
Acara makan malam bersama diadakan di rumah Altha, anak cucu semuanya berkumpul bersama.
"Di mana Dean?"
"Belum pulang, dia lebih gila dari Dimas dalam bekerja." Kepala Altha menggeleng melihat Dimas yang menghubungi Putranya namun ditolak.
Senyuman Anggun terlihat, meminta membiarkan Dean melakukan pekerjaannya karena semangatnya sedang besar.
Dari kejauhan Anggun melihat Isel yang duduk dipinggir kolam sambil memainkan ponselnya.
"Sejak Black pergi, kita juga kehilangan Isel. Dia menjadi anak yang pendiam, tenang dan hanya bicara seperlunya saja," ucap Anggun dengan nada sedih.
Diana menatap ke arah Putrinya yang memang berubah drastis, dia tidak pernah berkumpul lagi dengan teman-temannya lebih memilih menyendiri.
Setiap ada konser musik, Diana selalu membelikan, tapi tidak pernah disentuh oleh Putri bungsunya.
"Uncle, mana pesanan Isel?"
Dean memberikan bungkusan makanan pesanan keponakannya yang banyak maunya, Dean rela pulang telat karena menempuh perjalanan jauh untuk membeli makanan.
"Di mana Aira?"
"Kenapa mencari Kak Ai?"
Tidak memberikan jawaban, Dean menyapa seluruh keluarga mencari keberadaan Aira yang sedang bertengkar dengan Mora dan Mira.
"Alhamdulillah, akhirnya semuanya kumpul. Kita makan malam dahulu baru membicarakan beberapa hal penting." Alt menatap seluruh keluarga yang sudah duduk di tempat masing-masing.
Candaan Dean dan Aira terdengar, keduanya sibuk membahas soal rencana Aira untuk membuka bisnis sendiri.
"Makan dulu," tegur Aliya ke arah Ai.
Tatapan mata Isel semakin dingin, melangkah pergi tanpa menyudahi makan malamnya. Perasaan Isel ada yang hilang di dalam hidupnya.
"Kenapa tidak menyudahi makan malam?" Gemal duduk di samping Putrinya yang menghela napas berkali-kali.
"Pa, sebentar lagi Isel lulus sekolah tingkat atas. Isel memilih kuliah di luar negeri, dan menetap di sana sekitar empat tahunan." Kepala Isel tertunduk, dia lebih cepat lulus dibandingkan teman sebayanya karena Isel sangat pintar.
"Kamu belum tujuh belas tahun sayang? Papa belum bisa melepaskan kamu," harapan Gemal Putrinya tetap melanjutkan kuliah dan dekat dengannya.
__ADS_1
Kepala Isel mengangguk, di juga tidak ingin berpisah dari kedua orangtuanya. Isel ingin selalu bersama, tapi semakin lama perasaan Isel semakin sakit.
"Lupakan Kakak Angga, dia sudah tenang. Isel jangan berlarut-larut memikirkan dia." Usapan lembut di pipi Isel membuatnya nyaman.
"Isel akan melupakan, tapi rasanya semakin sakit,"
"Pergilah setelah pernikahan Kak Juan dan Lea, juga pertunangan Dean dan Aira." Diana lebih pilih membiarkan Putrinya pergi daripada terus menyendiri menyembunyikan kekhawatirannya.
Air mata Isel menetes, menganggukkan kepalanya. Tangannya tergempal erat merasakan sesak dadanya.
Pelukan Diana sangat lembut, tidak menyangka jika Putrinya begitu mencintai Black melebihi apapun.
"Aku pikir rasa suka hanya kekaguman seorang remaja, tapi ternyata salah. Perasaan tulus itu nyata." Air mata Diana menetes, mengusap punggung Putrinya yang memejamkan matanya.
Dari tempat lain, Mira dan Mora menatap kesedihan Ghiselin. Keduanya saling pandang merasa kasihan, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Kumpul keluarga membahas pernikahan Juan dan Lea yang akan diadakan secara besar-besaran, sudah waktunya bagi Dean untuk mengambil alih perusahaan sedangkan Lea akan tetap memimpin perusahaan keluarganya.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Gemal menatap Lea yang memperhatikan sekitarnya.
"Apa Lea memang tidak memiliki keluarga satupun?"
Tangan Ai menyentuh pundak Isel memintanya untuk diam. Isel merasa sudah waktunya Lea tahu siapa dirinya.
"Menikah tanpa tahu identitas diri, bukannya itu menyedihkan?"
"Katakan siapa aku, meskipun aku tidak bisa mengingatnya," Lea menantang Isel yang tertawa lucu.
Tanpa bisa dihentikan oleh siapapun, Isel mengungkap siapa Lea, menyebut nama kedua orangtuanya, saudara kembarnya juga Kakak angkatnya.
Kematian mereka ada di berita, Lea bisa melihatnya sendiri dan memutuskan apa yang harus dia lakukan.
"Kebenaran itu memang sakit Kak Lea, tapi tidak mengetahui apapun itu namanya bodoh." Lea menatap Dean yang sudah menutup mulutnya.
Kepala Lea mengangguk, dia akan melihatnya nanti setidaknya Lea tahu jika dia pernah memiliki keluarga.
"Lea, ucapan Isel bukan untuk menyakiti kamu sayang,"
"Iya Mami, Lea tahu dan paham maksud dan tujuan ucapan Isel. Meskipun kebenaran itu menyakitkan, Lea harus tahu." Senyuman Lea terlihat, mengenggam jari jemari Aira meminta kekuatan.
__ADS_1
Pelukan Aira terasa, dia percaya jika Lea sangat kuat dan memahami jalan hidupnya yang memiliki banyak lika-liku.
"Aku akan menemani kamu untuk perlahan mengetahuinya," ucap Juan mensupport.
"Terima kasih sayang," balas Lea dengan tawanya yang geli dengan panggilan mereka.
Semua orang tersenyum mendukung Lea untuk bangkit dan tidak terpuruk dalam kesedihan.
Tidak peduli seburuk apa jalan hidupnya, keluarga menyambut baik dan membuka pintu lebar untuk kedatangan Lea di dalam keluarga mereka.
"Semoga pernikahan ini menjadi pengikat keluarga kita, bukan hanya menjadi tali pengikat antara kamu dan Juan." Anggun memberikan hadiah untuk Lea sebagai ucapan selamat atas rencana yang pernikahannya.
"Selamat ya Kak, berhentilah menghubungi Lea dan mencemaskan, kalian akan segera menikah." Dean memeluk Juan yang memukul punggungnya.
Suara tepuk tangan terdengar, satu-persatu orang memberikan selamat atas rencana pernikahan yang akan segera diadakan.
Ai tersenyum menatap sahabatnya yang akhirnya akan segera naik pelaminan. Aira juga akan mengundurkan diri sebagai seorang aktris. Dia lebih nyaman sebagai selebriti yang memiliki kebebasan bukan aktris yang penuh kesibukan.
Dean berdiri di samping Aira yang senyumannya sangat tulus, Ai bahagia melihat Kakak dan sahabatnya akan menikah.
"Altha, aku sudah membahas ini beberapa kali kepada kamu dan Aliya, keluarga kami ingin melamar Andriana untuk menjadi menantu keluarga kami." Dimas merasa dirinya tidak sekuat dulu, dia ingin putranya ada yang mengurus dan mendampingi.
"Tentu aku menerima Kak, tapi keputusan ada di tangan keduanya yang akan menjalani bahtera rumah tangga." Tatapan Alt ke arah Putrinya yang nampak kaget.
Bukan hanya Aira yang kaget, Dean juga sama. Mereka pikir hanya membicarakan Juan dan Lea, tapi hubungan mereka juga dipertanyakan.
"Bagaimana Dean kamu menerima perjodohan ini?" Daddy menatap Putra semata wayangnya yang masih diam.
Kepala Dean menoleh ke arah Aira, meminta Ai yang memutuskan. Tidak ingin apa yang dia ucapkan salah, maka Ai memiliki kebebasan untuk menentukan.
"Bagaimana Aira?" Al menatap Putrinya yang masih tersenyum manis.
Mata Aira melihat ke arah Isel yang menggelengkan kepalanya, Isel tidak setuju jika Ai menerima perjodohan.
"Aira mengikuti keputusan Papi, apa yang menurut keluarga baik, maka itu yang terbaik bagi Aira." Senyuman tanpa arti terlihat, Aira menerima keputusan Papinya untuk menjodohkan.
Dean tersentak kaget dengan keputusan Aira, cinta Dean pernah ditolak, namun Ai tiba-tiba menerima perjodohan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira