
Mobil Ai melaju pergi, meninggalkan Dean yang masih berdiri diam di tempat. Dia tahu jika perasaanya akan ditolak, tapi rasanya memang sangat menyakitkan.
Tangan Black menepuk pundak Dean, kemunculan Black mengejutkan Dean apalagi soal pengakuan perasaannya.
"Kak Blackat,"
"Aku mendengar semuanya, Dean aku ingin meminta bantuan." Senyuman Black terlihat menepuk pundak Dean masuk mobil bersama untuk menemukan Imel.
Keberadaan Imel sudah diketahui oleh tim kepolisian, beberapa polisi terlatih langsung bergegas ke lokasi untuk melakukan penangkapan secara gabungan.
Meksipun Imel seorang wanita dia memiliki kelicikan yang sangat besar, tidak ada ketakutan sama sekali.
"Bukannya ini lokasi jembatan?" Black menatap Dean yang menganggukkan kepalanya.
Jantung Black semakin berdetak kencang, berharap ini akan menjadi akhir kejahatan Imel dia ingin Adiknya hidup normal tanpa keserakahan.
Di jembatan Imel duduk di atas jembatan menikmati indahnya langit berawan, dan di sana juga terlihat bertapa luar biasanya luas sungai.
Ada beberapa orang yang berlutut di sana, termasuk Gilang. Imel ingin menjadikan mereka semua umpan buaya.
Sebelum dirinya mati, tiga orang yang tersisa atas kasus Anggrek harus Imel lenyapkan. Kematian memang bukan hukuman, namun mereka semua akan ketakutan beberapa detik sebelum kematian.
"Tolong lepaskan aku Imel,"
"Tidak akan pernah, dulu juga tidak ada yang kasihan kepadaku saat memohon bantuan." Tawa Imel terdengar menarik seseorang yang sudah terikat menangis memohon bahkan rela sujud di kaki namun tidak mengubah keputusan Imel.
Dia tahu jika banyak polisi yang datang mendekat, sebelum dirinya mati maka musuhnya juga harus lenyap.
"Aira akan menjadi korban terakhir, dia akan mati dari dunia keartisan dan kehidupan dunia." Tawa bahagia Imel terdengar menendang kuat satu manusia hingga tercebur ke dalam sungai terbawa arus deras.
Tangan Gilang dan temannya memohon agar Imel melepaskan mereka, bukan niat mereka membiarkan karena kondisi mereka juga tidak aman.
"Diamlah, semakin kalian bicara kematian kalian semakin dekat." Senyuman Imel terlihat meminta Gilang dan satu temannya bertahan jika Imel melepaskan tembakan maka mereka akan jatuh sama seperti satu korban.
Mata Imel terpejam kembali, menunggu kedatangan Aira karena lokasi sudah Imel kirimkan untuk sahabat terbaiknya.
"Ria, aku rindu kamu yang dulu. Gadis cantik yang dingin, bukan Aira yang sekarang memiliki jutaan penggemar. Hanya aku sahabat kamu Ai, tidak boleh ada orang lain yang menyayangi kamu." Tawa Imel terdengar, lebih baik dia melihat Aira mati daripada memiliki banyak penggemar yang selalu mengangumi.
Mata Imel terbuka kembali, menatap foto Juan yang sangat tampan. Dia begitu mencintai Juan, tapi cinta Juan bukan untuknya.
__ADS_1
Secara langsung Juan mengatakan jika dia mencintai wanita lain, seseorang yang sangat dekat dengan Imel.
"Bagaimana Sayang? sakit tidak. Begitulah sakitnya aku ketika kamu menolak perasaan ini." Senyuman Imel terlihat, dia puas melihat Juan dan Lea bermandikan darah.
Mobil mewah berhenti, senyuman Imel terlihat begitu bahagia bisa melihat Aira datang sendirian.
Suara high heels Aira terdengar, berjalan mendekati Imel yang asik menikmati dua orang yang hampir jatuh.
"Apa ini begitu menyenangkan bagi kamu?"
"Iya aku senang melihat mereka semua mati, seharusnya kamu membantu aku menyingkirkan mereka." Imel berdiri tepat di depan Aira yang tersenyum sinis.
Tidak pernah Aira bayangkan, jika mereka akan saling membunuh. Ai bahagia mengenal Anggrek, tapi dia begitu membenci Imel yang mengambil wajah sahabatnya.
"Apa yang bisa kita lakukan di sini Aira? kamu lihat dia jatuh. Astaga kasihan sekali, pasti dia mati. Kamu ingin mencoba tidak jatuh ke bawah?" Imel lompat bahagia melihat satu orang lagi jatuh.
"Aira tolong selamatkan aku," pinta Gilang masih memeluk erat tiang jembatan agar tidak jatuh.
"Kenapa harus meminta kepada Aira? seharusnya aku yang menyelamatkan kamu." Tatapan Imel marah, menginjak tangan Gilang yang langsung teriak-teriak memohon kepada Imel.
Senyuman manis Aira terlihat, menendang batu kuat langsung mengenai wajah Imel. Darah langsung keluar dari goresan luka.
Tubuh Imel terpental, dia bukan lawan yang imbang bagi Aira kemampuan bela dirinya tidak ada pengaruhnya bagi Ai.
"Kamu saja yang mati,"
Beberapa orang berlalu lalang berteriak histeris saat tahu ada Aira di jalanan, Imel tersenyum langsung berdiri karena Ai tidak mungkin ingin menyakitinya.
Banyak orang yang menonton, Imel sengaja melakukan kejahatan di jalanan. Dia ingin banyak orang menjadi saksi kematian Aira.
"Aira, kamu sedang shooting film?" banyak orang bertepuk tangan melihat Gilang yang hampir jatuh.
"Ayo serang aku Aira." Imel melangkah maju menendang kuat Aira yang langsung terpental.
Tidak ada pilihan bagi Ai, dia harus bertahan sampai kepolisian datang. Pertarungan terlihat santai dengan sorakan dari ramainya penonton yang berlalu lalang.
Suara tembakan terdengar, beberapa mobil polisi tiba meminta banyaknya orang segera mundur.
"Mundur kalian semua, ini ...." Gemal terdiam melihat senjata di kepala Aira.
__ADS_1
"Tolong ... tolong." Gilang berteriak sambil menangis memohon bantuan.
Kaki Imel menendang kuat Gilang, dia langsung terpental jatuh ke dasar sungai. Beberapa Tim penyelamat langsung bergerak untuk memberikan bantuan.
"Lepaskan Aira Imel." Blackat berjalan mendekat, menatap Ai dengan senyuman manis.
"Menjauh Kak Black, biarkan dia mati bersamaku." Aira dan Imel sudah siap lompat.
"Jangan Anggrek, pegang tangan Kak Black. Ingat janji kita untuk bersama, meksipun keluarga kita berantakan namun kita masih harus saling menggenggam." Senyuman Black terlihat mengulurkan tangannya meminta Imel melepaskan Aira.
Kepala Imel menggeleng, dia tidak akan mempercayai siapapun. Black hanya mencintai Aira bahkan lebih menyayangi Lea dibandingkan dengan dirinya.
"Bawa aku bersama kamu, tapi lepaskan Aira. Menyakiti dia bukan akhir dari hidup ini." Tangan Black langsung memegang pergelangan tangan Imel.
Teriakkan Imel histeris, Black mendorong Aira ke dalam pelukan Dean. Black memeluk erat adiknya, mengusap punggung Imel lembut.
"Aira harus mati Kak, dia salah satu orang yang menyaksikan kematian Anggrek. Mereka semua harus mati,"
"Aku juga ada di sana, kita lebih baik menyerahkan diri daripada menyakiti lebih banyak orang." Tangan Black meminta senjata Imel.
Pukulan kuat menghantam wajah Black, tembakan yang Imel arahkan kepada Aira menembus tubuh Black, Dean juga langsung melindunginya.
Suara tembakan terdengar, Imel mendapatkan dua tembakan, sedangkan Black juga tertembak demi menyelamatkan wanita yang dicintainya, tapi sadar tidak mampu dia milikku.
"Jangan Anggrek, Kakak mohon hentikan." Senjata berada di dada Black, darah sudah menetes ditubuh Black dan Imel.
Beberapa penonton berlarian, bukan shooting yang mereka saksikan, tapi kasus pembunuhan.
Senjata Imel jatuh, Black langsung memeluk adiknya untuk tenang. Punggung Imel tertembak begitupun dengan belakang kepalanya.
Kedua tangan Black menutupi dua luka, hanya bisa meneteskan air matanya. Beberapa polisi berlarian mendekat.
"Lepaskan aku Dean!" Aira berteriak melihat Black penuh darah.
"Jika aku tidak bisa membawa Aira dalam kematian, maka lelaki yang dicintainya harus pergi bersama aku." Imel menarik Blackat terjun bebas ke bawah jembatan.
"Tidak!" Aira langsung teriak histeris ingin lompat ke air. Altha langsung menarik Putrinya yang sudah histeris melihat lelaki yang dicintainya jatuh di dalam arus air yang deras.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira