SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PENGAKUAN


__ADS_3

Melihat kondisi Lea mengejutkan Juna karena detak jantungnya kembali normal, kondisinya stabil seperti sedang tidur.


"Siapa yang masuk ruangan sini?"


"Tuan muda Leondra," jawab perawat yang mengetahui jika Ian masuk.


Kening Arjuna berkerut, keluar dari ruangan menemui Diana yang sedang mencari tahu solusi untuk menangani Lea.


"Dokter Diana, apa Ian Leondra sudah kembali?"


Diana menganggukkan kepalanya, Putranya baru kembali belum sempat menyapa keluarga karena kepulangannya juga dadakan.


Mendengar penjelasan Juna soal kondisi Lea juga mengejutkan Diana, Ian sedang melakukan penelitian sebuah obat kemungkinan Lea menjadi pasien uji coba.


"Apa yang dia pikirkan?" Diana menghubungi Ian untuk datang ke ruangannya dan menjelaskan apa yang dia lakukan.


Tidak lama Ian berdiri tegak menatap Mamanya yang melihat obat penenang yang Ian berikan. Obat yang baru tim kembangkan untuk luka dalam tubuh.


Ada beberapa pasien dengan cedera berat setelah mengalami jatuh dari ketinggian, dia berhasil selamat setelah tim menyuntikan untuk mengatur detak jantung stabil.


"Obat ini sudah diuji coba?" tatapan Juna tajam ke arah remaja yang selalu mengikuti kelas penelitian di rumah sakit besar Kakeknya.


"Iya, pertama kepada seorang kuli. Dia koma, dan bagian dalam tubuhnya rusak total. Sayangnya uji coba pertama gagal karena dia sudah mati otak. Keduanya kepada seorang Putri raja yang terjatuh dari perbukitan kepalanya terbentur dan dokter memvonis tidak mungkin selamat, tapi tim berhasil menyelamatkannya." Obat yang berhasil diciptakan mengalami kendala, selain proses lama juga efek samping yang besar.


Tidak semua orang bisa menggunakannya, apalagi kondisi tubuh yang lemah. Otak mengendalikan segalanya, jika berhenti berfungsi maka semuanya berakhir.


"Kasus Lea juga bisa kita katakan koma, dan cukup memungkinkan untuk mati otak. Kenapa kamu begitu yakin dia bisa menerima obat keras yang kamu ciptakan sendiri?"


"Itu suntikan terakhir dari laboratorium, Putri nenek Taher mencurinya namun tetap gagal meyelamatkan Ibunya karena takdir berkehendak lain." Ian belum sempat mengembalikan sehingga membawanya dan memberikan kepada Lea.


Saat pertama bertemu Lea, Ian melihat seorang wanita yang keras juga kekurangan kasih sayang. Dia bahkan begitu percaya diri jika dirinya akan menang juga memiliki keluarganya kembali.

__ADS_1


"Seseorang yang memiliki keyakinan untuk hidup, maka dia akan bertahan. Namun jika seseorang memiliki niat hidup saja kecil, maka dia tidak ingin berjuang. Ian percaya Kakak Lea akan bangun." Senyuman Ian terlihat, memeluk Maminya meminta bantuan kepada Mamanya untuk mengatakan kepada kakeknya jika Ian tidak bermaksud menyalagunakan hasil penelitian yang sedang dikembangkan.


Senyuman Diana terlihat, memeluk putranya yang memiliki sikap seperti dirinya hanya saja Ian memiliki kelembutan dibalik sikapnya yang dingin dan kasar.


"Baiklah, Abang Ian dan Kakak Gion akan dihukum. Mama tidak mengizinkan kalian pergi jauh lagi. Kalian harus sekolah normal, dan tidak ada sekolah di luar negeri lagi." Diana tersenyum manis, kemampuan kedua putranya terlalu berbahaya jika terus diasah.


Wajah Ian cemberut, tapi tidak berani membantah ucapan Mamanya. Apapun yang mamanya putuskan maka tidak bisa mereka ubah.


"Ma, Kak Gion berkencan dengan wanita lima tahun lebih tua dari dia tidak mendapatkan teguran?"


"Benarkah! Mama tidak tahu, dan akan segera menghukumnya." Diana menggelengkan kepalanya, Putra pertama selalu berganti pacar bahkan tanpa memandang usia.


Di depan ruangan Lea, Juan berjalan masuk meskipun hanya bisa duduk di kursi roda. Melihat Lea terluka parah membuat hatinya sangat sakit.


Aira masuk melihat kakaknya yang masih menangis menyentuh wajah Lea. Harapan Juan bisa melihat Lea bangun dan tersenyum kepadanya.


"Kak, dia akan bangun. Jangan terlihat sedih seperti itu, Ai juga sedih." Air mata Aira menetes tidak tega melihat kondisi Juan dan Lea yang sama-sama berjuang untuk sehat kembali.


"Lea, bangunlah. Jika kamu tidak bangun, maka aku akan membunuh dia." Senyuman Aira terlihat berjalan keluar ruangan.


Mata Ai melihat Dean yang sedang membuka kain penutup lukanya, berjalan mendekat memperhatikan wajah Dean yang sangat dingin.


"Di mana Imel sekarang?"


"Ada di tempat yang jauh, aku yang akan menangkapnya." Senyuman Dean terlihat menatap wajah cantik Aira yang tersenyum manis.


"Ikut." Mata Ai membulat besar, dia ingin melihat Imel secara langsung.


Kepala Dean menggeleng, dia tahu jika Aira hanya akan melakukan kekerasan. Melihat kondisi Lea akan memperburuk keadaan, emosi Aira pasti tidak stabil.


Dean berjalan keluar rumah sakit, diikuti oleh Aira yang memaksa untuk tetap ikut. Dia akan membuat Imel merasakan apa yang Lea derita.

__ADS_1


"Aira! kamu mengerti tidak jika emosi tidak akan menyelesaikan masalah, keadaan akan semakin panas jika kamu hanya menggunakan otot." Teriakan Dean terdengar, memohon agar Aira berhenti mengikutinya.


"Aku bisa menemukan dia tanpa kamu Dean." Senyuman sinis Ai terlihat, melangkah ingin pergi.


Dean menahan pergelangan tangan Aira, mendorongnya ke arah mobil. Tubuh Ai terhimpit.


"Kenapa kamu sulit sekali menuruti aku? apa kamu paham yang aku lakukan demi kebaikan kamu?"


Kedua tangan Aira mendorong Dean kuat, dia tidak peduli dengan bahaya. Ai bisa menjaga dirinya sendiri, dan tidak meminta Dean melindunginya.


"Kita pergi dengan jalan yang berbeda," ucap Ai lantang.


"Aira! sekali ini saja tolong berhenti. Imel sangat berbahaya, aku tidak ingin dia menyakiti kamu. Tetap diam di sini Ai." Cengkraman tangan Dean kuat, matanya terlihat memohon.


"Tidak akan, aku ingin memberikan dia pelajaran. Lepaskan aku Dean, jangan sampai ada orang yang mengenali aku." Ai menarik tangannya, tapi masih digenggam kuat.


"Aku mencintai kamu Ai, dan tidak ingin wanita yang aku cintai terluka." Kepala Dean tertunduk, mengungkapkan perasaannya yang tulus mencintai Aira dan tidak ingin sedikitpun Ai terluka.


Pengakuan Dean mungkin akan membuat keduanya canggung, tapi Dean tidak menyesalinya. Ai harus tahu jika Dean tidak pernah memiliki kekasih, dia hanya berbohong agar perasaan cintanya bisa disembunyikan.


"Aku tulus mencintai kamu, aku ingin kita bersama ...."


"Maaf Dean, Ai yakin kamu tahu jika aku tidak mencintai. Ada lelaki lain yang aku cintai, keluarga bahagia aku harapan ada padanya, bukan kamu. Pengakuan ini semoga tidak membuat hubungan renggang, dan Ai juga tidak ingin kamu mengharapkan hubungan kita bersatu." Ai melepaskan genggaman tangan Dean, meminta maaf karena perasaan Dean tidak terbalaskan.


"Apa lelaki itu Black?"


Kepala Aira mengangguk, Ai mengakui jika dia mencintai Blackat dan akan memperjuangkan hubungannya bukan hanya sekedar hubungan saling menguntungkan, tapi saling mencintai.


Dari balik mobil Black mendengar pembicaraan keduanya, hanya bisa geleng-geleng kepala karena Aira tidak boleh mencintainya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2