
Senyuman Angga terlihat menatap dirinya yang memakai baju pengantin untuk melangsungkan pernikahan.
Hati Angga begitu bahagia karena dirinya akan segera melepaskan masa lajangnya, menikahi wanita yang tidak pernah dirinya pikiran menjadi jodohnya.
"Aku dulu begitu tidak menyukainya baik dari sikap dan cara bicaranya, namun takdir membuat aku sadar jika apa yang aku lihat tidak nyata.
Angga sangat bahagia memutuskan untuk mencintai Aira, dan mengambil keputusan begitu cepatt karena tidak banyak aktris yang siap menikah di usia muda.
"Apa yang sedang Kakak pikirkan, sesaat aku melihat seorang pangeran yang begitu tampan." Dean memeluk lembut kakaknya yang begitu tampan.
Tawa kecil Angga terlihat, mengucapkan terima kasih kepada Dean yang juga memiliki peran besar sehingga dirinya bisa ada di masa paling baik, Angga tidak tahu bagaimana nasibnya jika saja Dean tidak menerimanya.
"Dean bahagia memiliki Kak Angga, jangan pernah berpikir jika kita beda, Dean tulus begitu mengagumi Kak Angga." Kedua tangan Dean mencengkram pundak kakaknya yang tersenyum manis.
"Kak Angga juga sangat mengagumi dan menyayangi kamu, bagian dari rasa syukur bisa memiliki adik sehebat kamu. Dean, berjanjilah untuk terus seperti ini dan tida membuat Kakak mencemaskan kamu." Kedua tangan Angga menyentuh kepala adiknya.
"Dean tahu Kak, sebesar apapun sayang Dean tidak bisa dibandingkan dengan rasa yang Kak Angga miliki. Terima kasih sudah datang dan pulang lalu berkumpul bbersama kami, Kakak tidak boleh terluka lagi." Air mata Dean hampir menetes jika Daddy-nya tidak datang.
Kedua tangan Dimas terentang meminta kedua putra kebanggaannya memeluknya erat karena Dimas tidak pernah mengatakan betapa dia mencintai anak lelakinya, menyembunyikan perasaan sayangnya agar anak-anaknya tumbuh menjadi lelaki kuat.
Senyuman Angga dan Dean terlihat langsung memeluk erat Daddy yang juga memeluk tidak kalah erat.
"Kalian berdua harus akur dan saling menyayangi, Daddy sudah tidak muda lagi, kalian harus menjaga Mommy sebagaimana rasa cinta Mommy yang selalu ada di samping anak-anaknya. Pinta Daddy bahagiakan Mommy meskipun tanpa Daddy," ujar Dimas menepuk punggung kedua anaknya.
"Jangan berkata seperti itu Daddy, hiduplah lebih lama lagi. Angga masih ingin bersama Daddy." Air mata Angga tidak bisa terbendung lagi karena dia sangat mencintai keluarganya.
"Kenapa menangis? Hari ini kamu harus tersenyum dan bahagia selalu, kita akan menambah keluarga lagi. Jangan menangis, nanti Daddy juga sedih." Dimas mengusap air mata Putranya yang menetes masih tidak percaya jika ada keluarga yang akan mendampinginya.
"Aduh, jangan menangis. Dean jadinya juga ingin menangis." Air mata Dean juga menetes tidak kuasa menahannya jika Angga sudah menangis lebih dulu.
__ADS_1
Ketiganya langsung tertawa karena adu air mata padahal mereka belum bertemu dengan mempelai wanita.
"Dad, kita bukan menambah keluarga baru, tapi beban baru yang akan membuat rumah tenang kita menjadi gempar," ucap Dean penuh keraguan jika dia bisa tidur tenang di rumah.
Di rumah keluarga Altha, Aira sudah berputar-putar mengagumi kecantikannya yang menggunakan gaun modern berwarna putih.
"Kamu happy Ai?"
"Tentu, malam ini aku bisa belah dada." Tawa Aira terdengar jik dia akan segera menjadi istri.
Kepala Shin geleng-geleng, si kecil pengacau yang selalu mengikuti Tika dan Shin dan juga menjadi beban mereka akan segera melepaskan masa gadisnya.
Anak kecil yang dulunya mirip monyet naik pohon ikut mencuri bersama Tika dan Shin yang pada akhirnya Aira patah tulang.
"Cepat sekali kamu besarnya Dek, Kak Tika masih ingin bermain dan bertengkar seperti dulu," ujar Tika yang mengangumi kecantikan adiknya.
Tawa Shin terdengar tidak mampu menahan tawa melihat tingkah Aira yang tidak ada sedihnya sama sekali, menikah menjadi tujuan utama Aira karena sangat penting momennya.
Sebesar apapun pesta tidak penting bagi Aira karena tujuannya hanya kata sah, dia tidak sabar lagi memeluk Angga tanpa baju.
"Otak Ai lebih buruk daripada Rindi, kasihan Angga bisa trauma jika langsung diterkam. Otak aku juga ikutan traveling ingin melihat tubuh Angga yaang tidak menggunakan busana." Teriakan Tika terdengar meminta fokus kembali ke tubuh suaminya yang tidak kalah perkasa.
Melihat otak kotor dua bersaudara hanya bisa membuat Shin tertawa sampai terjungkal dari kursinya.
Pintu terbuka kembali, Rindi datang membawa kado pernikahan untuk Aira yang pasti membuatnya bahagia.
"Aku cemas isinya, pasti barang haram yang banyak bolongnya." Ai mengambil bungkusan kado.
"Buka Ai, aku ingin melihat isinya pasti sesuatu yang membuat otak aku semakin tidak waras." Tika menhan tawa melihat Aira membuka kado.
__ADS_1
Suara tawa langsung pecah, Tika dan Shin sudah berguling di lantai tidak sanggup melihat apa yang Aira tunjukkan ke hadapan mereka.
"Kak Rindi gila ya, aku bisa ditendang oleh Angga menggunakan baju ini," ujar Aira yang sangat shock melihat baju renang bagian dadanya bolong ditambah lagi bagian bodynya bolong.
Tawa Rindi terdengar mengambil kembali bajunya yaang langsung dimasukkan ke dalam kado lagi.
Suara tawa Aira terdengar menahan wajahnya agar make up-nya tidak hancur karena Rindi yang sudah gila melihat baju ada bolongnya. Bisa lari Angga melihat dua lubang di bagian dada.
'Maaf ya Aira ini pasti digunting sama Rara, ini juga baju renang aku. Dia marah tidak dibelikan baju akhirnya digunting, tapi kenapa lubangnya pas?" Rindi menepuk jidat membuat yang lainnya tertawa kembali.
"Sudah cukup perut Shin sakit tertawa terus, jangan beli baju lagi Rin, kamu cukup berikan saja uang yang banyak. Angga bisa mandi bunga tujuh rupa karena ketakutan melihat bolong itu." Shin geleng-geleng melihat tingkah laku Rindi dan anaknya yang sama anehnya.
Pintu terbuka dengan sangat keras, Rindi menyembunyikan baju yang dia bawa melihat Aliya masuk setelah make up, menegur untuk tidak tertawa seperti orang hutan.
"Tamu sudah ramai, ijab kabul sebentar lagi di mulai. Rindi, Shin, Tika keluar. Lea yang akan menemani Aira kita akan menyambut mempelai pria." Al menatap menantu dan putrinya yang tersenyum manis.
"Shin gabung dengan mempelai pria,"
"Rindi juga, kita pulang dulu. Aku bawa lagi baju bolongnya atau kamu ingin menyimpannya?" Rindi tersenyum melihat Aira yang menhan tawa.
"Baju apa?"Ai merasa penasaran.
Tika membawa Maminya keluar karena tidak akan ada habisnya mereka tertawa jika Maminya sudah tahu.
Senyuman Aira terlihat merasa sangat bahagia, ingin segera bertemu dengan suaminya yang akan segera menuju ke rumahnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1