SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERSENDA GURAU


__ADS_3

Suara kaki Isel bermain air di kolam ikan terdengar, di samping Isel ada kue ulang tahun miliknya yang sedikit demi sedikit mulai terkikis.


Senyuman Diana terlihat, melangkah ke dekat putrinya yang sedang asik menikmati malam yang sunyi.


"Ada apa Ma? lihat ikan Isel sedang tidur," ucap Isel sambil tersenyum karena bisa merasakan kedatangan Mamanya.


"Kamu tahu jika ini Mama?" Diana langsung duduk di samping putrinya yang menikmati kue di tengah malam.


"Bagaimana mungkin Isel tidak tahu, sembilan belas tahun setelah keluar dari rahim, hanya Mama orang pertama Isel lihat. Hembusan napas Mama juga Isel tahu." Tawa kecil Isel terdengar menatap wanita yang masih nampak cantik.


Kecantikan yang selalu Isel kagumi, Mamanya tidak pernah terlihat jelek sekali bangun tidur, marah juga mengamuk, bagi Isel ekspresi Mamanya selalu cantik.


Tangan Diana mengusap kepala wanita satu-satunya yang dia miliki, Diana tidak rela jika Isel pergi jauh darinya karena melahirkan Isel mempertaruhkan nyawanya.


"Mama kecewa dengan Isel, katakan Ma alasannya? sejauh ini Isel tidak merasa bersalah, dan tidak berniat mundur," ujar Isel masih saja bertahan dengan pendiriannya sekalipun tahu Mamanya berada dalam dilema.


"Sel, kamu tahu siapa Mama, dan siapa keluarga Dirgantara?" tanya Diana pelan.


"Isel tidak peduli Ma," balas Isel singkat.


"Mama berhutang budi kepada Dean dan keluarganya, Mommy Anggun begitu baik ...."


"Alasan Isel mencintai Uncle Dean karena keluarganya baik," balas Isel memotong ucapan Mamanya.


Pukulan Diana kuat dipunggung Isel, wajah Isel langsung meringis kesakitan, bergeser duduk menjauhi Mamanya yang sangat emosional.


"Orangtua bicara dipotong terus, tidak punya otak anak satu ini." Diana melayangkan tendangan.


"Mama ... nanti kue Isel jatuh. Seharusnya Mama bernaynyi happy birthday Isel, happy birthday happy birthday happy birthday Isel." Senyuman Isel terlihat memeluk kuenya.


"Kenapa harus Dean Sel?"


"Kenapa tidak boleh Uncle? haruskah Isel mencari pasangan lain, Mama mengenal Bian tidak?"


"Aku bunuh kamu berani berhubungan dengannya!" seru Diana semakin emosi.


Suara Isel tertawa terbahak-bahak terdengar, meletakkan kuenya langsung memeluk Mamanya yang sangat marah.


Gemal memperhatikan interaksi Diana dan Isel yang jauh lebih baik, keduanya sangat jarang bersenda gurau.


Diana menepis Isel agar menjauhi dirinya, Diana tidak tertarik dirayu dengan ciuman genit Isel.

__ADS_1


"Mama, Isel sangat mencintai Uncle. Isel juga benci perasaan ini Ma, tapi tidak mampu mengendalikannya. Lima tahun aku menyimpan rasa ini, banyak lelaki tampan, dan hebat, tapi kenapa harus Uncle cinta pertama Isel?" teriakkan Isel terdengar memeluk Mamanya sambil menangis.


Diana mengusap punggung putrinya, meksipun nanti Dean menepati janjinya cinta Isel tidak tersampaikan. Dean menikah tanpa perasaan, Isel hanya akan terluka jika Dean memperlakukannya tidak baik.


"Sel, menikahi tanpa cinta tidak akan bahagia sayang, kenapa tidak menunggu saja Dean mencintai kamu?"


"Jangan bicara hal mustahil Ma, ini bukan cerita Cinderella." Bibir Isel maju ke depan menatap sinis.


"Baiklah, Mama tidak punya pilihan. Kita tunggu keputusan Dean kapan waktu yang tepat untuk menikahi kamu, tapi ingat Sel belajarlah untuk terbuka dengan Mama," pinta Diana serius tidak ingin kedua orang yang dicintainya tersakiti.


Kepala Isel mengangguk, dia ingin mengatakan semuanya perjalanan rumah tangganya. Isel pastikan dirinya dan Dean akan bahagia.


"Mama tidak yakin Sel, kamu bisa masak, pernah berbenah rumah?"


"Ma, Isel ini calon istri bukan pembantu," jawab Isel kesal dengan masak dan mengurus rumah.


Kedua tangan Diana meremas kepala Isel, Dean pria yang sangat bersih, dia juga mandiri dan hemat. Dia pintar mengatur keuangannya, memiliki pikiran yang logis. Apapun yang Dean miliki terdata dan tersusun rapi, berbanding kebalik dengan Isel yang amburadul.


"Berapa banyak kekayaan Uncle?"


"Lebih kaya dari kamu, dia bahkan membayar kasus banyak orang demi mendapatkan keadilan. Kamu bisa bayangkan betapa bijaksana dia, harta yang dimiliki digunakan untuk hal penting, tidak seperti kamu." Diana tidak bisa membayangkan keributan setiap harinya di dalam kehidupan Dean.


Tawa Diana terdengar, dia saja yang puluhan tahun menikah tidak mampu menjadi ibu rumah tangga yang baik, apalagi Isel yang sejak kecil hidup dalam kemewahan.


"Ma, ingin ikut Isel tidak?"


"Ke mana, sudah larut malam?"


"Dugem ... Mami Aliya yang paling suka tempat seperti ini." Isel menahan tawa.


Kepala Diana menggeleng, tidak heran Dean selalu mencemaskan Isel ternyata putrinya bukan mirip dirinya, tapi Aliya.


Al sudah memiliki selusin cucu juga masih mencari kesempatan untuk ke tempat dunia malam, apalagi saat suaminya diluar kota. Orang yang mengikuti Aliya turun kepada Isel.


"Kamu ingin melihat Papa Gem mengamuk?"


"Tunggu Papa dinas, cari aman saja Ma. Isel sudah lama tidak bergoyang, berjoged, bernyanyi dan berpesta." Isel menatap langit, tidak tahan jika mendengar musik berdentum.


Suara Gemal berdehem terdengar, Isel langsung menutup mulutnya melihat Papanya memicingkan mata.


Senyuman Isel terlihat, langsung berlari ke dalam pelukan Papanya. Diana tersenyum melihat suaminya yang terlihat bahagia bisa memeluk Isel kembali.

__ADS_1


"Apa tidak terlalu cepat menikah Sel, Papa masih ingin memeluk kamu seperti ini?" tanya Gemal tidak ingin melepaskan Putrinya.


"Papa," panggil Isel pelan.


"Baiklah, menikahlah asal Isel janji akan bahagia. Apapun masalah katakan kepada Papa, jangan menanggung sendiri." Gemal melepaskan pelukannya.


Isel mengecup kedua pipi Papanya, Gemal juga mengecup kening Isel memintanya untuk tidur.


Tatapan Gemal tajam ke arah istrinya, memberikan peringatan untuk tidak tergoda dengan ajakan Isel untuk berpesta.


"Banyak larangan," sindir Diana sinis ke arah suaminya.


"Ingat umur, nanti lagi joget sakit pinggang," sindir Gemal balik, Diana langsung melayangkan pukulan ke arah suaminya, tapi cepat Gemal menghindar.


Di dalam kamar Diana dan Gemal sepakat jika keputusan Dean sudah tepat, apalagi Isel menyebut nama Bian. Pria psikopat yang menyembunyikan wanita rahasia bertahun-tahun tanpa identitas.


Daripada Gemal harus bertarung dan mengibarkan bendera perang, lebih baik melepaskan putrinya menikah dengan orang yang tepat.


"Good night Ayang Gem," ucap Di.


Suara mobil keluar garasi terdengar, Gemal langsung berlari ke arah balkon melihat mobil Isel meninggalkan rumah di jam dua dini hari.


"Isel," panggil Gemal emosi.


"Kabur lagi, pasti dia ingin party bersama teman-temannya. Gion juga belum pulang, sedangkan Ian pilih betugas di rumah sakit. Punya tiga anak kembar, dan ketiganya lebih suka di luar rumah." Diana hanya mengangguk pelan membiarkan Isel pergi.


Gemal mengacak-acak rambutnya, tidak paham siapa yang dituruti anaknya terutama Isel yang sangat menyukai dunia malam.


Panggilan dari Dean masuk, Gemal langsung menjawab membenarkan jika Isel keluar.


"Kenapa tidak dihentikan Kak?"


"Bagaimana aku menghentikan, dia pergi tanpa izin?" Gemal kaget melihat panggilan mati, Dean sangat berani sampai memarahinya.


"Siapa Ayang Gem?"


"Dean belum tidur, dan bertanya keberadaan Isel." Gemal melemparkan ponselnya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2