SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
DELVIN GALAXY DIRGANTARA


__ADS_3

Mama Diana langsung pamit lebih dulu tanpa memberitahu keluarga karena acara masih berlangsung.


Gemal meminta Genta memperketat keamanan anak-anak karena dirinya harus pulang lebih dulu.


Mobil Gemal meninggalkan hotel, hanya pulang berdua bersama istrinya yang sudah menangis sesenggukan di dalam mobil.


"Sudah jangan menangis lagi, Isel baik-baik saja."


"Sedih tidak mendampingi." Diana mengusap air matanya tidak sabar lagi ingin melihat cucunya.


Beberapa jam di perjalanan barulah tiba di rumah sakit, langsung berlari masuk menghubungi Dean menanyakan ruangan Isel.


Tangan Dean melambai saat melihat Diana dan Gemal sudah tiba, pelukan Diana erat langsung mengusap punggung Dean yang juga memeluk kakaknya erat.


"Ayo kita ke kamar, Daddy Mommy tidak ikut?"


"Kak Di tidak memberitahu soalnya menjadi pendamping mempelai wanita." Diana melangkah bersama Dean yang merangkul.


Pintu kamar terbuka, suara berisik Ghion sudah terdengar menggedong keponakannya yang sangat menggemaskan.


"Mama," panggil Isel.


Tangisan Diana dan Gemal terdengar memeluk Isel yang masih terbaring di atas tempat tidur, baru selesai melakukan donor darah.


Suara Gemal menangis terdengar mengusap kepala Putri nakalnya yang sudah menjadi orang tua.


"Jangan menangis, nanti Isel jadinya sedih." Air mata Isel mengalir dari pipinya.


"Anak Papa hebat, tidak sia-sia kamu nakal." Gemal mengecup kening Isel.


Tawa Isel terdengar, baru keluarganya yang punya anak nakal bangga. Apalagi Papanya yang sedari dulu selalu mendukung apapun yang Isel lakukan.


Suara tangisan bayi terdengar, Gemal berjalan ke arah boks bayi melihat bayi yang berkerudung sedang rewel.


"Pa, dia pangggilan Bobo. Lihat hidungnya pesek di makan pipi." Tawa Ghion terdengar karena sangat menyukai anak bayi.


"Diamlah Ghion, lebih baik kamu segera menikah." Gemal menggedong cucunya.


Senyuman Gemal terlihat sudah dua puluh tahun dirinya tidak gendong bayi, akhirnya bisa menggedong lagi.


"Cantiknya, halo sayang." Gemal mencium kening.


"Pa, ini cewek mirip cowok. Dari tadi mereka berdua tidak mau tidur, hanya yang cowok yang diam saja." Ghion mengendong satu bayi lagi.

__ADS_1


"Ada cowok juga, Alhamdulillah satu kali saja Dean." Gemal tersenyum kecil ke arah Dean yang tertawa.


Diana mengambil bayi dari gendongan Ghion, membawanya ke sofa melihat Ian yang sedang memejamkan matanya sambil menggendong bayi.


"Kalian berdua ini menikahlah, pusing Mama melihatnya." Diana menatap sinis kedua putranya.


"Mama setiap melihat wajah kita bawaannya nikah terus." Ghion memeluk lengan Mamanya yang sedang menggendong bayi.


Senyuman Diana terlihat menatap bayi kecil yang mirip Dean, teringat wajah Adiknya saat baru lahir dahulu.


"Daddy pasti bahagia sekali melihat kalian, apalagi Dean Putra kandung Mommy satu-satunya, dan harapan terbesar keluarga Dirgantara." Diana memeluk lembut bayi mungilnya.


"Penerusnya hanya ada satu, ini." Tanah Ian menujuk ke arah bayi laki-laki yang sangat tenang.


Tangan Diana mengusap bayi yang ada di pangkuan Ian, auranya mengikuti jejak Kakeknya.


Kepala Diana mengangguk, penerus Dirgantara yang tenang, lembut, akhirnya hadir. Lelaki satu-satunya yang harus menjaga dua wanita.


"Siapa nama mereka Dean?" Papa menatap Dean dan Isel yang ada di ranjang.


"Belum tahu Kak, kita tunggu Ura saja. Soalnya takut dia mengamuk."


"Namanya Delvin Galaxy Dirgantara, perempuannya Ira dan Ara." Isel mengikuti keinginan Ura karena sudah menganggap Ura seperti putrinya.


"Aku tidak perlu dijaga, nanti Ira dan Ara yang akan jaga Adik Delvin, siapapun yang menyentuhnya akan kami habisi." Ghion menggoda Isel yang melirik sinis karena takut anaknya mirip dirinya.


"Semoga saja Delvin sehebat Papanya yang mampu menghadapi wanita-wanita aneh. Punya Kakak aneh, keponakan bahkan sahabatnya juga aneh." Gemal meminta Delvin dari tangan Ian.


Lirikan mata Diana sama tajamnya dengan mata bayi yang digendongnya, Ian yang melihat fenomena aneh langsung merinding.


Mencari keturunan lembut memang penting karena imbasnya jatuh kepada keturunan, Ian berharap dirinya tidak berurusan dengan wanita pengacau.


Para wanita di dalam keluarganya tidak ada yang normal, satupun tidak ada yang tumbuh menjadi wanita anggun.


Tangisan keluarga besar Gemal terdengar dari panggilan video, saat tahu Isel sudah lahiran langsung teriak-teriak.


Melihat ada tiga bayi kembar membuat semakin hebat, kedua orang tua Gemal bersiap untuk terbang.


"Hai Rin, Gemal sudah jadi Kakek," teriakkan Diana terdengar mengejek suaminya.


"Kamu juga sudah jadi Nenek sayang."


Tawa dari dalam ponsel terdengar merasa lucu melihat Diana dan Gemal dipanggil Kakek dan Nenek.

__ADS_1


Teriakan Diana terdengar, tidak suka dirinya sudah tua mirip nenek-nenek. Hanya Aliya yang bangga menjadi Nenek.


"Wajah aku masih cantik begini statusnya Nenek." Di menyentuh wajahnya yang tidak kalah dengan wanita tiga puluh tahun.


"Maka harus nikah muda seperti Isel, usia dua puluh punya anak, nanti kita seperti Kakak adik." Isel tersenyum lebar karena merasa tujuannya tercapai.


Tangan Isel dan Dean melambai, merasa sangat bahagia karena sudah menjadi orang tua. Dunia mereka akan lebih sibuk lagi karena ada tiga bayi yang harus diurus.


"Nenek cepat ke sini, bantuin Isel. Sekarang waktunya Isel pacaran."


"Dasar anak nakal, bagaimana kesehatan kamu sayang?" Mam Jes berkali-kali mengusap air matanya karena masih tidak percaya dirinya sangat tua.


"Isel baik, insyaallah kita semua sehat. Perumahan kita akan penuh tangisan bayi." Senyuman Isel terlihat meminta semua orang kumpul.


Panggilan masuk di ponsel Diana, langsung cepat berjalan ke boks bayi. Setelah menidurkan langsung melihat ponselnya.


Panggilan dari Aliya sudah lebih dari lima kali, dirinya lupa pamit dengan Aliya sehingga kembarannya terus menghubungi.


Diana melakukan panggilan balik untuk memberitahu jika Isel sudah lahiran, meminta keluarga pulang.


"Lama menjawabnya Kak Alina," kesal Aliya yang memanggil berabad-abad.


"Aku pulang duluan Al soalnya Isel lahiran. Alhamdulillah dia sehat, bayinya juga."


"Alhamdulillaah, syukurlah Kak. Minta doanya juga karena Aira dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba perutnya sakit." Aliya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


Diana tersentak kaget, Aira belum bulannya sudah kontraksi, apa anak-anak sudah janjian seperti kelahiran Dean dan Aira yang bersamaan.


"Bagaimana dengan Lea? Jangan bilang dia juga ingin lahiran?" tanya Diana panik.


Aliya tidak tahu, Lea tidak ikut ke rumah sakit, masih di hotel bersama keluarga besar Dika. Juan dan Juna yang pergi karena menjaga Aira yang mengalami kontraksi sebelum waktunya.


Diana tepuk jidat mencemaskan Aira yang memang tidak bisa diam, apalagi anaknya kembar dua.


"Semoga Aira dan bayinya baik-baik saja. Jangan beritahu Mommy Daddy, fokus kepada Aira dulu." Diana akan mengurus Isel dan yang di luar kota mengurus Aira.


"Ada apa Ma?" tanya Isel.


"Aira kontraksi, takutnya lahiran."


Semua orang kaget, hanya bisa berdoa agar Aira lahiran dengan selamat begitupun dengan anak kembarnya.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2