SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MENERIMA KEHADIRANNYA


__ADS_3

Berminggu-minggu Isel dan Dean tidak tidur sekamar, bahkan Isel banyak menghindari. Saat Dean pulang, langsung berdiam diri di kamar.


"Sampai kapan ingin seperti ini, sudah hampir satu bulan kamu menghindari aku." Dean membuka pintu kamar Isel secara paksa.


Saat kamar terbuka, mulut Dean menganga melihat kamar Isel berhamburan bekas cemilan, minuman, segala macam snack.


Permen dan coklat berhamburan di segala tempat, sampai Dean tidak bisa menginjakan kakinya di lantai.


"Apa ini Sel?"


Bibir Isel tersenyum kecil, mengunyah coklat yang ada di tangan. Tidak menyangka Dean akan masuk menggunakan kunci lain.


"Apa ini Nona Isel?" Dean menaikkan kedua alisnya.


"Nanti Isel bersihkan." Kedua tangan Isel terlipat memohon maaf karena tidak bermaksud mengotori kamar.


"Tidak takut semut," ujar Dean yang menyingkir bekas snack.


"Isel lebih manis dari semut," balas Isel tidak nyambung.


Teriakan Isel terdengar, melarang Dean membersihkan bekas makanan miliknya karena Isel suka melihatnya berhamburan.


Tangan Dean menyentuh kening isel, tidak merasakan panas dan demam apapun karena tubuh Isel normal.


"Kenapa masih menolak tidur sekamar? Isel masih marah, kenapa marahnya lama sekali?" Dean menakup wajah istrinya yang sangat dirindukan.


"Uncle kangen Isel tidak?"


Kepala Dean mengangguk cepat, dia sudah berusaha setiap hari mencoba mencairkan suasana, tapi Isel masih mengabaikannya.


"Hampir satu bulan pisah kamar, memangnya Isel tidak kangen?"


"Kangen, Isel kangen sekali, tapi Isel takut." Coklat di tangan Isel diberikan kepada Dean yang langsung mengambilnya.


"Takut apa sayang? memangnya aku makan orang." Dean membersihkan tangan Isel yang penuh coklat.


Senyuman Isel terlihat, memeluk erat Dean yang juga langsung memeluknya. Jika dengan sabar dan menahan diri melihat kekacauan yang Isel buat bisa mendekatkan hubungan kembali, maka Dean tidak peduli meskipun rumahnya hancur.


Sudah hampir satu bulan Isel menutupi kehamilannya, sebenarnya Isel juga tidak tahu dirinya hamil atau tidak, tapi melihat dari tanda tubuhnya dirinya sedang hamil.

__ADS_1


"Kamu ingin jalan-jalan tidak, sudah lama kita tidak keluar bersama?" Dean berharap Isel yang dulu akan kembali.


"Mau, tapi belum es krim," pinta Isel yang langsung disetujui.


Isel langsung keluar bersiap ganti baju, sedangkan Dean keluar lebih dulu untuk mengganti bajunya.


Di kaca Isel melihat perutnya yang membuncit, cepat atau lambat Dean pasti akan tahu soal kehamilannya.


"Nanti Mama periksa kamu ke dokter, jika sudah pasti baru kita kasih tahu Papa. Apapun nanti keputusan Papa, Mama pasti akan memperhatikan kamu." Isel memeluk perutnya, tidak ada gunanya dia menghindari Dean yang akan membuang waktunya.


Suara dua orang berbicara terdengar, Isel melangkah keluar melihat Brayen berbicara dengan Dean jika Alika sudah ditahan oleh Hairin, dia di hukum sesuai kesalahannya.


"Bagus, setidaknya Bian masih akan terus ditahan sampai penyelidikan usai.


"Lama tidak melihat kamu Sel? kenapa pipi kamu mirip donat?" Brayen langsung tertawa karena melihat Isel berisi.


"Kamu tidak melihat saja isi kamarnya penuh makanan anak-anak." Dean tersenyum melihat Isel yang sudah cantik dan rapi.


"Tidak heran lagi, dia memang wanita aneh." Brayen memberikan sesuatu kepada Isel sebagai ucapan terima kasih dari Alika.


Senyuman Isel terlihat, memeluk lengan Dean yang berjanji akan membawanya jalan-jalan keluar.


"Kenapa kalian datangnya sekarang, tiga minggu aku betapa di rumah tidak ada yang datang saat ingin jalan keluar baru kalian datang." Isel mendorong temannya keluar apartemen.


"Kamu ingin pergi ke mana Sel?"


"Pacaran, kalian juga cari pacar jaman lama jomblo." Isel menatap Laura yang patah tangan.


Tawa Isel terdengar, memegang tangan Laura yang patah karena balapan liar, dia jatuh dari perbukitan saat mengikuti aktraksi.


"Bodoh banget kamu Laura, sebaiknya kamu menikah sudah tua tingkahnya kekanakan." Isel mengambil ballpoint memberikan tanda tangan.


"Kamu yang kekanakan Sel, aku juga heran malaikat maut lama banget menjemput mami tiri aku biar aku bisa bisa pulang dan tidur tenang." Laura membutuhkan liburan karena terlalu pusing berpikir.


"Kalian ikut aku saja, soalnya ada peresmian villa teman lama. Silahkan tenangkan pikiran kalian lalu balik semua." Dean mengunci pintu membawa kunci mobil.


Teriakkan tiga wanita terdengar, Dean dan Brayen tutup telinga. Kepala Brayen berdenyut karena suara melengking.


"Kak Dean tidak pusing?"

__ADS_1


"Biasa saja, aku sudah biasa menghadapi wanita model mereka." Dean berjalan ke arah lift.


Di lantai bawah ada Weni dan Ren yang masih belum berani menunjukkan dirinya di depan umum sampai kasus Dean selesai.


"Astaga Wenda, mereka berdua saja naik ke atas sedangkan kamu masih duduk santai di sini hanya karena ada laki-laki." Isel menjambak-jambak rambut Weni agar keluar mobil.


"Sakit Isel Jing, lama kamu tidak muncul semakin buas." Weni mengusap rambutnya yang berantakan.


"Sel, masuk mobil." Dean membukakan pintu mobil.


Mata Weni menatap tajam melihat badan Isel yang mulai berisi, kebiasaan lama Isel jika stres pasti mengurung diri dengan cemilan segudang.


Dua mobil melaju pergi, Isel sibuk berbicara dengan Brayen soal Alika. Tanpa Isel sadari jika suaminya sudah terlelap tidur.


"Tumben tidur, perasaan Uncle tidak bisa tidur di mobil." Isel mengusap wajah suaminya.


"Siapa yang mengatakan Kak Dean tidak bisa tidur di mobil, hampir setiap hari dia menghubungi aku hanya untuk menjemput dan mengantarnya bekerja. Setiap terkena angin langsung tidur." Brayen juga heran karena tidak sampai lima menit Dean tumbang.


Senyuman Isel terlihat, tidak menyangka jika Dean ternyata juga mengalami keanehan. Belum pernah sekalipun Isel melihat Dean tidur di mobil, bahkan di pesawat juga bisa dihitung jika dia lelah saja.


"Anak baik, ternyata suka papanya juga." Isel mengecup pipi suaminya yang tidur seperti anak kecil.


Kedua tangan Dean memeluk Isel, tidur di dalam pelukan membuat tidurnya semakin nyaman.


"Sel, kenapa kamu menolong Lika?" tanya Vio yang fokus menatap ke depan.


"Tidak tahu, aku terpikirkan dengan Hairin, dia mengorbankan dirinya demi Alika, maka tidak ada salahnya memberikan kesempatan." Isel mengusap perutnya karena tidak menyangka anaknya memiliki hati yang baik seperti papanya.


"Kemungkinan minggu depan aku kembali bersama Ren, dia harus mempertanggung jawabkan kesalahannya. Tidak ada gunanya dia bersembunyi." Vio sudah bicara dengan Ren dan siap bertanggung jawab.


Kepala Isel mengangguk, meminta Vio berhati-hati dengan tugas selanjutnya. Isel akan kembali beberapa bulan kemudian setelah kontrak kerja Dean selesai.


Tarikan napas Vio terdengar, dia akan pindah tugas di perbatasan membantu beberapa agen rahasia. Mungkin bisa saja dia tidak akan pulang dengan selamat.


"Aku benci menjadi polisi yang baik," ujar Vio meringis takut mati.


"Kamu akan bertemu dengan Ghiondra di sana, dia yang memimpin di perbatasan." Isel tersenyum berharap Vio dan kakaknya bisa akur.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2