
Pagi-pagi Dean sudah teriak-teriak memanggil Mira dan Mora yang bertengkar, Ura penyebab pertengkaran keduanya karena sangat jahil.
"Mora berhenti, kalian berdua sudah besar masa iya mengepung anak kecil?" Dean menggendong Ura yang sudah cekikikan tertawa mengejek.
"Terus masalahnya apa? jangan karena dia masih kecil bisa berbuat sesuka hatinya. Jika berani dua saudara kamu kita adu, jika perlu minta bantuan Husein Hasan, dua makhluk astral itu juga." Mira menunjuk ke arah adiknya yang sedang makan.
"Kakak Mira juga saudaranya Ura, kenapa meminta Ajun yang bertengkar?"
"Iya Kakak, bertengkar tidak baik. Ayo makan saja," ujar Andri yang takut kepada Mira Mora.
"Kamu kenapa lewat depan aku?" Mora mendorong Andra yang senang membawa minum hampir tumpah.
Gelas dilempar ke arah wajah Mora, Dean langsung menghalangi sampai mengenai perutnya.
Andra tidak meminta maaf langsung melangkah pergi, Ura turun dari gendongan mengikuti Kakak lelakinya yang tidak takut pada Mora dan Mira.
"Ada apa Bi?" Isel yang baru keluar dari kamar tertawa melihat baju suaminya basah.
"Biasalah jika mereka kumpul pasti bertengkar," jawab Dean yang masih sabar.
"Ganti baju dulu, Isel tunggu di depan." Suara Isel lari terdengar mengejar Ura yang juga berlari keluar karena dikejar Mora Mira.
"Bunda, tulong Ura."
Kedua tangan Isel menangkap, memeluk erat Ura agar tidak diamuk masa karena suka menjahili orang.
"Aunty Isel ayo kita bertarung, sudah lama tidak adu," ucap Mira merindukan kemampuan Isel.
Dari balkon lantai atas suara Ian terdengar melarang Isel untuk bertarung, lebih baik dia duduk manis seperti Ai dan Lea yang sedang bertengkar berebut makanan padahal ada banyak.
"Sayang, ayo kita periksa kondisi kamu dulu. Kak Di sudah menunggu di rumah sakit." Dean meminta Mira dan Mora bertengkar berdua.
"Bunda akit apa?"
"Bunda tidak sakit hanya cek kesehatan." Isel menurunkan Ura agar pulang ke rumah.
"Apa Bunda sama cepelti Mimi, kata Pipi ada dedek di pelut?"
Senyuman Isel terlihat hanya bisa geleng-geleng, tidak ada baby di dalam perutnya seperti apa yang Mimi Ura miliki.
"Abi pergi dulu, Mora Mira jaga Ura. Kalian berdua tidak boleh menyakiti adik." Dean mengecup kening Ura yang langsung menangis ingin ikut.
Suara teriakkan Ura terdengar, Aliya sampai keluar bersama Aira melihat Ura memaksa ingin ikut pergi.
Ai menarik tangan Ura untuk pulang, tangisannya semakin kuat memukuli Ai tidak ingin pulang.
__ADS_1
"Ikut Abi," pinta Ura.
"Tidak boleh, Abi ingin ke Dokter memeriksa Bunda bukan bermain. Kamu mau disuntik?" Ai menarik telinga Ura.
"Ura belah palanya," jawab Ura marah.
"Kepala Dokter ingin kamu belah, perempuan sinting. Cepat masuk ke dalam rumah."
Mata Aira melotot, Ura bukannya lari ke rumah, tapi masuk ke dalam mobil. Aliya meminta Ura turun karena Bundanya ingin ke Dokter.
"Ura ikut," teriakkan Ura terdengar.
"Biarkan saja Mi, daripada dia mengamuk." Dean terkejut melihat ke kursi belakang karena Mora dan Mira juga sudah naik lebih dulu.
Tawa pelan Isel terdengar menutup mulutnya merasa lucu melihat wajah suaminya yang pusing karena banyak yang ikut, rencana moments berdua gagal total karena tiga wanita sudah duduk manis.
"Jangan nakal kalian bertiga," pinta Dean mengancam.
Dean pamitan pergi kepada Mami Al dan Aira yang meminta Dean segera berangkat karena mata Aira sudah mengantuk harus pergi ke pulau kapuk.
Sepanjang perjalanan Isel mendengarkan cerita Mimor soal sekolah, dua remaja kembar beda rahim yang tidak pernah terpisahkan.
"Bagaimana rencana kalian berdua ingin menjadi artis?"
Senyuman Mira Mora terlihat, menggeleng cepat. Mira ingin menjadi polisi di bagian kejahatan agar bisa memberantas kejahatan, sedangkan Mora ingin menjadi Dokter tentara.
"Ura cita-cita jadi maling." Tawa Ura terdengar langsung diam setelah kepalanya dipukul oleh Mira.
Tangisan Ura terdengar, Isel memegang perutnya karena susah menahan tawa ulah si kecil. Saat kedua kakaknya memiliki cita-cita besar, sedangkan dia ingin menjadi penjahatnya.
Pelukan Isel lembut meminta Ura berhenti menangis, menepuk punggungnya agar tidur, Ura duduk tenang dipangkuan Isel.
"Cucu Ura mana?"
Dean mengambilkan botol susu, Dean sudah hafal kebiasaan Ura yang selalu minum susu karena baru saja berhenti minum ASI.
Sesampainya di rumah sakit, Diana dan Mommy Anggun sudah menunggu. Kaget melihat ada tiga wanita yang ikut.
Dean menggedong Ura yang masih tidur, sedangkan Isel memeluk lengan Mommy dan Mamanya.
"Aunty Isel sakit apa Nenda?" Mira berjalan di samping Mommy Anggun.
"Bukan sakit sayang, hanya cek kesehatan saja."
Kepala Mira mengangguk menunggu di luar ruangan karena tidak boleh banyak yang masuk, Dean juga menunggu di luar karena Ura masih tidur.
__ADS_1
"Kak Di nanti jelaskan kepada Dean, soalnya ribet jika masuk."
"Iya," jawab Diana.
Di dalam ruangan, Isel berbaring untuk dicek kembali kondisi rahim sebelum mengambil tindakan. Mama Di juga menjelaskan ulang apa yang sebelumnya sudah dibahas.
"Sudah berapa bulan keguguran?"
"Jalan empat bulan," jawab Diana yang tahu pasti.
Dokter menanyakan jadwal terakhir Isel datang bulan, ada sesuatu di rahim Isel yang mengejutkan.
"Sejak keguguran tidak bulanan," ujar Isel yang semakin cemas.
"Ada apa Dokter Lili? apa rahim Isel mengalami hal buruk, Dokter sebelumnya mengatakan rahim harus dibersihkan takutnya ada kangker." Diana gemetaran saat bicara karena takut jika terjadi sesuatu kepada Isel.
"Masa kamu tidak tahu ini Diana, kenapa bisa ada kangker? ini janin yang sudah tumbuh." Dokter menujukkan ke arah layar melihat gumpalan kecil.
Suasana langsung hening, Mommy Anggun tidak merespon begitupun Diana dan Isel yang sudah meneteskan air mata.
"Maaf Dok bisa diulang tidak, kira-kira ini bahaya tidak?" Mommy Anggun mengusap air matanya.
"Siapa Dokter yang menangani sebelumnya?" Dokter Lili menghubungi seseorang yang merekomendasikan Isel.
Saat tahu orang yang meminta memang Dokter hebat tidak heran jika prasangka buruk keluarga berbeda dengan tindakan dokter muda yang sangat sulit ditemui.
"Kamu dirawat oleh Dokter Ghiandra, dia dokter hebat yang baru saja menemukan obat baru soal kandungan. Kamu beruntung sekali bertemu dia."
Tangisan Isel langsung pecah, dia tidak bisa mengatakan jika dokter yang sebutkan sebenarnya Kakaknya.
Pintu ruangan terbuka, Dean kaget mendengar Isel menangis. Bukan cuman Isel yang menangis, tapi dua orang yang mendampingi juga sudah banjir air mata.
"Sini sayang." Mama Di mengambil Ura dari Dean.
"Ada apa, kenapa menangis? jangan membuat aku takut." Dean mengusap air mata Isel yang terus mengalir.
"Bi, lihat layar itu." Isel menujuk ke arah layar.
Kepala Dean menggeleng tidak mengerti. Dia tidak tahu soal medis, dan tidak ingin tahu apapun.
"Istri bapak hamil," ucap dokter.
"Bagaimana bisa hamil?"
"Mana saya tahu, kalian yang membuatnya." Dokter tersenyum melihat Dean binggung.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira