SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PEKA


__ADS_3

Pelan-pelan pintu kamar terbuka, Dean pulang telat karena ada kasus besar yang harus dirinya tangani.


Isel terbangun mendengar suara pintu kamar mandi terbuka pelan, jari telunjuk Dean berada di bibirnya agar Isel tetap diam karena ada Ura yang tidur memeluk Isel.


Senyuman Isel terlihat, menggunakan tangannya mengizinkan Dean segera mandi baru tidur bersama mereka.


"Tidur kamu lelap sekali Ura," gumam Isel dengan nada pelan.


Kecupan lembut mendarat di kening Isel dan Ura, Dean tidur di samping Ura, tangannya mengusap wajah Isel penuh cinta.


"Abi sudah makan belum?"


"Melihat kamu langsung kenyang, teruslah tersenyum agar lelah juga hilang." Usapan lembut di wajah, hidung dan bibir Isel.


"Nanti Isel menjadi Joker jika senyum terus, capek tahu." Bibir Isel manyun menarik hidung suaminya.


Suara tawa keduanya sangat pelan agar tidak menganggu tidur Ura, Dean juga sangat bahagia karena si nakal yang meneruskan tahta Isel menjadi petani emas tidak ingin jauh dari Abi dan Bundanya.


"Sudah lama dia tidur?"


"Emh, sudah mengamuk Miminya, sampai Kak Angga marah melihat Ura memukuli Miminya yang sedang hamil." Isel membawanya pulang tidak ingin tenang sampai lapar, dibuatkan susu barulah tidur.


Pelukan Dean lembut kepada Ura, mengecup pipinya yang menggemaskan. Anak kakaknya serasa anaknya sendiri sehingga rasa sayang Dean sangat besar.


"Good night sayang, ayo kita tidur." Dean menggenggam jari-jemari Isel sambil memeluk Putrinya.


Tubuh Ura juga bergerak, memeluk erat Dean yang begitu nyaman baginya selain Pipinya. Kebiasaan Ura yang suka tidur di atas dada menjadi hal yang tidak bisa dihilangkan.


Setetes air mata Isel menetes, memejamkan matanya berdoa di dalam hatinya jika ingin memiliki buah hati agar kebahagiaan suaminya semakin besar.


Suara barang jatuh terdengar, Ura terbangun langsung duduk di atas tempat tidur. Mata Ura memicing tajam bergegas turun dari tempat tidur.


"Ada penculi mau ambil emas Ura." Cepat Aura keluar setelah memanjat kursi untuk membuka pintu kamar, bergegas ke kamar lama Isel membuka pintu mengintip sebentar.


"Apa yang kamu lakukan Ura?" Ian yang baru pulang dari rumah sakit memilih tidur di rumah kakeknya karena lebih tenang.

__ADS_1


"Ada penculi," ucap Ura yang menyakinkan Ian ada yang ingin mengambil emasnya.


"Bukan emas yang ingin dia ambil, tapi kucing kamu mulai pacaran." Ian tidak sengaja melihat kucing bermain kejar-kejaran karena sudah musim kawin.


"Ucing Ura diculi." Aura langsung berlari ingin pulang karena dia sangat menyayangi kucingnya.


Kepala Ian geleng-geleng karena Aura sangat berbahaya, dia bangun tanpa sepengetahuan siapapun, lari-larian tanpa rasa takut. Jika pintu tidak dikunci pasti sudah hilang dari pantauan.


Ian nampak terkejut melihat Ura menarik kursi ke arah pintu, berusaha membuka kunci rumah agar bisa pulang ke rumahnya.


"Wow, pintar juga anak ini, kecil-kecil otaknya jalan." Ian hanya diam saja menunggu Ura berjuang sendiri.


Senyuman Ura terlihat saat pintu terbuka lebar, langkah kecil berlari keluar terlihat. Ian ikutan lari karena sudah dini hari.


Takut Ura jatuh karena Ian berteriak memintanya berhati-hati karena gelap, lampu juga redup.


"Pipi, Ura ulang." Si kecil membuka pintu kucing memanggil kucingnya.


Pintu rumah terbuka, Angga menatap putrinya yang tersenyum memeluk erat kaki Pipinya karena merasa senang dibukakan pintu.


"Kenapa pulang larut malam? anak perempuan satu ini." Angga menggedong Putrinya yang tersenyum lebar.


"Malam Uncle," sapa Ian yang tersenyum kecil.


"Terima kasih Ian, kabari Dean dan Isel jika Ura sudah pulang. Mereka pasti terkejut bangun tanpa Ura." Angga membawa Ura masuk ke dalam rumah, membiarkan Putrinya mengecek kucingnya.


Ian berlari pulang, duduk tenang di sofa menatap foto sebuah desa yang menarik perhatian. Desa Hening yang memiliki kehidupan yang unik, Ian ingin sekali suatu hari pergi ke desa yang Hening sehingga dirinya bisa menenangkan pikiran. ( baca kisah Ian ASISTENKU GADIS BUTA )


Suara tangisan Isel terdengar, berlari keliling rumah mencari Ura yang tidak ada lagi di kamarnya. Bukan hanya Isel, Dean juga sama paniknya.


"Kalian mencari Ura?"


"Ya, kamu melihat dia tidak?" Dean sangat yakin jika Ura ada dalam pelukannya, secara tiba-tiba tidak ada lagi.


"Dia sudah pulang, Ura anak yang sensitif." Ian menceritakan apa yang terjadi saat dirinya tiba.

__ADS_1


Pendengaran Ura sangat peka, tidak heran jika Pipinya menjaga ketat. Bukan hanya nakal, Ura bisa mendengar suara disekitarnya.


"Syukurlah jika dia sudah pulang ke rumah, Isel cemas sekali."


"Ura berpikir ada maling, dia yang kecil mirip tuyul berani keluar demi emasnya." Kepala Ian geleng-geleng menyaksikan Ura menyukai emas.


Tawa Isel terdengar, Isel juga sangat menyukai emas. Melihat Ura yang begitu bersemangat, sehingga dirinya mengalah.


"Tidurlah Ian, kita masuk dulu." Dean merangkul pinggang Isel.


"Sebentar lagi subuh, bisa kita bicara sebentar." Ian meminta Dean dan Isel duduk bersamanya.


Kening Isel berkerut, menatap Kakaknya yang menunjukkan sesuatu. Ian meminta Isel segera memeriksa diri ke rumah sakit, seperti yang pernah diucapkan sebelumnya untuk memastikan kondisi rahim Isel.


"Jika sudah melakukan pemeriksaan, hubungi dokter Obgyn untuk membantu proses kehamilan." Ian berharap hasil pemeriksaan sehingga Isel siap hamil kembali.


"Aku rasa tidak perlu, kesehatan Isel jauh lebih penting. Tunggu dua atau tiga tahun saja, kita masih muda tidak harus terburu-buru. Melakukan ini juga beresiko, aku tidak siap." Kepala Dean menggeleng, meminta Isel paham kenapa Dean melarang karena keguguran yang Isel alami sangat menakutkan.


"Segala sesuatu memiliki resiko Uncle, kenapa Ian menyarankan mumpung masih bisa kita awasi, jika dua tiga tahun lagi takutnya ...."


"Takutnya tidak bisa hamil lagi, bagaimana jika kejadian Mama kamu terulang lagi?" Mata Dean berkaca-kaca tidak bisa mengambil resiko apapun.


Ketakutan Dean tidak bisa dirinya tahan, memiliki Isel sudah lebih dari cukup. Urusan anak menjadi rezeki untuk pernikahan mereka, tidak harus dikejar cukup berusaha.


Isel mengusap punggung suaminya, Isel ikut apapun yang Dean inginkan apalagi melihat Dean hampir menangis.


"Baiklah, kalian akan tahu hasilnya besok. Aku tidak tahu Uncle akan menangis bahagia atau menangis takut," ujar Ian yang menatap tubuh Isel.


Kedekatan dengan Ura tidak biasanya, Isel sangat cemburu, tapi bisa akur dengan Ura. Dia mulai peka sebagai ibu, sedangkan Ura ketarik merasa nyaman.


Perhatian Ian kembali ke tabletnya menatap desa Hening kembali, dia mendapatkan banyak inspirasi dari tulisan kayu yang dibuang di sungai, pasti ada seseorang yang ahli medis di desa Hening, kemungkinan Dokter yang betugas di sana.


"Kenapa kamu menatap begitu Kak Ian?"


"Tidak ada, kamu akan tahu jawabannya besok pagi. Tidurlah, aku akan menjaga kamu." Ian terseyum karena Mamanya tidak akan terulang.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2