SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
UNDANGAN


__ADS_3

Kabar Dean akan menikah tersebar, wanita yang akan dinikahinya masih menjadi rahasia karena tidak pernah melihat Dean dengan wanita manapun.


"Dean, aku ingin bicara?" Tangan Hairin menarik pergelangan tangan Dean.


Genggaman tangan Irin dilepaskan, Dean menatap tajam tidak nampak senyuman sedikitpun.


Ekspresi Dean sangat sinis, meminta Irin bicara cepat karena Dean harus ke kantor karena ada persidangan.


"Apa benar berita yang sedang dibicarakan?"


"Berita apa Rin, aku tidak punya waktu mengurus gosip tidak jelas. Jika bicara kamu bukan soal pekerjaan, maka aku pergi dulu." Tanpa senyuman sedikitpun, Dean langsung beranjak pergi.


Tidak puas tanpa hasil, Irin mengejar Dean kembali memintanya untuk bicara meskipun hanya sebentar.


Berita Dean akan menikah menganggu Irin, di rumahnya ada undangan pernikahan Dean yang dihadiri oleh orang terdekat dan anggota penting.


Langkah Dean terhenti langsung membenarkan jika dia akan menikah, staf kantor dan orang yang Dean kenal akan segera mendapatkan undangannya.


"Kamu akan menikah, menolak perjodohan Papa?" tanya Irin masih tidak percaya.


"Aku tidak menerima perjodohan, lagian itu hanya candaan Uncle Yandi. Daddy tidak langsung menyetujuinya." Dean melanjutkan langkahnya.


Suara langkah Irin mengejar masih terdengar, Irin berdiri di depan pintu mobil menahan Dean untuk pergi.


"Lalu bagaimana dengan aku, sungguh kamu tidak memikirkan perasaan aku?"


Kening Dean berkerut, dia tidak pernah memberikan harapan kepada siapapun. Sudah Dean peringatkan jika tidak pernah tertarik dengan wanita manapun.


"Minggir, aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkan perasaan orang lain," ujar Dean menyingkirkan Irin dari hadapannya.


"Orang lain, kenapa aku bisa menjadi orang lain di mata kamu?" teriak Hairin terdengar mengejar mobil Dean.


Kepala Dean menggeleng di dalam mobil, mengacak-acak rambutnya karena merasa risih jika ada wanita yang mengejarnya secara berlebihan.


Lelaki akan semakin asing jika terus dikejar, tapi dia akan mendekat jika wanita mampu jaga jarak dan membuatnya nyaman.


"Apa undangan sudah disebar, kenapa Isel tidak mengatakan apapun?" Dean menghubungi Isel, tapi tidak mendapatkan jawaban.

__ADS_1


Mobil Dean putar arah saat melihat lokasi keberadaan Isel, dipanggil tidak respon sama sekali karena Isel asik memancing di sungai tempat Blackat jatuh.


"Apa yang dia lakukan di bawah sana? aku pikir dia stres karena Kak Angga, tapi ternyata sudah menjadi hobinya." Kepala Dean hanya bisa geleng-geleng, merasa heran dengan sikap Isel yang sulit dipahami.


Lama Dean menunggu Isel dari jembatan atas, memperhatikan apa yang dilakukan Isel. Pancing bergerak, tapi Isel tetap diam saja tidak mengangkat.


"Apa Isel sedang menenangkan diri?" teriakkan Isel terdengar saat ada seseorang lompat dari atas jembatan.


Arus sungai nampak tenang, Isel hanya menatap saja seorang wanita terjun berniat bunuh diri.


Tangan timbul meminta bantuan, Isel langsung lompat ke dalam air menarik pinggang ke arah perahunya.


"Bagaimana rasanya mendekati kematian?"


Wanita di hadapannya Isel gemetaran karena dokter yang menanganinya memintanya lompat, dan hampir membunuhnya.


"Kamu wanita gila, aku meminta diobati dari stres dan depresi juga halusinasi, bukan mendekati kematian." Wanita dihadapan Isel nampak marah dan membenci Isel.


"Aku meminta kamu dirawat, tapi menolak mengatakan dalam keadaan baik. Jika kamu dalam keadaan baik, lalu mengapa terjun? hanya orang yang lepas kendali yang melakukannya." Senyuman Isel terlihat, menepuk pelan tangan memberikan semangat karena mengakui jika tidak normal bukan hal yang mudah.


Apa yang dirasakan nampak normal, tapi jika tidak terkendali apapun bisa terjadi tanpa disadari.


"Kamu tidak akan mampu membesarkannya dalam keadaan seperti ini, percaya kepadaku sebentar saja dirawat. Setelahnya bertemulah kembali dengan putrimu." Isel memeluk lembut menenangkan seorang istri yang dikhianati suami saat hamil hingga melahirkan.


Tidak akan ada wanita yang bisa normal saat berjuang memberikan keturunan, tapi kepercayaan dikhianati. Melahirkan saja bisa terkena baby blues syndrome, apalagi ditambah kehilangan suami.


"Bagaimana anakku?"


"Kamu percaya aku, jika percaya aku pastikan putrimu dalam keadaan baik." Isel mendekatkan perahu ke daratan.


Tangisan keluarga terdengar, memeluk putrinya yang mengalami depresi ulah perselingkuhan suaminya. Selalu melakukan bunuh diri, terkadang lepas kendali ingin membunuh anaknya.


"Dokter, tolong anak kami," pinta wanita tua.


"Aku tidak bisa melakukan apapun, tapi semuanya berawal dari pasien. Kita rawat terlebih dahulu karena ada banyak orang yang akan memberikan perawatan terbaik." Isel menyakinkan keluarga pasiennya untuk berlapang dada.


Terkadang kita harus sakit sebelum bangkit, menjaga kewarasan bukan hal yang mudah. Isel hanya membantu sebisa dirinya, jika didengarkan dirinya bersyukur, namun jika tidak berarti tahu resikonya.

__ADS_1


"Aku ingin dirawat demi anakku, dan diriku. Terima kasih dokter sudah membuka mata saya jika aku mati anakku akan menderita." Wanita yang terjun menatap bayi yang digendong jauh darinya.


Kepala Isel mengangguk, langsung pamit pergi membawa tasnya. Langkah Isel lemas dalam keadaan basah kuyup karena terjun ke dalam air.


Di dalam hati Isel mengumpat karena pekerjaan begitu ekstrim, jika dokter lain duduk santai di ruangan, tapi dirinya tidak bisa bicara di dalam ruangan. Rasanya Isel ingin mengajari cara membunuh suami tukang selingkuh.


"Kenapa kepala kamu tertunduk sepanjang jalan?"


"Tidak tahu, pekerjaan ini menyebalkan karena gaji kecil resikonya besar. Bisa saja orang yang depresi menjambak-jambak rambut Isel tidak sadar jika kejiwaannya terganggu." Isel menghela napasnya berkali-kali langsung kaget karena Dean yang bicara dengannya.


"Bekerjalah tanpa memikirkan gaji karena itu hanya bonus, kamu harus kerja dari hati yang memang berniat membantu orang." Dean tersenyum melepaskan jas kerjanya memasangkan ke tubuh Isel.


"Uncle bisa bicara seperti itu karena tidak merasakan jadi Isel, semua ini gara-gara Uncle?"


Tawa kecil Dean terdengar, mengangguk pelan mengiyakan jika dirinya yang salah karena Isel masuk jurusan yang tidak sejalan dengannya.


"Sel, kamu ingin lanjut kuliah tidak, Uncle punya rekomendasi?"


Kepala Isel menggeleng, menyilang tangannya tidak akan pernah kuliah lagi. Dirinya bisa gila jika harus belajar lagi.


"Isel tidak ingin sekolah, rekomendasi dari Uncle sesat semua." Isel menepis tangan Dean.


"Kamu sangat suka traveling, kenapa tidak kuliah ...."


"Tidak Uncle, Isel tidak ingin. Sekarang impian Isel hanya menikah, santai di rumah, punya anak, sudah begitu saja Isel bahagia. Sekolah Isel tidak ada gunanya." Tawa Isel terdengar berjalan di depan Dean yang menghentikan langkahnya.


"Memiliki anak tidak semudah itu Sel," jawab Dean dengan tatapan serius.


"Kenapa, Uncle tidak ingin memiliki anak dari Isel?" tawa dan senyuman manis Isel terlihat, dirinya akan menunggu sampai Dean siap.


Tangan Dean mengusap dadanya, meminta Isel masuk mobil, tapi kepala Isel menggeleng karena dirinya membawa mobil sendiri.


"By Uncle, sampai bertemu di rumah." Isel menyebrangi jalan, bersamaan mobil yang lewat secara tiba-tiba dengan kecepatan tinggi.


Suara benturan terdengar, tangan Dean gemetaran karena kakinya tidak bisa digerakkan lagi.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2