
Senyuman Aira terlihat, setelah beristirahat selama berbulan-bulan akhirnya Aira bisa kembali lagi melakukan pemotretan.
"Ai, sudah melihat berita soal kamu tidak?"
Kepala Aira melihat ke arah manager barunya yang sementara waktu mengantikan Lea, orang paling update yang mengikuti sosial media.
"Berita apa Kak Maya?" Ai langsung mendekat melihat kabar Aira bersama pria lain menjadi sorotan.
"Netizen gila, seharusnya mereka up up up konten yang membuat aku dan Blackat segera menikah." Ai tersenyum kesal karena dia akan sibuk persiapan lamaran.
Keputusan resmi perusahaan keluar, Maya meminta Aira melihat hasil rapat jika Angga menolak media saat lamaran dan ijab kabul.
Acara lamaran hanya akan diadakan oleh keluarga besar, berserta tamu-tamu penting. Begitupun dengan acara ijab kabul yang akan diadakan lebih tertutup lagi.
Senyuman Aira terlihat, Angga begitu menjaga privasi keluarga, tapi tidak ingin mengecewakan para penggemar juga.
"Kapan perkejaan aku selesai?" Ai menatap Maya yang langsung meminta pemotretan Isel dipercepat.
Selesai bekerja Isel menghubungi Angga untuk bertemu, mereka sudah dua bulan tidak bertemu karena Angga bekerja di luar kota untuk menyelesaikan filmnya.
"Aira, masuk mobil sekarang." Angga membuka jendela mobilnya barulah Aira berlari.
Mobil Angga melaju meninggalkan perusahaan untuk pulang, keputusan terakhir keinginan Aira dan Angga menikah sudah disetujui setelah lima bulan memperjuangkannya.
"Aku sudah mendengar cuplikan soal lamaran, kenapa begitu privat?"
"Bukan soal privat, tapi tidak semua kehidupan pribadi kita harus dipublikasi. Salah satunya keluarga, apalagi anggota keluarga bukan orang sembarangan." Angga tahu jika fakta tidak bisa disembunyikan sebagian orang pasti tahu Aira siapa keluarganya namun pilih diam karena memang bukan untuk konsumsi publik.
"Kapan bicara sama Mami dan Papi?"
"Aku bertanya kepada Mommy Daddy dulu, mereka juga menunggu keputusan perusahaan barulah bisa bergerak." Keputusan Angga untuk menjaga identitas keluarga didukung oleh Mommy Daddy.
Mobil Angga berhenti di mall, Aira kebingungan melihat seseorang yang berlari mengantarkan sesuatu.
"Apa itu Yang?"
"Baju untuk Isel, beberapa bulan yang lalu dia ulang tahun yang ke tujuh belas, tapi kita tidak ada yang bisa datang hanya Kak Diana dan keluarga yang pergi. Dan ingin memberikan kejutan." Senyuman Angga terlihat dia juga harus membelikan hadiah untuk enam keponakan kecilnya yang behasil mengejar target belajar.
Kepala Aira mengangguk, dia juga sampai melupakan jika saingannya sudah berusia tujuh belas tahun.
Ai mengecek baju yang Angga belikan terlihat sangat cantik, Isel pasti bahagia sekali mendapatkan hadiah dari Angga.
__ADS_1
"Kenapa bajunya berwarna pink?"
"Mobilnya juga warna pink," balas Angga.
Aira langsung terduduk lemas karena dia tidak dibelikan apapun, sedangkan Isel selalu mendapatkan perhatian lebih.
Tangan Angga menggegam jari-jemari Aira, menanyakan apa yang dia inginkan. Ai memiliki segalanya dan apa yang dia inginkan selalu Angga turuti.
"Kiss,"
"Nanti saja Ai, kamu suka kebablasan." Angga langsung kaget karena Aira mencium pipi sambil menggigitnya.
"Cukup nikahi Aira maka kita akan berdamai." Aira mengusap pipi Angga yang merah karena kulitnya putih.
Di rumah sudah heboh saat mobil mewah berwarna pink dibawa masuk, anak-anak berlari menyambutnya.
Teriakkan Isel histeris saat mengetahui ada mobil berwarna pink yang sudah dimodifikasi, Isel berlari kencang demi bisa memeluk mobil cantik.
"Papa, Isel mau mobil ini, Kakek Isel mau." Suara merengek terdengar ingin mencoba memakainya.
"Tunggu dulu yang punya Isel," ujar Diana yang duduk santai bersama yang lainnya.
Mobil Angga juga masuk pekarangan rumah, Aira keluar lebih dulu langsung berlari melihat mobil mewah yang Angga bicara.
"Kak Aira beli mobil baru?"
"Iya, cantik tidak?" Ai menggoda Isel yang nampak sedih mengusap mobil impiannya.
Anak-anak sudah berlari menggunakan baju berwarna pink yang Angga belikan, menari di tengah lapangan karena menyukai baju baru mereka.
"Sel, hadiah dari Uncle." Angga menyerahkan paper bag berisikan baju.
"Kenapa hanya baju, Isel juga suka mobil ini?" tatapan Isel kesal mengikuti keinginan Angga untuk segera ganti baju.
Hentakan kaki Isel terdengar, berjalan ke dalam rumah untuk berganti baju hanya untuk foto bersama.
Aira meminta semua orang kumpul, tidak peduli asisten atau siapapun harus berdiri di depan memberikan selamat ulang tahun.
"Kenapa tiba-tiba, tidak ada konfirmasi?" Diana kaget Aira dan Angga ingin memberikan kejutan untuk Isel yang sudah lama tidak pulang.
Beberapa mobil berhenti, Iyan dan Gion diminta masuk ke rumah dan ganti baju berwarna pink juga.
__ADS_1
"Ada acara apa?" Dean, Juan dan yang lainnya keluar semua.
"Iyan tidak mau menggunakan baju pink, Isel saja yang diberikan kejutan." Iyan berdiri di samping orang tuannya.
Aira megeluarkan kue berwarna pink, begitupun dengan Lea yang datang membawa kue berwarna pink sesuai pesanan Aira.
"Happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday Ghiselin." Teriakan semua orang terdengar.
Air mata Isel langsung menetes, membalik badannya langsung menangis. Sebisa mungkin mengusap air matanya berjalan mendekati keluarga.
"Telat, Isel sudah lama ulang tahunnya." Isel meniup lilin.
Angga membakar lilin kembali, meminta Gion dan Iyan juga tiup lilin karena mereka juga berulang tahun.
"Peluk dulu, selamat ulang tahun Isel. Sekarang sudah jadi gadis sesungguhnya, sudah bisa membawa mobil sekarang?" tanya Aira mengusap air mata adik sepupunya.
"mobilnya untuk Isel ya Kak, Isel mau." Tangisan Isel terlihat meminta mobil yang ada di belakang Aira.
"Ini hadiah dari Uncle Angga, dia tahu kamu sedang menyukai mobil ini,"
"Minggir Aira, aku pikir kamu yang membelinya baru saja ingin disayang, ternyata dari Uncle." Isel mendorong Aira untuk menjauhinya.
Tawa Angga terdengar memeluk Isel yang sangat menyukai hadiah yang Angga berikan. Angga berharap Isel mematuhi rambu-rambu lalulintas.
"Gion tidak punya Uncle?"
"Sudah Uncle kirim beberapa bulan yang lalu hadiah kamu dan Ian." Angga memeluk dua kembar yang berbeda wajah.
Semuanya mengucapkan selamat ulangtahun yang ketujuh belas untuk tiga kembar yang sudah menjadi remaja dewasa.
Suara Mora dan Mira menari terdengar, keduanya sangat menyukai gaun yang di belikan oleh Angga.
"Mereka berdua happy sekali, sampai menari bahagia." Tika tersenyum mengucapkan terima kasih kepada Angga yang tidak melupakan mereka.
Kepala Angga mengangguk, jika tidak dibelikan pasti akan menganggu sehingga repot sendiri jika punya hadiahnya sendiri pasti lupa dengan hadiah orang.
"Memeng, kita punya gaun baru." Mira memegang dua tangan kucing barunya diputar hingga lepas.
Gemal mengelus dada melihat anak perempuannya yang membuat kucing terbang hingga nyangkut di atas pohon.
Kepala Aira dan Isel geleng-geleng, Mora sudah memanjat pohon untuk menyelamatkan kucingnya.
__ADS_1