SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
JANGAN PERGI


__ADS_3

Barang berjatuhan karena Imel mengamuk, melihat pemberitaan jika dirinya tertangkap mengendarai mobil yang menyebabkan tabrakan beruntun.


Seseorang yang meng-upload rekaman CCTV tidak bisa dideteksi, bahkan pelaku yang sudah menghapus rekaman CCTV juga terdeteksi.


Beberapa akun hacker diselidiki untuk menemukan siapa saja yang terlibat. Imel dan Kevin terpaksa melarikan diri karena tidak ada jalan bagi untuk menghentikan.


Seseorang yang ada di balik penyerangan sangat ahli mengendalikan jaringan sehingga Imel mengambil jalan aman.


"Apa yang harus kita lakukan Mel? Papi dipanggil kepolisian bahkan bisnis papi diselidiki." Teriakan Kevin terdengar, Papinya marah besar kepada mereka berdua yang diminta menyerahkan diri untuk bertanggung jawab.


"Sialan! siapa orang yang mengirimkan rekaman itu? ini pasti perbuatan Aira dan Lea yang membuat aku dalam masalah." Imel menatap foto Aira dan Anggrek beberapa tahun yang lalu.


Foto langsung dilempar, Imel merobek-robek foto memastikan Aira akan mati. Bukan hanya Lea yang harus mati, tapi Aira juga.


Imel sudah kehilangan segalanya, dia tidak memiliki apapun lagi kecuali menyingkirkan, jika tidak dia yang akan tersingkirkan.


"Aku ingin mengakhiri semuanya, aku atau kalian yang akan mati." Imel menghubungi Lea ingin bertemu berdua, ada sesuatu yang ingin dia katakan.


"Mel, orang yang menguploadnya ternyata Juan, dia juga Putra Rahendra. Berarti kakak kandung Aira." Kevin mendapatkan informasi terakhir.


Tawa Imel terdengar, dunia begitu sempit karena dia mencintai seorang lelaki yang ternyata memiliki ikatan darah bersama musuhnya.


"Aku pikir Lea penghalang cinta aku, tapi ternyata kami memang tidak mungkin bersama." Kepala Imel mengangguk, dia akan segera menyelesaikan semuanya.


"Apa yang akan kamu lakukan Mel? keluarga Rahendra sudah turun semua. Bukan hanya Aira, ada ketiga kakaknya yang akan melindunginya." Kevin memutuskan untuk menyerahkan diri apalagi polisi yang menyelidiki mereka langsung dari pusat kejahatan.


Imelda dan Kevin masuk daftar pembunuh karena bukan hanya menyebabkan kecelakaan, namun penjualan obat aborsi.


"Pergilah, aku akan mengurus mereka semua." Tangan Imel mendorong Kevin menjauh.


Senjata dikeluarkan, Imel memasukkan ke balik bajunya berjalan keluar untuk menemui Lea.


Siapa yang datang bersama Lea hanya mengantarkan nyawa, Imel ingin menyudahi semuanya.


Dia lelah bermain, apalagi tidak ada satupun yang bisa dia miliki. Blackat memilih Lea, dan melanjutkan hubungannya bersama Aira. Begitupun dengan Juan yang tidak pernah menanggapi perasaannya, dia lebih memilih Lea.


"Semuanya akan berakhir bahagia, hanya aku yang akan tersakiti." Senyuman Imel terlihat, sebelum dia menjadi satu-satunya yang tersiksa maka lebih baik menyingkirkan agar tidak ada yang bahagia.

__ADS_1


Pesan yang Imel kirimkan diterima oleh Lea, dia tahu jika Imel akan menyingkirkannya karena pihak kepolisian sudah menetapkan Imel sebagai buronan.


"Ai, aku pergi dulu. Kamu lanjutkan saja pemotretan hari ini tanpa aku." Senyuman Lea terlihat memutuskan untuk pergi.


Langkah Lea dihentikan oleh Dean yang memang berencana menemui Lea, Dia ingin membicarakan soal kasus Imel.


"Kamu ingin pergi ke mana?"


"Aku harus pergi ada urusan bisnis,"


"Kamu tidak bisa pergi, ikut aku untuk menyelesaikan soal penyelidikan." Dean berjalan lebih dulu dan Lea mengikutinya.


Tidak berani mengatakan jika ingin bertemu Imel, akhirnya Lea mengikuti Dean tanpa banyak protes.


Kepolisian memastikan jika orang yang mengendarai mobil bukan Lea, dia melakukan beberapa tes. Kepolisian juga bertanya hubungan Imel dan Lea yang bersaudara kembar, tapi bis terpisah.


"Kamu jangan khawatir, kita secepatnya akan menangkap Imel. Terima kasih atas kerjasamanya." Gemal menatap Lea yang menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah boleh pergi?"


Gemal mempersilahkan, dia bisa melihat rasa takut di mata Lea. Dia juga berbohong sudah mengatakan jika dirinya tidak tahu keberadaan Imel.


Genta menyerahkan kepada Gemal hasil meretas ponsel Lea, ada pesan yang mengatakan tempat pertemuan.


"Dean, aku akan pergi sendirian kamu tidak harus mengantar aku." Senyuman Lea terlihat menatap Dean yang ada di dalam mobil.


"Masuklah, aku akan mengantar kamu,"


Kepala Lea menggeleng, dia tetap tidak ingin pergi. Memutuskan memesan taksi online agar dia bisa menemui Imel.


Pelukan lembut terasa, Juan baru saja mengetahui apa yang terjadi. Dia sangat mencemaskan Lea yang akan diawasi kepolisian karena ingin bertemu Imel.


"Dia akan menyakiti kamu Lea?"


"Aku harus bertemu dan memintanya sadar sebelum kehilangan kendali, dia adikku." Kepala Lea tertunduk memeluk erat Juan.


"Kita pergi bersama, jika kamu menolak maka lebih baik tidak pergi." Kedua tangan Juan mengusap punggung Lea lembut.

__ADS_1


Kepala Dean berpaling, dia terpaksa memberitahu Juan karena dia pasti sangat mengkhawatirkan wanita yang dicintainya.


Dari arah belakang, Dean melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi mengarahkan ke Juan dan Lea yang masih berpelukan.


"Awas Kak!" Mata Dean terpejam melihat mobil tanpa flat menghantam Lea dan Juan secara bersamaan.


Keduanya terpental, Juan sampai muntah darah menatap Lea yang berada di tengah jalan.


Mobil balik arah menunju Lea yang masih bergerak mengulurkan tangannya kepada Juan yang juga tersadar mencari keberadaan Lea.


"Perempuan sinting!" Dean melajukan mobilnya, banting setir melindungi Lea agar tidak tertabrak oleh Imel.


Mobil Dean berguling, sedangkan Lea berada di bawah mobil. Mata Dean terbuka menatap darah yang mengalir di kepalanya.


Suara benturan yang terdengar menbuat banyak kepolisian keluar, beberapa mobil polisi bergerak mengejar mobil yang menabrak secara sengaja.


"Lea, Dean." Juan berusaha untuk berdiri mendekati mobil Dean yang terguling beberapa kali.


"Diam di sini Juan," Genta menahan adik iparnya yang sudah penuh darah.


Mobil Dean terbuka, tubuh Dean dibawa keluar dalam keadaan tidak sadarkan diri. Wajah Dean penuh darah langsung dibawa ke mobil lain untuk dilarikan ke rumah sakit.


Gemal menatap Lea yang terkapar berlumur darah, dia tidak berani mendekati karena kondisinya tengkurap dengan darah mengalir.


"Lea, bangun Anggia. Kamu tidak boleh meninggalkan aku." Juan meminta melepaskan dirinya agar bisa mengecek kondisi Lea.


"Bawa Juan langsung ke rumah sakit, minta Tim khusus untuk mengevaluasi korban." Gemal menggeleng kepalanya memastikan Lea meninggal di tempat.


Melihat ekspresi kakaknya, Juan memaksa melepaskan diri untuk melihat langsung kondisi Lea.


"Kak aku harus membawa Lea ke rumah sakit, dia masih hidup Kak." Tangisan Juan terdengar menatap tubuh Lea yang sudah di foto.


"Lepaskan saja." Altha menatap Putranya yang membalik wajah Lea, memeluknya lembut.


"Anggia bangun, tidak boleh seperti ini. Aku bahkan mengatakan jika mencintai kamu, aku ingin memiliki satu harapan untuk berumah tangga. Kenapa harus seperti ini?" Juan mengusap wajah Lea yang penuh darah, mengecup keningnya.


Tangan Juan mengecek denyut nadi langsung menangis, mengecek detak jantung semakin membuatnya histeris.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2