SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BEBAN PIKIR


__ADS_3

Sampai jam tiga dini hari Dean menunggu Isel kembali, terlihat dari kejauhan Isel berjalan sempoyongan karena lelah.


"Dari mana kamu?"


"Uncle, Isel lelah sekali. Tangan Isel rasanya ingin patah." Kepala Isel bersandar di dada Dean.


Kedua tangan Isel melingkar di leher Dean, langsung batuk karena cuaca dingin. Tubuh Isel terasa drop.


"Lagi sakit, kenapa keluar malam?" hal yang paling Dean khawatir jika Isel beradu jauh dari pantauan, sikapnya yang keras bahkan kepada dirinya sendiri.


Tubuh Isel ditidurkan di atas ranjang kamar Dean, keringat dan napas tidak beraturan terdengar.


"Semoga obat ini membuat demam kamu segera turun," ucap Dean dengan tatapan tidak tega.


Perasaan kepada Isel seperti mencintai Putrinya sendiri, besarnya cinta Diana juga besarnya cinta Dean.


Kepala Dean tertunduk, menunggu Isel pulang dengan perasaan marah. Dean ingin marah jika perlu menghukum, tapi saat ada di hadapan Isel langsung berubah pikiran.


"Uncle, Isel hanya kelelahan," ucap Isel menenangkan.


"Apa kamu memiliki banyak pasien sampai harus lembur, tubuh memiliki batas. Jika kamu memaksa, akhirnya akan seperti ini." Cara bicara Dean sangat lembut membuat Isel begitu nyaman dan aman bersamanya.


"Isel tidak bekerja sebagai psikiater orang gila, Isel kerja di Bar sebagai bartender cantik." Tawa kecil Isel terdengar melihat Dean bangkit dari duduknya karena sangat terkejut.


Tatapan mata marah terlihat, Isel langsung duduk di pinggir ranjang. Dean memilih diam tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Saat Dean diam sangat menakutkan bagi Isel, takutnya kepada Papanya jauh lebih takut kepada Dean.


"Uncle maafkan Isel," pinta Isel agar Dean menatapnya.


"Bereskan koper kamu, besok pagi kita pulang. Aku tidak ingin mendengar alasan kamu," ucap Dean tegas tidak menerima jawaban.


Kepala Isel mengangguk, langsung keluar dari kamar Dean. Terdengar suara barang pecah, jantung Isel berdegup kencang karena kunci kamarnya tertinggal.


"Matilah aku, kenapa lupa bawa kunci?" Isel langsung terduduk di lantai bersandar di depan pintu kamarnya menatap kamar Dean.


Pintu kamar terbuka, Isel langsung cepat berdiri. Dirinya sedang asik melamun, langsung buyar saat Dean menatapnya.

__ADS_1


Pintu kamar Isel terbuka, Dean masuk lebih dulu diikuti oleh Isel yang mencari kopernya untuk menyusun baju.


"Sejak kapan kamu kerja sebagai bartender?"


"Sejak awal datang," balas Isel terpaksa jujur.


"Kenapa kamu melakukannya? marah boleh, tapi tidak melakukan hal yang akan mengecewakan kedua orang tua kamu." Mata Dean tajam tidak melepaskan pandangannya sedikitpun.


"Isel kerja bukan jual diri Uncle, apa salahnya?"


"Ini salah!" seru Dean mencengkram kuat tangan Isel yang penuh luka karena pecahan botol juga pertarungan saling pukul.


Tangisan Isel langsung pecah karena Dean membentaknya juga mencengkram tangannya sangat kuat.


Cengkraman lepas, Isel langsung memeluk Dean. Meminta maaf karena dirinya hanya bekerja, apa yang terjadi tidak bisa dirinya hindari.


Mata Dean terpejam, dia lelah meminta Isel kuliah agar dia bisa memiliki hal yang menyenangkan bukan mendekati dunia malam, baru beberapa bulan di lepas tubuhnya sudah banyak luka.


"Sebaiknya kamu tidur, Uncle yang akan membereskan baju kamu." Dean melepaskan pelukan.


Kepala Dean tertunduk, matanya terpejam kembali. Isel sudah terlalu jauh melangkah, Dean takut jika tidak mampu lagi menghentikan.


Jika dirinya menerima pernikahan, apa mereka bisa bahagia. Mustahil Dean mampu menyakiti, namun mengorbankan diri untuk hidup bersama orang yang tidak dicintai sama saja Dean melukai dirinya.


"Kenapa aku takut, sedangkan dulu aku berani meminta Aira meksipun aku tahu cinta Ai tidak pernah ada. Apa ini yang dulu Aira rasakan saat terpaksa menerima?" kedua tangan Dean meremas rambutnya tidak mampu berpikir normal.


Dirinya sadar tidak mencintai Isel, tapi hatinya juga tidak rela jika melihat Isel bersikap sesuka hatinya karena patah hati.


"Tenang Dean, lebih baik tenang dan bicarakan ini dengan Daddy." Dean mengambil koper melihat baju Isel yang tidak banyak.


Semua baju di masukkan, ada beberapa baju yang Dean buang karena tidak suka ada yang terbuka.


"Uncle, pakaian dalam Isel di dalam situ jangan dibuka soalnya malu," ucap Isel tanpa membuka matanya.


"Tidurlah, kita harus pergi pagi. Uncle tunggu kamu sarapan di bawah." Dean menutup koper membiarkan Isel menyelesaikan sisanya.


Mata Isel terbuka mendengar pintu tertutup, Isel telentang memikirkan sikap Dean yang begitu peduli kepadanya membuat hatinya salah paham.

__ADS_1


Bagi Isel apa yang Dean ributkan tanda cinta, tapi bagi Dean hanya sebatas peduli tidak lebih sedikitpun.


"Apa kurangnya Isel, kenapa sulit sekali menerima Isel?"


Panggilan masuk di ponsel Isel yang tidak sengaja tertinggal di kamar Dean, nomor tanpa nama membuat Dean penasaran namun membiarkan karena dia tidak boleh membuka privasi Isel.


"Siapa yang menghubungi di jam segini?" Dean tidak bisa memejamkan matanya akhirnya menjawab panggilan.


Suara tawa seseorang terdengar, Dean sangat yakin jika sedang mabuk. Bian menceritakan jika dirinya memiliki seorang istri yang sangat dicintainya, tapi dia tidak bisa memberitahu siapapun.


Bian meminta Isel menjadi wanitanya, berjanji akan mencintai dan membahagiakan selama Isel menuruti dan melayaninya.


Apapun yang Isel inginkan, pasti akan Bian berikan. Meskipun tidak bisa menjadi yang pertama, setidaknya Isel akan diutamakan.


"Boleh saja selama kamu bisa melangkahi mayatku. Tidak akan ada yang bisa mendekati Isel apalagi bajingan yang hanya tahu kenikmatan wanita." Dean menjawab panggilan membuat Bian terdiam.


"Ah, Jaksa sialan. Kenapa suara kamu terngiang di kepala aku sampai masuk ke dalam panggilan ini? suatu hari aku pasti akan melenyapkan kamu." Bian mengucapkan selamat malam kepala Isel sampai panggilan mati.


Ponsel diremas kuat, kepala Dean menggeleng. Bian jatuh cinta kepada Isel, dia akan melakukan segala cara untuk memilikinya.


"Kenapa harus berurusan dengannya Sel, banyak pria baik lalu kenapa harus dia?" tubuh Dean terbaring di atas tempat tidurnya.


Suara pesan kembali terdengar, Bian mengirimkan fotonya yang sedang tersenyum manis membuat Dean jijik.


Kartu Isel langsung di patah karena Isel tidak memberikan nomor pribadinya yang biasanya berkomunikasi bersama keluarga.


"Menikah, apa aku harus menikahi Isel?" Dean memukul mulutnya karena memiliki pikiran yang sungguh konyol.


Membayangkan wajah Kakaknya saja begitu menyakitkan, Dean takut membuat Kakak perempuannya kecewa, tapi jika mereka gagal menjaga Isel maka jauh lebih gagal.


"Bagaimana cara aku bicara dengan Daddy Mommy, bersama Kak Di juga. Mereka bisa jantungan," ucap Dean berteriak hampir gila karena pikirannya sudah tidak normal lagi.


Dering ponsel Dean berbunyi, tertera nama Hairin di layarnya. Satu lagi beban Dean melihat Hairin yang tidak lelah menghubunginya meksipun tidak ditanggapi.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2