SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
KUMPUL BERSAMA


__ADS_3

Ketukan pintu terdengar, pelan-pelan Dean melangkah masuk ke dalam kamar kakaknya yang terasa begitu tenang.


Dean langsung duduk di sofa melihat Kakaknya yang sedang beribadah, terdengar sangat tenang berada di sisi Kakaknya yang begitu berbeda dengan apa yang dirinya dulu kenal.


"Pantas saja namanya Dewa, Daddy pintar memberikan nama ternyata memiliki hati yang begitu hangat." Dean tersenyum bahagia memiliki Kakak yang sangat berbeda dengan apa yang publik ketahui.


Blackat pria yang sangat dingin, pemarah, dan ditakuti. Dia lebih banyak dilihat keburukannya namun memiliki jutaan penggemar.


"Apa yang kamu lakukan di situ Dean, kamu sudah ibadah belum?" Angga duduk di pinggir ranjang kamarnya.


"Jika aku wanita juga pasti akan jatuh cinta, Kak Angga pria idaman." Tawa Dean terdengar menatap Kakaknya.


"Kamu juga hebat Dean, Kakak bangga sama kamu, masih muda namun sukses seperti Mommy. Kamu harus menjadi pengacara yang mampu membela," nasihat Angga mengagumi adiknya.


"Dean ingin menjadi jaksa Kak, Dean ingin membuktikan kesalahan pengacara yang membela kejahatan. Dean ingin maju melampaui Mommy," balas Dean begitu yakin.


"Mommy sudah menjadi hakim penuntut, berarti Mommy begitu hebat." Tangan Angga meminta Dean tidak membahas pekerjaan.


Daddy-nya nanti ngambek karena kedua Putranya tidak mengikuti jejaknya, memilih mengikuti Mommynya sehingga tidak boleh memuji salah satu.


Dean berbisik meminta Kakaknya menjadi polisi agar Daddy-nya bangga dan bahagia karena ada yang meneruskan.


Angga juga berbisik jika dia sudah terlalu tua untuk mulai lagi. Tugas polisi menjaga sedangkan Angga harus dijaga.


Tawa keduanya terdengar merasa lucu dengan obrolan santai mereka. Dean tidak menyangka jika memiliki Kakak lelaki menyenangkan.


"Dean, Angga apa yang kalian lakukan, Dean diminta Daddy memanggil Kakak kenapa mengobrol?"


"Astaghfirullah Dean lupa Mommy," sesal Dean karena seharusnya dia memanggil Kakaknya, tapi langsung lupa saat masuk.


"Daddy mencari Angga?" cepat Angga keluar mengikuti Mommynya yang sudah keluar lebih dulu.


Daddy geleng-geleng melihat anaknya yang mirip perempuan yang harus dipanggil berapa kali baru muncul.

__ADS_1


"Maaf Daddy, kita lama." Angga menatap Dean yang tidak meminta maaf langsung duduk memeluk lengan Mommynya.


Daddy meminta Angga menjelaskan soal lamaran yang dia inginkan, sesuatu yang terlihat mewah namun aman dari media.


Suara salam terdengar, Diana dan Gemal juga datang langsung bergabung untuk membahas soal lamaran yang akan dilakukan secara tertutup.


"Mana hasil rapat perusahaan?" Gemal duduk di samping Angga mendengarkan keputusan perusahaan agar bisa menjaga kegaduhan publik.


"Kita akan mengadakan di mana?"


"Daddy dan Altha tidak menyarankan lamaran mewah, kita cukup kumpul seluruh keluarga kita rembukan secara kekeluargaan soal pernikahan." Hubungan Dimas dan Altha sudah seperti saudara, segala sesuatu dibahas bersama kecuali jika wanita yang diambil dari luar, ini wanita ada di depan rumah yang bunyi kentut saja terdengar.


Diana menahan tawa, ucapan Daddy-nya ada benarnya tidak menyalakan jika Angga ingin acara besar namun bekerja dua kali lipat.


"Lamaran secara tertutup, intinya keluarga besar dan orang-orang terdekat turut hadir. Bisa saja undangan lima ratus orang termasuk orang penting dan berpengaruh, lalu acara nikahan juga tertutup lagi. Apa kita harus mengudang orang yang sama?" Diana setuju pesta mewah untuk lamaran asalkan diadakan publik sehingga disaksikan jutaan orang.


Jika dihadiri banyak media maka lamaran pantas saja harus mewah, demi menjaga image dua artis besar yang akan melangsungkan pernikahan.


"Jadinya?" Angga fokus menyimak perdebatan Daddy dan Diana yang sependapat.


Senyuman Angga terlihat, dia ikut saja selama kedua orangtuanya sendiri. Menyerahkan kepada Mommy untuk membahas terlebih dahulu, sisanya baru dirembukkan kembali.


"Daddy dan Mommy yang akan menemui Altha dan Aliya, kamu juga coba bicara dengan Aira. Minta pendapat dia inginnya seperti apa?" Daddy meminta Angga sesekali mengobrol berdua bukan kumpul bersama enam kurcaci yang rusuh.


"Daddy seperti tidak kenal Aira saja, dia tidak peduli soal pesta paling penting sah. Di otak dia isinya langsung malam pertama." Dean TOS tangan bersama Diana yang sependapat.


"Terima kasih Daddy Mommy, Kak Di dan Kak Gem juga sudah bersedia untuk membantu. Proses ini pasti akan panjang sekali, jujur sebenarnya Angga sedikit takut karena ini memakan waktu juga tenaga juga.


"Kita ini saudara, bahagia kamu tentunya bahagia kita." Gemal merangkul Angga sekalian meminta tanda tangan di jam tangannya untuk pamer.


Tawa Angga terdengar langsung memberikan tanda tangan menbuat Gemal bangga bisa bertemu aktris.


"Pamer apa, pasti banyak perempuan lagi." Diana ingin melayangkan tendangan ke arah suaminya yang langsung mengangkat kakinya ke atas kursinya.

__ADS_1


"Iya sudah, ini rencananya ingin aku jual harganya bisa sepuluh kali lipat karena ada tanda tangan." Gemal membuka jam langsung diletakan di meja.


"Kak Gemal punya banyak pacar?" Angga bisa tahu karena wajah Gemal sangat tampan.


Kepala Gemal geleng-geleng dia hanya memiliki banyak wanita disekitarnya bukan pacar. Memiliki Gemal membutuhkan perjuangan sampai taruhan nyawa.


"Gemal itu dulunya cowok matre, tidak punya duit. Beli bahan bakar untuk kendaraannyaa saja Diana yang bayar." Diana berteriak membongkar aib suaminya.


Tawa Angga dan Dean terdengar, dari wajah saja sudah terlihat jika Gemal playboy yang pamer wajah sangat mirip dengan Gion yang dikelilingi banyak wanita.


"Sudah aku ganti, kamu yang merusak motor aku tidak tanggung jawab." Gemal menatap sinis istrinya yang menantangnya untuk bertarung.


Suara tepukan tangan Dimas terdengar meminta keduanya berhenti bertengkar, apalagi Diana yang suka menjelekkan suami.


"Apapun yang terjadi di masa lalu jangan di umbar, dulu Gemal gembel sekarang dia sultan lebih kaya dari Daddy." Tawa Dimas terdengar merangkul menantunya yang cemberut.


"Sekaya apapun Daddy masih kaya Isel. Ingat semua harta kalian milik Isel, jangan lupa itu." Teriakan Isel terdengar melangkah ke kamarnya untuk mengecek ranjang emas.


"Manusia paling matre, mengincar warisan tiga keluarga itulah Isel. Dia ingin menjadi wanita terkaya." Diana mendengar suara Putrinya yang sibuk di dalam kamar.


Suara aneh dari kamar Isel terdengar, Dean langsung berjalan mendekat melihat lemari kaca penuh dengan koin emas.


"Apa yang kamu lakukan selama kuliah Isel?"


"Mencuri koin emas di pameran, koin ini sangat berharga uncle,"


"Kamu mencuri?"


Kepala Isel mengangguk, dia ingin membeli namun tidak ada jualnya.


"Daddy, Isel kumat lagi mengumpulkan koin emas dengan mencuri," Dean mengadu kepada Daddy-nya.


"Uncle,"

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2