karena bius.


Diana menggelengkan kepalanya sungguh mengangumi kekuasaan tuhan, manusia yang mendapatkan tembakan di dada namun tidak merusak fungsi jantung.


"Luar biasakan Di, pemeriksaan awal kamu pasti ada kerusakan dibagian jantung?"


"Ya, awalnya aku berpikir anak ini tidak mungkin hidup, jantung bermasalah. Ada peluru atau mungkin bekas yang masih tertanam di dalamnya." Diana berhasil menghentikan pendarahan.


"Aku harap setelah ini kamu tidak merasakan sakit lagi, semangat berkarir lagi Black. Banyak hal yang tidak terduga di dunia ini ya Di, seperti putraku yang mengidolakan Blackat, lupa jika ayahnya yang memberikan makan." Tawa Hendrik terdengar merasa lucu dengan putranya.

__ADS_1


Kepala Diana mengangguk, dia juga baru merasakan yang namanya keajaiban. Dokter bukan Tuhan, namun banyak hal yang diluar nalar dokter bisa terjadi.


"Kapan dia akan bangun Kak?"


"Mungkin besok pagi,"


"Lama sekali, apa ada kemungkinan dia pendarahan lagi?"


Tawa kecil Hendrik terdengar, jika sampai terbentur lagi pasti akan berdarah lagi, Black harus istirahat total sekitar satu tahun, dia tidak bisa bermain film laga sebelum sembuh total jika tidak maka dia harus siap luka lagi.


Diana menatap sedih, padahal sudah dua tahun menantikan Black untuk kemabli sekarang harus sabar lagi menunggu satu tahun.


Pintu ruangan terbuka, Diana menatap kedua orangtuanya yang langsung berdiri dengan perasaan campur aduk.


"Bagaimana Kak?"


"Pendarahannya sudah dihentikan kalian istirahat dan makan dulu soalnya Angga masih lama bangunnya." Diana merangkul Mommynya yang pasti khawatir sekali.


Hati Mommy Anggun sangat lembut, dia bisa dengan mudah mencintai anak siapapun meskipun bukan darah dagingnya. Selama bisa membahagiakan maka Anggun juga bahagia.


***


Bukan hanya Mommy dan Daddy, adiknya juga ada disisinya menunggu Angga untuk bangun.


Air mata Angga menetes kembali, matanya terpejam. Dia merasa mimpi indah, biasanya saat bangun hanya ada ruangan kosong tanpa ada satupun orang yang mendampinginya.


"Angga, apa yang kamu rasakan Nak?" Mommy mengusap rambut, menepis air mata.


"Diana, coba cek lagi," pinta Daddy yang khawatir karena mata Angga terpejam kembali.


Cepat Diana mengecek kembali, kondisi Angga stabil mungkin dia hanya sedang mencerna pikirannya. Ingin menangis histeris, tapi malu karena dia bukan anak kecil lagi.


"Kamu ingin menangis tidak ada yang melarang, mulai hari ini kita tidak terima kamu lagi di rumah sakit." Diana berbisik pelan memanggil Angga dengan sebutan Adik.


Angga tersenyum kecil, namun masih tetap memejamkan matanya. Mendengar suara yang semakin ramai apalagi Anggun melakukan panggilan bersama Aliya dan Altha.

__ADS_1


Mereka sangat mencemaskan Angga saat tahu dia masuk rumah sakit kembali. Melihatnya bangun sesuatu yang sungguh luar biasa.


Tidak ada yang memaksa Angga untuk bicara, membiarkannya istirahat. Hanya Dean yang menemaninya sambil sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Dean, di mana kedua orag tua kamu? Kenapa kamu sendirian?"


"Tidak tahu, Kak Black negara ini tidak aman. Kita harus segera kembali. Lea sudah berusaha menghentikan pemberitaan bahkan menuntut beberapa media yang tidak berhenti menyebarkan rumor tidak sedap." Dean pusing karena baik Lea maupun Aira merasa di posisi sulit mereka selalu dikejar oleh wartawan hanya untuk mendapatkan keterangan soal kondisi Black dan alasannya berpura-pura mati.


"Minta perusahaan diam, tidak harus angkat bicara. Semakin mereka meladeni, tidak ada habisnya." Angga berusaha untuk berdiri, perlahan mengambil air minun di gelas.


Dean mengambilkan minum, menyerahkan kepada kakaknya, menunjukkan pemberitaan yang simpang siur.


"Boleh aku meminjam ponsel,"


Angga masuk ke akun pribadinya, meminta penggemarnya tidak meladeni oknum yang terus memojokkan. Mereka akan terus berbicara hal buruk soal Angga.


Tanpa ragu Angga memotret dirinya yang sedang ada di rumah sakit. Hasil pemeriksaan juga di upload agar keadaan tenang.


"Minta tim perusahaan mempublikasikan semua hasil laporan aku selama beberapa tahun ini, hanya itu cara menghentikan rumor buruk." Kepala Angga tertunduk, merasa tidak enak dengan Juan dan Lea yang baru saja menikah namun sibuk dengan pekerjaannya.


Dean tersenyum, ada alasan lain Angga ingin segala pusat perhatian ada padanya. Tidak ingin banyak media yang menyudutkan Aira yang saat Angga hilang berstatus kekasih Black.


Siapapun boleh menyerang, tapi Angga tidak akan diam jika Aira yang diserang dengan banyak pertanyaan. Dia tidak salah dan tidak tahu apapun.


"Kak Black mengkhawatirkan Aira, dia tidak akan terluka. Khawatirkan diri sendiri saja." Dean mengambil gelas yang dipegang erat.


"Dean, aku tidak bermaksud mengkhawatirkan tunangan kamu,"


"Tunangan aku, tapi dia kekasih Kak Black. Kenapa kita terlibat cinta segitiga." Tawa Dean terdengar merasa lucu dengan kakaknya.


Dean sengaja menggoda Angga, jika dia tidak akan melepaskan Aira. Jika Angga memang seorang lelaki, dia harus berani bersaing meksipun saudara kandungnya sendiri menjadi lawan.


"Bersaing itu mudah, tapi restu yang sulit. Aku tidak akan menyakiti kamu dan Aira,"


"Maka aku yang akan menyakiti kamu,"

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2