SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SALING MENGERTI


__ADS_3

Tendangan Aira mendarat di atas meja kamarnya, tidak ada satupun pesan apalagi panggilan dari Angga. Mereka juga latihan secara terpisah, tidak ada sedikitpun usaha untuk mendekati.


"Ai memilih berhenti menjadi aktris, aku lebih nyaman seperti dulu yang dikenal banyak orang namun tidak ada tuntutan untuk bekerja." Ai megusap air matanya saat mendengar pintu terbuka.


Lea baru saja sampai, konser hanya sisa menghitung hari. Mereka akan segera check sound terlebih dahulu sebelum tampil.


"Aku ingin berhenti setelah ini Lea,"


"Ada apa Ai?"


"Kamu tahu sudah lama aku ingin mundur." Aira mengusap air matanya, kepalanya masih tertunduk dalam.


Helaan napas Lea terdengar, duduk di samping Aira sambil memeluk. Suasana hati Ai sedang dalam keadaan tidak baik. Dia sedang merasakan kecewa tanpa kejelasan.


"Ini bukan Aira yang aku kenal. Ai wanita yang sangat ceria, cerewet, juga pantang menyerah. Hanya karena satu rasa kecewa kamu tidak memiliki semangat." Tangan Lea mengusap lembut, menenangkan hati dan perasaan Ai.


Tidak bisa menenangkan hatinya, Ai menceritakan kegelisahannya. Saat Ai meminta berpisah Angga tidak menanggapi, bahkan tidak mengirimkan pesan apapun.


Satu kali Aira mengatakan berakhir, maka semuanya langsung berakhir tanpa ada basa-basi apapun.


"Siapa yang menolak latihan bersama? siapa yang menolak dipanggil juga bertemu? bahkan kamu tidak ingin dipertemukan dalam wawancara." Lea tidak tahu cara menjelaskan kepada Aira jika dia sudah menutup semua jalan untuk Angga mendekat dan berbicara.


"Dia tidak menghubungi aku?"


"Handphone dia ada di manager, latihan juga full. Pulang ke hotel hanya untuk beristirahat, kehadiran kamu mendampingi bukan membebani." Usapan Lea lembut di tangan Aira karena dia terlalu berlebihan.


Angga sampai meminta bantuan Lea karena tidak bisa berdamai, Ai selalu menghindar dan tidak ingin menatapnya.


"Jika masih cinta, jangan ikuti egois. Coba tanya baik-baik apa yang menganggu hati, jangan meluapkan emosi sendiri, nanti akhirnya rugi." Lea mengusap air mata Ai yang terlihat jauh lebih tenang.


Kepala Aira mengangguk, bergegas untuk mandi dan bertemu Angga di panggung karena mereka akan melakukan gladi resik sebelum acara besar diadakan.


Selesai make up, Aira keluar dari hotel bersama Lea. Banyak juga tim dan bodyguard yang mengawal Aira menuju panggung.

__ADS_1


Beberapa wartawan sudah menunggu, Ai hanya tersenyum melambaikan tangannya menyapa wartawan.


Menjawab apa yang dipertanyakan sambil terus jalan ke mobil, sampai akhirnya mobil melaju meninggalkan hotel.


Di panggung Angga duduk sendirian, melihat ke lapangan yang akan menampung jutaan orang. Setelah beberapa tahun tidak merasakan panggung, kini datang kembali namun dengan rasa yang berbeda.


"Aku pikir ini awal aku dan kamu, tapi kenapa sulit sekali membuat kamu mengerti." Angga menhela napas kecewa.


Dirinya tidak peka sehingga tidak tahu di mana salahnya, meminta penjelasan bukan jawaban yang didapatkan namun kata pisah.


"Jika menangis bisa menjadi obat, aku sudah menangis seumur hidup. Satu kali mencintai, pertama kali memilih untuk sehidup semati, namun sudah sesakit ini." Angga langsung berjongkok sambil memejamkan matanya.


Beberapa staf berlalu lalang mempersiapkan kekurangan, tidak ada yang mendekati Angga. Berpikir jika dia sedang memikirkan cara panggung yang spektakuler.


"Black, sudah bisa dimulai." Gilang menepuk pundak Blackat untuk check sound.


"Sebentar lagi, Aira belum datang,"


"Ada apa dengan Aira? sangat sulit dipahami. Ini konser besar, tapi kalian berdua tidak aku. Cobalah temui dan selesaikan sebelum konser dimulai." Gilang meminta Blackat mengalah, tidak ada jalan bagi keduanya jika bertengkar di detik terakhir.


"Ai, kita bicara sebentar," pinta Black dengan wajah memelas.


"Kita selesai dulu latihannya, baru bicara." Ai melewati Angga yang mengangguk, berjalan ke atas panggung.


Suara musik terdengar, Black tarik napas dalam melupakan sesaat masalah-masalahnya.


Senyuman dua aktris besar terlihat, bernyanyi di atas panggung megah meskipun beberapa kali diberhentikan karena pengaturan vokal untuk mengimbangi suara keduanya.


"Bagus sekali, kita coba lagi terakhir," staf memberikan instruksi.


"Kita sudahi saja, waktu terus mepet." Angga mundur ke belakang panggung.


Tatapan Aira dingin, dia memutuskan tampil sendiri jika Black tetap memutuskan untuk tidak melanjutkan.

__ADS_1


Lama sudah ku pendam ini, lama sudah ku makan hati. Menghadapi mu. Ini semua tentang mu, tentang caramu. Memperlakukan ku.


Tak sadarkan kau selama ini, bukan cuman hati yang kau sakiti, juga hidupku. Diriku ini pasanganmu, bukannya musuh mu. Tak perlu kau siksa aku.


Black mematikan musik mendengar Aira menyindirnya, Black langsung berjalan ke arah Aira yang tersenyum menatapnya.


"Lagu itu cocok untuk kamu?"


"Salah aku apa? kenapa tiba-tiba menghindar dan mengabaikan aku. Menolak latihan bahkan makan bersama. Kamu tidak memberikan aku kesempatan." Suara Angga pelan, matanya berkaca-kaca karena berada dalam kebingungan.


"Aku tidak tahu, aku hanya merasa kamu tidak mencintai aku. Ada orang lain di hidup kamu? wanita yang jauh lebih mencintai kamu lebih dari aku. Dia bahkan selalu mendampingi kamu, tidak seperti aku." Air mata Aira menetes, suaranya sampai gemetaran.


"Siapa? Isel ... kamu membicarakan Isel?"


"Kamu langsung tahu, bahkan aku tidak memberikan ciri-cirinya,"


Kepala Angga menggeleng, tidak paham dengan pikiran Aira yang tidak masuk akal. Penyebabnya marah karena hal yang mustahil terjadi.


"Ai, jika aku diam bukan karena tidak mencintai kamu, perasaan tidak setiap saat harus diutarakan. Jika aku peduli kepada siapapun, apa artinya aku mencintai dia? kepada wanita yang aku cintai saja, diam. Apa alasan aku mencintai wanita lain?" Angga memang sangat menyayangi Isel, dianggap sebagai adik, tidak lebih. Apalagi Isel keponakannya.


Air mata Angga juga menetes, langsung cepat ditepis agar tidak jatuh. Napas Angga naik turun menahan kesedihannya.


"Apa aku serendah itu di mata kamu? sudah aku katakan lakukan apa yang membuat kamu nyaman selama baik, dan izinkan aku juga melakukan apa yang membuat aku nyaman. Kenapa menyayangi keponakan sendiri tidak boleh? Kamu tidak mencintai aku Ai, kamu cintai diri kamu sendiri. Aku milik aku, kamu milik kamu. Kita boleh saling memperingati jika salah, bukan tiba-tiba marah." Satu tangan Angga menutup matanya tidak kuasa menahan air matanya.


Tangisan Aira sesegukan. Staf memberikan peringatan agar suara tidak pecah, siapa yang ingin menangis diizinkan setelah konser selesai.


"Aku minta maaf, apapun masalahnya aku minta maaf. Kita selesaikan konser sampai akhir tanpa membawa perasaan." Angga mengusap air mata Aira agar berhenti menangis.


Angga berjalan lewat tangga depan panggung, pekerja teriak saat lampu jatuh. Angga langsung lompat sampai lampu berhamburan pecah.


"Aira bangun." Angga memangku Ai yang jatuh bersamanya, dan jatuh pingsan karena tertimpa tubuh Angga.


Senyuman Gion terlihat karena dia yang memutuskan keamanan lampu.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2