SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PERJANJIAN SATU TAHUN


__ADS_3

Persiapan pernikahan sudah delapan puluh persen, hanya menunggu hari H, pekerja Dean juga sudah dihentikan karena Dimas mencemaskan lupa diri jika sudah ada kasus baru, hanya Isel yang masih sering ke rumah sakit jiwa untuk mengecek beberapa pasiennya.


"Sel, baru pulang. Sisa dua hari lagi sayang, kenapa kamu semakin kurus?" Anggun meminta Isel berbaring di pahanya.


"Emh ... Isel lelah Nenda." Isel meletakkan kepada di paha Mommy Anggun.


"Apa pekerjaan kamu sangat berat?"


Senyuman Isel terlihat, dirinya masih harus banyak belajar. Meskipun dirinya salah satu mahasiswi berprestasi, tapi pengalamannya sangat minim. Isel dulu saat bekerja sebagai mahasiswa berpikir hanya main-main saja, sehingga tidak terlalu peduli.


"Tidak ada perkejaan yang mudah sayang, segalanya memiliki resiko." Tangan Anggun megusap kepala Isel, memijitnya pelan.


"Isel pusing rasanya hampir gila juga. Nenda, jatuh cinta mengerikan banyak yang hilang pikiran karena cinta, bagaimana cara Isel bicara dari hati ke hati, kisah cinta Isel saja membuat banyak orang jantungan," ujar Isel yang merasa bersalah karena perasaan yang sudah menyakiti banyak orang.


Senyuman Mommy Anggun terlihat, hal normal jika semua orang terkejut namun kecewa hal yang masih jauh karena Isel tidak salah, perasaannya juga tidak salah.


"Nenda hanya terkejut, apa ini Isel?" Anggun mengecup kening Isel yang tersenyum tipis sambil memejamkan matanya.


"Maafkan Isel Nenda, Isel sayang keluarga ini. Sayang sekali," ucap Isel tulus.


Kepala Anggun mengangguk, memijit kepala Isel yang pastinya pusing berada di rumah sakit jiwa. Tidak ada yang meragukan kasih sayang Isel, hanya saja jika Isel mengatakan sesuatu tidak pernah dirinya tarik kembali.


"Kenapa kamu mencintai Dean?"


"Jangan tanya begitu Nenda, jika Isel cerita pasti Nenda tidak nyambung." Tawa Isel terdengar merasa lucu karena Anggun secara tiba-tiba membicarakan soal cinta.


"Kenapa? Nenda juga pernah mengejar cinta. Daddy tidak pernah tertarik meksipun berada dalam satu ruangan. Dia sangat dingin, pemarah, tapi Nenda jatuh cinta." Anggun tepuk jidat karena perasaan saat itu juga tidak terkontrol bisa jatuh cinta dengan pria yang tipenya.


Isel tertawa lucu, merasa penasaran siapa yang menyatakan cinta terlebih dahulu, berapa lama perjuangan Anggun menaklukan manusia es.


Kepala Anggun menggeleng, Aira selalu mengatakan kepada Dimas jika Anggun mencintainya, tapi tidak pernah ditanggapi.


"Nenda tidak punya kesempatan mengatakan cinta, Daddy tidak memberikan kesempatan itu. Dia langsung menutup jalan sebelum Nenda masuk," ujar Anggun tersenyum sedih.

__ADS_1


"Kenapa Nenda menyedihkan sekali?"


Tawa Anggun terdengar, meskipun ditolak setidaknya Anggun dinikahin. Saat dilamar nikah juga tidak ada ucapan cinta, langsung mengatakan hal yang membuat Anggun jantungan.


"Apa yang dikatakan Kakek Daddy saat itu?"


"Aku akan menikahi kamu, dan tidak menerima penolakan," balas Anggun yang langsung setuju karena dia tidak akan membuang kesempatan emas.


Ekspresi Isel sangat kaget karena sikap Dimas begitu kejam, sedangkan Anggun terlalu cinta sehingga iya saja.


"Awal Nenda jatuh cinta kepada Kakek Daddy?"


"Tidak sengaja melihat dia tanpa baju," kedua tangan Anggun menutup wajahnya karena malu.


Suara Isel tertawa terdengar, dia juga sama. Melihat Dean sedang menembak penuh keringat terlihat sangat seksi, jantung Isel langsung berdegup kencang tidak bisa bergerak lagi karena tubuh Dean berbentuk.


"Isel juga pernah melihat Uncle tanpa baju di kamarnya, rasanya ingin peluk," ujar Isel membayangkan tubuh Dean.


"Salah Nenda sendiri yang bercerita sebelum Isel sah," jawab Isel santai.


Keduanya tertawa membuat Dean keluar dari kamar karena mendengar suara Mommy yang tidak biasanya tertawa besar.


Helaan napas Dean terdengar, kembali lagi ke kamarnya karena melihat Isel yang sedang mengobrol.


Hari pernikahan mereka semakin dekat, perasaan Dean semakin tidak tenang karena dia tidak punya bayangan soal pernikahan mereka.


Ketukan pintu terdengar, Isel memanggil Dean karena Mommy meminta keluar untuk makan bersama.


Tumben mengetuk pintu, biasanya nyelonong saja masuk," batin Dean di dalam hatinya.


"Uncle, dengar tidak?"


"Masuk dulu Sel, Uncle ingin bicara," ujar Dean yang masih menatap laptopnya.

__ADS_1


Senyuman Isel terlihat, langsung duduk di samping Dean. Mata Isel menatap tajam karena bisa memahami sorot mata Dean yang banyak keraguan juga gelisah.


Pernikahan yang sisa hitungan hari pastinya semakin membuat cemas, apalagi Dean yang tidak memiliki rasa. Keyakinan seakan lenyap.


"Sel, kamu tahu jika perasaan Uncle kepada kamu ... aku tidak harus menjelaskannya." Dean menarik napas panjang takut Isel tersinggung.


"Iya, Isel tahu Uncle. Saat ini Uncle tidak mencintai Isel, juga tidak bisa memberikan nafkah batin kepada Isel selayaknya seorang istri. Isel paham soal itu, tapi Isel tidak akan menyerah. Uncle jangan anggap Isel anak kecil." Tawa Isel terdengar meminta Dean bicara langsung kepadanya tanpa menutupi apapun, Isel tidak akan mempermasalahkan.


Mendengar ucapan Isel perasaan Dean yang sedih, meksipun Isel menujukkan senyuman pasti hatinya merasakan sakit.


"Maafkan Uncle Sel, hati Uncle masih berat untuk mengubah status kamu." Tangan Dean memukul dadanya yang sangat sakit karena tidak bisa membahagiakan Isel seperti harapan semua orang.


Tawa Isel terdengar, memukul lengan Dean untuk santai. Dirinya tidak terlalu menanggapi serius, Isel tidak akan memaksa perasaan Dean.


"Uncle jangan terbebani, jika dalam satu tahun perasaan Uncle tidak berubah maka ceraikan Isel dan kita kembali ke posisi awal. Isel tidak masalah jika Uncle menemukan cinta sejati, Isel pasti akan melepaskan." Senyuman Isel terlihat, menyakinkan Dean jika dirinya tidak akan pernah patah hati dan kecewa.


Sejak awal tujuan Isel hanya ingin melepaskan perasaan, mencintai Dean memang Isel akui. Jika melepaskan tidak mampu, maka Isel ingin memiliki, tapi jika memiliki tetap tidak membuat bahagia maka mereka tidak jodoh, memang hari saja yang mempermainkan.


Dean menganggukkan kepalanya, berharap Isel akan memahaminya. Dean akan belajar membuka hatinya, menerima Isel meskipun membutuhkan waktu.


"Setelah menikah kita tinggal di luar negeri selama satu tahun, aku ada pekerjaan dan kamu lanjutkan pendidikan. Jika satu tahun hidup berdua gagal, maka maafkan Uncle jika harus memutuskan." Dean mengusap kepala Isel lembut.


"Kita akan tinggal di mana Uncle?" Isel kaget mendengar ucapan Dean. Jika Isel menolak pasti membuat Dean kecewa, namun jika mengiyakan Isel akan bertemu dengan Bian.


Meskipun kota besar, tetap saja pasti akan ada peluang mereka bertemu. Hal yang tidak bisa Isel hindari, dirinya harus kembali ke negara yang menjadi tempat pelariannya.


"Sel, kenapa kamu diam?"


"Isel hanya pusing harus sekolah lagi," balas Isel memelas agar Dean tidak memaksanya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2