SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
HADIAH


__ADS_3

Seluruh keluarga sejak subuh sudah ada di hotel, Aira berjalan santai mendekati Isel yang duduk di kursi menatap arah pelaminan.


Rambut Isel masih acak-acakan belum bersiap, hanya ada beberapa staf yang bekerja untuk menyiapkan makanan dan merapikan pelaminan.


"Siapa orang yang kamu bawa ke tempat Mam Jes?" Ai duduk di samping Isel yang berusaha terlihat tenang.


Tangan Isel digenggam, jantungnya berdegup kencang. Aira memang wanita licik yang selalu bisa menemukan kelemahannya.


"Santai saja Sel, aku tidak mencari tahu secara berlebihan." Tawa Aira terdengar, menatap mata sepupunya.


"Tidak ada yang lucu, lebih baik kamu pergi dan bersiap untuk acara lamaran." Isel melipat tangannya di dada.


Sebelum acara selesai jantung Isel tidak mungkin bisa tenang, dia sangat mencemaskan Angga yang sudah ada di hotel.


"Apa yang kamu cemaskan Sel?"


"Cemas apa? aku biasa saja,"


"Kepulangan kamu tidak direncanakan, lalu kenapa penerbangan di samarkan?"


Tatapan Isel tajam ke arah Aira, meminta Ai mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan. Aira tidak punya hak menyelidiki apa yang dilakukan oleh Isel.


Kepala Aira menggeleng dia tidak tahu apa yang dia inginkan, suasana hatinya berubah-ubah tidak jelas. Tidak ada niatan Ai menyelidiki Isel, tapi hatinya yang memaksa untuk melakukan.


"Apa yang Kak Ai rasakan saat ini?"


"Sedih, aku sedih. Seharusnya aku bahagia karena Kak Juan akan menikah, dan Lea menjadi Kakak ipar. Aku dan Juan akan segera bertunangan dan tahun depan menikah. Tetapi hati aku sedih tanpa alasan." Ai meremas kuat kursi yang dia duduki, tidak bisa mengendalikan perasaannya yang akan segera hancur.


"Kak Ai mengharapkan orang lain,"


Gelengan kepala Aira pelan, dia tidak berharap lagi hanya saja hatinya yang tidak bisa dikendalikan.


Perasaan sedih Ai rasakan, tapi tidak berharap lebih lagi. Ai sudah mengikhlaskan kebahagiaan.


Tawa Isel terdengar, Ai menyakiti dirinya sendiri dengan berjuang untuk mencintai Dean.


"Kak, Isel harap kalian bahagia. Bukan maksud Isel memisahkan, tapi Kak Ai akan merasakan sakit berkali-kali lipat. Takdir bermainlah dengan cantik, ingin dijadikan apa hubungan ini. Siapa jodohnya siapa terserah takdir," batin Isel di dalam hatinya.

__ADS_1


Aira meninggalkan Isel berjalan ke lantai atas untuk mengecek pengantin yang sudah tiba, Ai ingin melihat secantik apa sahabatnya.


Dua orang pelayan masuk lift bersama Aira, kepala Ai tertunduk tidak menyadari siapa yang ada di depannya.


Kepala Angga terangkat, melihat pantulan Aira yang sedang tertunduk menatap kakinya yang bergerak.


Air mata Aira menetes, tangannya langsung menepis cepat. Ai mengangkat kepalanya, Angga langsung tertunduk.


"Kenapa kamu menangis Aira? apa yang menyakiti kamu? seharusnya bahagia." Senyuman Angga terlihat merasa bahagia bisa melihat Aira dengan jarak yang sangat dekat.


Satu pelayan di samping Angga menyentuh tangannya untuk menyadarkan. Kedua berjalan keluar begitupun dengan Aira.


Panggilan di ponsel Ai masuk, dia balik lagi ke lift untuk turun ke lantai bawah karena ada panggilan dari Maminya yang rusuh membawa si kembar beda rahim.


"Jaga pandangan kamu Angga, Aira wanita yang sangat peka. Cepat temui Lea sebelum keluarganya datang semua." Putri mengundur waktu agar tidak ada lagi yang naik ke lantai atas.


Di dalam kamar pengantin Lea sedang duduk menatap foto kakaknya yang ada di ponsel. Make up Lea sudah selesai, dia hanya menunggu berganti baju.


"Kak, Lea akan menikah, Kak Black harus saksikan." Senyuman Lea terlihat menahan air matanya.


Putri behasil memancing para penjaga Lea keluar, tim make up juga keluar karena ada panggilan khusus.


"Permisi, saya ingin mengantarkan kado pernikahan." Angga menyerahkan kado yang dia pegang.


"Oh, terima kasih. Maaf saya sedang melamun." Lea menyambut hadiah yang diterima dari pelayan.


"Kenapa mata kamu berkaca-kaca? tersenyumlah hari ini menjadi awal kebahagiaan kamu," ucap Angga sangat tulus.


"Ya, aku hanya berharap Kakak ada di sini. Lea sendiri tidak punya keluarga jadinya sedih." Air mata Lea akhirnya menetes langsung dihapus mengunakan tisu.


Angga meminta Lea tersenyum, kakaknya ada. Lea tidak sendiri karena ada keluarganya yang menyaksikan.


Ketukan pintu terdengar, Angga langsung keluar karena banyak penjaga yang berlarian. Angga dan Putri behasil masuk ke kamar lain.


Pengawal mengecek kondisi Lea, ada orang yang mengacaukan sistem keamanan. Aira juga langsung masuk mengecek kondisi Lea.


"Ada apa Ai?"

__ADS_1


"Tidak tahu, ada kekacauan di sistem keamanan. Kamu yakin tidak ada yang menyakiti,"


"Jika ada tidak mungkin aku masih duduk di sini,"


"Serahkan sistem keamanan kepadaku, aku akan menemukan pelakunya." Aira meminta tim keamanan mengikutinya.


"Apa masih ada waktu untuk mengurus sistem yang eror, acara akan segera dimulai. Jangan membuat tim IT merasa direndahkan." Isel menghentikan Aira yang tidak melanjutkan.


Isel kembali ke kamarnya untuk berganti baju, menatap Angga yang sedang duduk sambil mengusap matanya.


"Kenapa Kak?"


"Tidak, kasihan saja melihat Lea, dia tidak mengenali aku." Angga mengusap air matanya untuk kuat.


Putri menarik kursi, duduk di dekat jendela. Putri tidak paham alasan Isel menyembunyikan Black, dan alasan Blackat memutuskan hilang.


"Waktunya sudah terlambat, jika kak Black muncul lamaran Aira batal, Lea juga tidak ingat apapun." Tatapan Isel tajam, Lea hanya tahu foto, tapi tidak memiliki memori apapun.


Bukan hanya keluarga Aira yang berantakan, dunia juga akan heboh. Black tidak bisa muncul dalam dua tahun ke depan.


Seandainya juga kembali, dia tidak boleh mengusik orang-orang yang sudah bahagia. Black harus membuka lembaran baru.


"Ini salah kamu Sel, seharusnya saat Black ditemukan langsung umumkan. Kekacauan ini tidak mungkin terjadi jika kamu tidak menangani sendiri." Putri menggelengkan kepalanya memutuskan keluar untuk mencari udara segar.


"Bukan salah kamu Sel, aku tahu kamu tidak ingin Aira tersiksa jika menyaksikan kematian aku. Kita tidak pernah tahu jika aku masih bertahan sejauh ini." Angga mengucapkan terimakasih kepada Isel dan seumur hidupnya tidak akan mampu membalas.


Kepala Isel menggeleng, tujuan awalnya memang ingin menjaga perasaan Aira. Takut jika Ai mengalami depresi jika Black meninggal.


Kondisi Black sudah kritis, harapan hidupnya kecil. Isel membiarkan dirinya menjadi saksi hidup dan mati Black, tapi siapa yang menyangka jika keadaan berbalik.


Semakin lama, Isel mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, dia memanfaatkan Blackat kesenangannya.


"Berhati-hatilah Kak Angga, usahakan hindari keluarga. Mereka semua sangat peka dengan sekitar, apalagi Mora." Isel memberikan peringatan jika Mora sangat peka dan bsua membaca ekpresi.


"Bagaimana kabar Kak Shin?"


"Kakak bisa melihatnya secara langsung,"

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2