SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
OPERASI


__ADS_3

Di dalam mobil Aira meringis kesakitan, beberapa mobil meminta jalan agar Ai bisa sampai rumah sakit tepat waktu.


"Sayang, jangan tutup mata." Angga mengenggam tangan istrinya kuat.


Juan melihat ke arah adiknya yang mandi keringat, melihat sudah ada air yang keluar dari sela kaki.


"Pecah ketuban Kak," ujar Juan pelan kepala Juna yang menyetir mobil.


"Tahan Ai, jangan lahiran disini." Juna mempercepat laju mobil.


Juan sudah menghubungi pihak rumah sakit yang ternyata sudah disiapkan oleh Bunda Devan yang tidak bisa pergi karena banyaknya tamu.


Sampai di rumah sakit sudah ada tim yang meyambut, dokter meminta Aira dipindahkan. Saat tahu yang akan melahirkan selebriti langsung panik karena pasti akan menjadi sorotan media.


"Sudah berapa bulan?" dokter menatap Angga yang panik melihat istrinya lahiran tidak tepat waktu.


"Masuk delapan Dok, tapi ini belum waktunya lahiran." Angga tidak membawa persiapan apapun karena sedang berada di luar kota.


"Kita periksa dulu, semoga saja hanya kontraksi palsu."


"Bayinya kembar." Juna menujukkan identitasnya sebagai dokter.


Beberapa dokter yang mengenali Juna langsung mempersilahkan untuk ikut masuk bersama suaminya.


"Yang, sakit sekali." Aira menatap suaminya yang tidak melepaskan sedikipun genggaman tangan.


Dokter memeriksa kondisi kandungan Aira yang sudah turun bahkan sudah waktunya lahir.


"Bayi harus dilahirkan sekarang," ucap dokter menunjukkan pukul delapan malam.


Sebelum proses lahiran, Juna sempat berbincang dengan dokter demi keselamatan adiknya, jika tidak memungkinkan normal, Juna ingin langsung persiapan operasi.


Tubuh Aira sudah terkulai lemas, Angga meminta operasi tidak ingin istrinya mengalami sakit dua kali.


Dokter mengangguk, persiapan operasi dimulai. Ada banyak dokter yang mengawasi proses operasi termasuk Juna.


"Kak, semuanya akan baik-baik saja?" Angga tidak kuasa menahan air matanya.


"Iya, pasti baik. Kondisi bayi sehat, insyaallah anak-anak kamu selamat." Juna menepuk pundak Angga yang masih gemetaran.


Sudah dua puluh menit belum ada tindakan, kondisi Isel lebih diutamakan, Juna mulai cemas takut bayi dalam bahaya karena air ketuban kering.


Obat bius sudah disuntikkan, air mata Aira meneteskan karena harus merasakan kontraksi dan lahiran secara sesar.

__ADS_1


Kepala Juna mengangguk, memberikan isyarat untuk segera dimulai proses mengeluarkan bayi.


Di luar kamar Aliya dan Altha sudah tertunduk berdoa agar Aira dan anak-anaknya selamat. Tika merangkul Maminya agar lebih tenang.


"Ai pasti baik-baik saja Ma," ucap Tika menenangkan.


Mommy Daddy juga baru datang, melihat ada banyak dokter yang ikut mengawasi salah satu anak konglomerat juga selebriti terkenal.


"Bagaimana kondisinya?" Mommy Anggun duduk di samping Aliya.


Senyuman Al terlihat, memeluk erat Mommy karena merasa bahagia jika sudah ada tiga bayi yang lahir.


"Aku harap hari ini kabar bahagia paling bersejarah di dalam keluarga kita." Mami Aliya menatap ke arah kamar Aira.


Ai harus baik-baik saja, ada Putri kecilnya yang sedang membuat kekacauan di pesta, dia masih sangat membutuhkan perhatian, meskipun sibuk mandiri sendiri.


"Aira pasti baik-baik saja Al." Mommy mengusap air mata Mami Aliya.


"Al yakin itu, anak nakal itu pasti berhasil keluar bersama kedua bayinya." Aliya menghitung sudah ada lima bayi jika Aira lahiran juga.


Semuanya diam menunggu sambil berdoa, tidak lama suara tangisan bayi terdengar sangat kuat membuat detak jantung juga ikutan berdegup kencang.


Tangisan Aliya dan Mommy Anggun tidak tertahankan, masih belum tenang jika tidak melihat langsung.


"Alhamdulillah, tangisannya sudah bersahut-sahutan." Altha tersenyum kecil tidak hentinya mengucapkan syukur.


Air mata juga mengalir di pelipis mata Aira, doa Ai hanya ingin hidup lebih lama agar bisa membesarkan Putri nakalnya, dan membesar kedua lelakinya.


"Alhamdulillah ya Allah, sayang." Angga tidak hentinya mengecup kening Aira yang senyuman kecil.


"Kenapa Aira lahiran lebih dulu dari Isel?" Ai meminta Angga memotret kedua anaknya untuk pamer kepada Isel yang sombong.


Kepala Angga mengangguk, menatap dua bayi yang masih menangis kencang karena saling adu.


"Dewa, lihat dulu anak kamu." Juna mengusap punggung Adik iparnya yang tidak berhenti menangis.


Badan saja yang besar, tapi tidak malu menangis di perhatikan banyak orang padahal dia publik figur.


Senyuman Juna terlihat, mengusap kepala pipi Aira mengucapkan selamat dan terima kasih karena Aira sudah menjadi ibu yang luar biasa.


"Cepat pulih Aira, sekarang tidak bisa main lagi. Ingat ada tiga buntut yang masih kecil-kecil." Juna teringat saat dirinya repot ketiga anaknya lahir bersamaan dengan anaknya Tika.


"Terima kasih Kak Juna, terima kasih sudah mendampingi Aira."

__ADS_1


Kepala Juna mengangguk melihat Angga yang sudah mengadzani kedua Putranya. Angga menyentuh anak-anak dengan sangat lembut.


Juna mengucapkan terima kasih kepada dokter yang menangani, melihat jam sudah pukul setengah sepuluh malam masih berkumpul di rumah sakit.


"Kak Juna keluar dulu Dek," ucap Juna yang ingin mengabari keluarga.


Pintu kamar terbuka, Juna tersenyum mengabari dua bayi laki-laki lahir dengan selamat.


"Bagaimana kondisi Aira?" Papi Altha mendekati Juna.


"Ai baik-baik saja Pa, selama Juan duduk tenang maka Aira baik." Senyuman Juna terlihat menepuk pundak adik lelakinya yang hanya diam saja.


Semua mengucapkan Alhamdulillah, kabar bahagia datang kepada keluarga besar mereka karena kedatangan bayi kembar.


Dimas dan Altha saling berpelukan, Angga dan Aira pengikat dua keluarga menjadi satu sehingga anak-anak juga penerus keluarga.


"Akhirnya Dirgantara memiliki keturunan laki-laki," ucap Dimas bersyukur.


"Sudah ada tiga." Aliya tersenyum manis memeluk suaminya.


Semua orang melihat ke arah Aliya, Mommy menatap suaminya langsung menghubungi Dean takut terjadi sesuatu kepada Isel.


Dean menjawab panggilan langsung mengucapkan syukur karena dua bayi laki-laki lahir dengan selamat.


"Bagaimana kondisi Aira Mommy?"


"Baik, bagaimana kondisi Isel?"


"Baik, ini mereka." Dean melakukan panggilan video menujukkan Isel bersama ketiga bayinya.


Tangisan Mommy Anggun pecah, ternyata Isel juga sudah lahiran. Bahkan Diana dan Gemal sudah pulang lebih dulu.


Daddy Dimas juga menangis tidak bisa berkata-kata lagi karena dalam satu hari mendapatkan lima cucu sekaligus.


"Jangan menangis, Isel baik-baik saja. Baby girl and Boy."


"Kapan lahirnya?" Tika menatap Isel yang menunjukkan jam enam pagi anaknya lahir secara normal.


Semua orang tersenyum merasakan kebahagiaan yang sangat besar, Aira akan segera pulang dan bertemu dengan Isel.


"Kenapa Kak Ai tiba-tiba lahiran?"


"Seperti tidak tahu gerakan Aira saja, dia tidak berhati-hati beraktivitas hingga mengalami kontraksi. Kedua anaknya harus masuk tabung dulu untuk memastikan kekebalan tubuhnya." Juna menjelaskan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Aira ditangani dokter-dokter hebat.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2