SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
HUKUMAN


__ADS_3

Sampai di lokasi markas baru, Vio sudah sampai lebih dulu. Menarik tangan Ren agar mengikutinya untuk bersembunyi.


"Siapa kalian?" Ren menatap empat wanita yang duduk di hadapannya.


"Jika kita jawab belum tentu juga kamu kenal," balas Laura yang menghapus make up-nya untuk menunjukkan wajah asli, begitupun dengan Weni yang tersenyum manis.


Ren nampak kaget melihat dua wanita cantik menunjukkan jati diri, dia tidak menyangka wajah jelek dan nampak penuh permak ternyata wanita asli.


"Kenapa kamu mengkhianati Dean, bahkan menghapus seluruh barang bukti?" Isel membersihkan make up menunjukkan wajah aslinya kepada Ren.


Baju Isel juga dibuka, membuat Ren tutup mata karena Isel menggunakan baju berlapis-lapis.


Vio melangkah mendekat, menjambak rambut Ren agar mengatakan apa yang terjadi sebenarnya sehingga dia sampai berkhianat.


Hidup tidak berguna, ditambah lagi membuat masalah bagi orang lain sehingga merugikan banyak pihak.


"Vio," panggil Ren yang baru mengenali Vio setelah berjarak sangat dekat.


"Akhirnya kamu tahu jaga, manusia tidak berguna." Vio ingin memukul kepala Ren, tapi ditahan oleh Weni.


"Kenapa kamu sangat suka memukuli orang, sebenarnya kamu ini polisi atau preman?" tanya Weni kesal.


Gara-gara Vio mematahkan kaki Ren akhirnya membuat mereka kesulitan untuk membawanya pergi. Amarah tidak akan menyelesaikan masalah.


"Kamu sudah membutuhkan pawang, lihat Isel sekarang jauh lebih tenang dan anggun, tidak mirip manusia hutan lagi." Tawa Laura terdengar mengunyah cemilan dengan santai.


"Diamlah, aku tidak punya pikiran untuk menikah," balas Vio langsung membersihkan make up wajahnya.


Lirikan mata Laura tajam ke arah Ren, mencoba memahami karakternya yang tertutup karena kesepian.


"Ren, sebenarnya kalian ini ada kasus apa? siapa pemuda ini?"

__ADS_1


"Makanya Ra, jika orang ada panggilan misi kamu harus siap siaga jangan balapan sampai patah tulang," sindir Weni sinis menjelaskan jika Ren salah satu anggota yang tergabung dengan Vio, tapi dia berkhianat menghilangkan barang bukti.


Jika tidak ada Yolan dan Isel mungkin seluruh barang bukti lenyap, namun tetap saja beberapa bukti penting hilang karena ulah Ren.


Meksipun data korban berhasil diselamatkan, data kejahatan Bian hilang sehingga dengan mudah keadaan bisa dibalik.


"Dia menggali kuburnya sendiri, cepat atau lambat Bian tidak akan menjadi tersangka namun korban setelah dinyatakan jika Ren pelaku sebenarnya." Vio menganggap Ren sangat bodoh, satu langkah lagi mereka akan berhasil membuat Bian menjadi tersangka utama, tapi Ren mengacaukan semuanya.


"Dia tidak mungkin mudah ditahan," balas Ren pelan.


"Semua gara-gara kamu," teriak Vio kencang.


"Aku sebenarnya tidak peduli dengan urusan dan kasus Bian, masalahnya kalian melibatkan suamiku," ujar Isel yang menarik kursi duduk di depan Ren.


Isel tahu dari suaminya jika Ren hanya pemuda biasa dari kalangan bawah, dia tidak memiliki keluarga karena sebuah bencana alam.


Melakukan pengabdian terhadap negara dilakukan dengan tulus, tapi dikarenakan dia tidak memiliki apapun sehingga banyak yang menyemplekan.


Kepala Ren tertunduk, tidak ada yang salah dari ucapan Isel. Dirinya memang sangat bodoh, bukannya berjuang membuktikan jika dirinya layak, namun mengambil jalan singkat hanya untuk membalas orang-orang yang merendahkannya.


"Kamu sebenarnya tidak ada peran penting di sini, lalu apa tujuan kita menyelematkan dia?" Laura meremas rambutnya karena sudah lelah berpikir dan membutuhkan makanan.


Tangisan Ren terdengar, saat menjadi orang baik dia tidak pernah dihargai, memilih menjadi jahat juga dimanfaatkan.


Mendengar ucapan pendek Ren membuat Vio merasa bersalah, dirinya salah satu orang yang merendahkan sejak pertama melihat Ren.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Sel?" Weni menatap Isel yang melirik ke arah Vio.


"Terserah Vio saja, pria ini tidak berguna bagi kita. Dia dilenyapkan juga mungkin jauh lebih baik sehingga tidak ada lagi kambing hitam Bian." Isel menepuk pundak Ren yang harus siap dengan konsekuensinya.


"Kita singkirkan dia." Vio mengeluarkan senjatanya, diarahkan kepada Ren yang masih tertunduk.

__ADS_1


Senyuman Isel terlihat, langsung berlari saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Isel sudah berjanji kepada Dean tidak pulang malam, jika sampai keduluan bisa habis hidupnya.


"Kamu singkirkan dia Weni, aku tidak ingin melihat wajahnya lagi." Vio melangkah pergi bersama Laura yang mengejar Isel lebih dulu.


Kedua tangan Weni terlipat di dada, melihat kondisi kaki Ren yang harus diobati juga tangannya yang mengalami luka cukup parah.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Weni beranjak berdiri.


"Apa yang bisa aku lakukan, ucapan mereka benar aku lebih baik mati agar penyelidikan Bian bisa dilanjutkan." Ren mengusap air matanya merasa sangat tidak berguna.


Hanya tawa yang terdengar, Weni menganggap Ren memang bodoh dan tidak berguna. Dia tidak memiliki niat dendam atau rasa kecewa sama sekali.


Jangankan berniat menangkap Bian, bahkan Ren tidak menghargai hidupnya sendiri sehingga dia memilih mati.


"Aku anak broken home, mami pergi bersama kekasihnya meninggalkan papi yang kaya raya, harta tidak menjamin bahagianya mami. Kehidupan papi yang dikelilingi wanita juga minuman keras membuat mami pergi bersama adikku meninggalkan aku dengan seorang sampah. Saat ini aku tumbuh menjadi wanita pemabuk, hidup dalam dunia malam. Tidak ada yang menghargai aku, kecuali mereka tadi. Jangan membenci mereka, hidup kamu yang menentukan sedangkan kami hanya perantara membantu kamu ingin hidup seperti apa?" Weni memberikan waktu tiga detik untuk Ren memutuskan hidupnya.


"Selamatkan aku," pinta Ren dengan cepat sebelum Weni menghitung.


Tangan Weni terulur, dia akan menyelamatkan Ren. Sebelum memulai hidup, setidaknya mereka membutuhkan dokter.


Di depan gerbang, Vio masih menunggu. Menatap Ren yang jalan tertatih dibantu oleh Weni.


Tangan Vio membantu Ren naik mobil, mereka akan kembali ke hotel untuk pemulihan Ren


Laura yang akan menghilangkan jejak mereka, termasuk mobil yang digunakan, sedangkan Isel sudah pulang karena takut ketahuan suaminya.


"Apa yang akan terjadi kepadaku jika ditangkap kepolisian?" tanya Ren kepada Vio.


"Kamu akan dihukum mati, Bian terbebas dari tuduhan, tapi jika kamu menghilang atau mati akan ada kambing hitam baru kemungkinan dia Alika." Vio mengingatkan jika seorang penjahat tidak butuh teman. Siapapun yang tidak dibutuhkan lagi akan disingkirkan.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2