
Pagi-pagi Aira sudah ada di rumah kakaknya, belum ada tanda-tanda bangun. Ai melihat jam tangannya yang sudah tidak memungkinkan untuknya menunggu karena sudah waktunya untuk pergi bekerja.
Ai langsung keluar, berlari kembali ke rumah. Aira ada pemotretan bersama Blackat, dan ini kerja sama pertama mereka setelah beberapa tahun.
"Ai, darimana kamu pagi-pagi?"
"Ingin melihat Kak Juan, tadi malam mereka baru malam pertama,"
Aliya langsung teriak mengangetkan Aira, bagaimana bisa memiliki anak cepat jika bercocok tanam saja lama.
"Mereka masih muda Aliya, jangan memaksa. Biarkan menghabiskan masa muda dalam keadaan halal. Daripada yang pacaran, tapi membuat dosa." Alt menatap Ai yang menganggukkan kepalanya.
Aliya dan Aira hanya angguk kepala, jika Altha sudah membahas dosa maka mereka berdua yang paling banyak dosanya.
Melihat dua wanita keras kepalanya, Altha menjadi gelisah apalagi Aira sudah cukup dewasa untuk menikah.
Alt berjalan ke rumah Dimas, ingin menemui Blackat untuk memastikan perasaannya terhadap Putrinya yang centil.
Di rumah Angga dimarah karena menadatangani kontrak kerja karena dia hanya boleh beraktivitas setelah satu tahun, bukan tiga bulan.
Daddy meminta dibatalkan meksipun mereka harus membayar ganti rugi, hanya Mommy yang diam saja menatap Putranya.
"Kenapa kamu ingin bekerja Nak? Daddy mengkhawatirkan kamu, apa bosan berada di rumah?"
Kepala Angga menggeleng, dia bukan bosan hanya merasa memiliki tanggung jawab saja. Dia masih memiliki kontrak, meskipun agensi yang menaunginya milik Lea tetap saja Angga harus menyudahi kontrak.
Jika ingin dibatalkan tentu saja bisa, tapi Angga tidak ingin merusak nama baik Blackat yang sudah dibangun dari nol.
"Angga hanya melakukan shooting iklan, bukan bermain film action. Angga akan mengundurkan diri setelah kontrak habis dan meninggalkan dunia entertainment." Kepala Angga masih tertunduk tidak memaksa mengubah keputusan Daddy-nya.
"Daddy tidak meminta berhenti, bagaimana jika terjadi sesuatu?"
"Dia lelaki Dimas, kita sudah ditembak saja langsung bangun lagi. Bagaimana dulu aku menghentikan kamu yang keras kepala?"
"Beda cerita Altha, itu aku jika anakku tidak boleh,"
Tawa kecil Anggun terdengar, kasihan melihat suaminya. Putra keduanya juga sama tidak bisa dihentikan yang lebih pilih di luar rumah dengan kesibukannya, ditambah Putra pertamanya yang juga harus bekerja di lokasi shooting.
Tatapan Dimas sinis, Altha ikut campur saja membela Angga yang ingin kembali untuk tampil di depan media.
__ADS_1
"Jam berapa pulangnya?"
"Tidak pasti Dimas, lihat saja baru pulang setelah tiga bulan, istirahat sehari besoknya pergi lagi," Alt menimpali membuat Dimas semakin kesal.
"Aira dan Angga beda," ucap Dimas memukul meja.
Suasana mendadak tegang, Altha dan Dimas saling banding karena kedua anak mereka seorang selebriti terkenal. Sibuknya keduanya juga sama.
Pintu kamar terbuka, Dean mengeluarkan kepalanya melihat keributan yang tidak biasanya terjadi di rumahnya.
Sejak Diana menikah, kehidupan di rumah tenang hanya sesekali saja jika Isel sedang menginap.
"Apa yang diributkan? tolong tenang, aku baru saja pulang pagi ini. Dean ingin tidur,"
"Diam Dean!" Altha dan Dimas membentak bersamaan.
Mendengarkan debat yang semakin serius, terpaksa Dean keluar duduk di samping Kakaknya yang juga kebingungan.
"Apa yang mereka ributkan Kak?"
"Gara-gara aku ingin shooting lagi,"
"Ayo, Papi teruskan Daddy. Sudah tua masih berantem." Aira tertawa, merangkul Dean dan Angga yang geleng-geleng.
Setelah tenang barulah Dimas mengizinkan Angga untuk shooting kembali, meksipun harus dibatasi karena tidak boleh terlalu kelelahan.
"Terima kasih Daddy,"
"Satu lagi pertanyaan Daddy, kalian berdua ini pacaran atau apa? mengetahui punya anak aktris jadinya aku harus membaca hal seperti ini." Dimas meletakkan ponselnya yang penuh dengan berita hubungan Angga dan Aira yang sudah kandas.
"Sekarang kamu tahu rasanya galaunya aku," balas Altha.
Kepala Dean menggeleng, Daddy-nya terlalu ketinggalan zaman karena dia hanya membaca berita kejahatan dan kriminal, tidak tahu soal anak muda.
Apa yang diberitakan belum jelas kepastiannya, media sengaja memancing penggemar untuk meramaikan.
"Daddy hanya bertanya kepada Angga sebenarnya bagaimana hubungan kalian?"
Semua orang melihat ke arah Angga yang menatap mata Daddy-nya, Aira juga penasaran selama ini hubungan mereka sebatas apa?
__ADS_1
Angga mengakui jika hubungaan dengan Aira hanya sebatas kerja, mereka hanya memiliki kontrak kerja sama untuk menaikkan rating.
Awalnya Angga menganga rekan kerja, tapi di hati Angga mengangumi Aira selain dia wanita hebat dan pekerja keras juga sangat profesional.
"Kak jawab saja iya atau tidak, kita tidak ingin tahu asal usulnya hubungan kalian. cukup jawab yes or no, dapat cowok seperti ini sudah lama aku putuskan untuk mengakui cinta saja butuh waktu 30 hari." Dean memukul lengan Kakaknya pelan, memintanya hanya mengatakan iya atau tidak.
"Iya atau tidak?" Altha langsung menaikkan nada bicaranya.
"Iya, aku mencintai Aira,"
"Nah begitu apa susahnya, dia mirip siapa Mom, harga dirinya tinggi sekali. Mengakui cinta saja harus menembus langit ke tujuh, balik lagi ke bumi, terjun kedalaman air, mengelilingi gunung tidak ada ujungnya" Dean mengusap dadanya yang emosi, Aira memukul punggung Dean agar sabar.
Tawa Anggun dan Altha terdengar, Angga sangat mirip dengan Dimas yang tidak bisa mengatakan cinta.
Menjaga perasaannya sangat rapat, bahkan angin juga tidak bisa masuk. Angga tidak banyak tahu soal cinta.
"Jika kamu mencintai Aira, segera perjelas hubungan kalian jangan sampai keluar jalur," Alt memberikan peringatan.
Arah mata melihat kepada Aira, Angga bisa dipercaya, tetapi tidak dengan Aira. Dia tidak bisa dipercaya soal cinta.
"maksudnya Om ingin kami menikah?"
"Apa kalian ingin selamanya pacaran?"
Angga langsung terdiam, tentu dirinya ingin menikah, namun tidak ingin terburu-buru apalagi keuangan Angga yang sudah menurun drastis.
Seluruh sahamnya diberikan kepada anak asuhnya, sehingga Angga hanya memiliki uang di rekening. Angga tidak ingin anak orang kelaparan hidup bersama.
"Angga ingin menikah, tapi tidak terburu-buru. Angga tidak memiliki banyak uang karena sudah lama tidak menerima gaji.
Kening Altha berkerut begitupun dengan Dimas. Angga mengungkapkan ketulusan yang ingin menikah, namun dia harus mengumpulkan uang terlebih dahulu dengan memberikan yang terbaik untuk pernikahannya.
Seorang wanita pasti menginginkan pesta pernikahan, Angga sedang mengusahakan agar Aira menjadi wanita paling beruntung.
"Uang kita juga uang kamu, Nak,"
"Tidak Mommy, Angga laki-laki tidak boleh menjadi penikmat. Izinkan Angga bekerja untuk memenuhi kewajiban, bukan tidak menghargai lelaki harus bertanggung jawab untuk masa depannya bukan meminta ditanggung orangtuanya." Angga mencium tangan Mommy mengucapkan banyak terima kasih.
Senyuman Dimas terlihat, Putranya sangat mirip dirinya yang tidak ingin menjadi beban siapapun.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira