SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MIMI PIPI


__ADS_3

Sudah larut malam, Aira tidak bisa tidur merasakan ada yang beraktivitas di dalam perutnya, tendangan semakin kuat membuat rasa sakit.


"Sakit tuyul, lihat saja kamu lahir nanti. Aku banting kamu." Ai melangkah keluar dari kamar mengusap perutnya yang sakit karena tendangan maut dari anaknya.


Dokter sudah memberitahu jika jenis kelamin anak Ai perempuan, tanpa diberitahukan Aira juga sudah tahu karena sering bermimpi melihat anak kecil yang nakal sedang asik bermain.


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku Ai?" Angga langsung memeluk istrinya dari belakang merasa cemas jika Aira sudah mulai diam.


"Dia menendang Ai terus, rasanya sakit Ayang." Ai mengusap perutnya yang sudah delapan bulan.


Perut Ai sudah membuncit, tapi tidak besar seperti wanita hamil delapan bulan semestinya, setidaknya dirinya bahagia karena anaknya dalam keadaan sehat, juga tumbuh dengan baik.


"Sekarang rajin tendang Mami ya, jangan ditantang untuk bertarung sayang kasihan." Angga mengusap perut Ai mengecupnya berkali-kali.


Angga tersentak kaget saat merasakan tendangan maut dari dalam perut, Aira hanya tertawa tidak bisa membayangkan jika anaknya lahir pasti suka memukul orang.


"Dia menendang kuat sekali, sampai perut kamu berbentuk bukan hanya bergerak." Angga tepuk jidat tidak bisa membayangkan jika sudah lahir.


Ai memejamkan matanya, merasa sakit yang tidak bisa dia utarakan dengan kata-kata. Sakit yang melebihi tendangan.


"Ayang, kenapa perut Aira dari pagi sampai semalam ini sering sekali datang sakit." Wajah Aira meringis memeluk lengan suaminya merasakan sakit yang luar biasa.


Melihat ekspresi Aira, Angga langsung panik. Sejak memasuki bulan ke enam sudah ada pergerakan bayi, namun Aira sangat aktif bahkan masih menyelesaikan shooting iklan.


"Kita ke rumah sakit saja." Angga berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan dompetnya.


"Sudah hilang lagi Ayang," ucap Aira yang melihat suaminya terburu-buru.


Kepala Aira geleng-geleng hanya bisa banyak istighfar, anaknya sungguh menguji kesabarannya.


Rasa sakit yang diberikan serasa ingin mencabut nyawa, tapi dengan cepat juga rasa sakitnya hilang.


"Kita ke kamar saja istirahat," ujar Angga meminta persetujuan istrinya.


Kepala Aira mengangguk meminta digendong, Angga menggedong membawanya ke dalam kamar.


Pelukan Angga lembut, Aira melepaskan perlahan setelah melihat suaminya tidur. Hanya senyuman bahagia yang nampak terlihat.


Sakit perut Aira datang lagi berkali-kali lipat dari sebelumnya, keringat dingin mengalir di keningnya merasa nyawanya ingin melayang.

__ADS_1


"Ya Allah sakit." Ai meneteskan air matanya meremas lengan suaminya agar bangun karena Aira tidak sanggup lagi bertahan.


Mata Angga yang baru terpejam bangun kembali, melihat Aira mandi keringat langsung bergegas menggedong untuk membawanya ke rumah sakit.


Mami Papi tidak pulang karena ada acara bersama para aparat yang harus Papi hadiri. Aira dan Angga nekat pergi ke rumah sakit sendiri tanpa menghubungi siapapun.


"Sayang, kamu harus kuat, jangan membuat aku takut." Air mata Angga menetes melihat ada darah.


Aira berusaha untuk tenang, menghubungi Dokter yang menanganinya dan meminta untuk segera ke rumah sakit karena Aira mengalami pendarahan.


"Ini perdarahan atau apa Aira tidak mengerti." Ai meletakkan ponselnya, tubuhnya melemas karena sakit yang mematikan.


"Sebentar lagi kita sampai sayang," ujar Angga yang sangat takut melihat kondisi istrinya.


Senyuman Aira terlihat, merasakan tangan suaminya yang sangat dingin, belum lagi gemetaran.


"Ayang, rasanya sakit sekali." Ai mengusap wajah suaminya.


"Maafkan aku tidak bisa menanggung rasa sakitnya, kamu kuat sayang dan kita berjuang sampai anak kita lahir. Aku akan menemani kamu," ucap Angga dengan suaranya yang gemetaran, berusaha tetap fokus di jalan.


Sesampainya di rumah sakit, Aira tidak bisa jalan lagi, pinggangnya terasa putus karena sakitnya sungguh luar biasa.


Tanpa peduli jika ada yang memotret keduanya, Angga menggedong Istrinya meminta dokter meyiapkan ruangan.


"Kandungan Aira baru delapan bulan Dokter," balas Angga mengingatkan dokter.


Kepala dokter mengangguk, dia paham. Dikarenakan sudah akhir bulan, kemungkinan besar prediksi salah. Dokter memperkirakan pertengahan bulan berikutnya, tapi kenyataanya lebih cepat.


Bibir Aira sudah pucat, berusaha kuat meksipun tubuhnya sudah gemetaran karena rasa sakit.


"Mami, perut Aira sakit." Air mata Aira menetes, teringat dengan Maminya karena saat dirinya masih dikandungan juga menyakiti Maminya.


Keadaan yang begitu tegang, Aira dan Angga tidak bisa berpikir apapun. Mereka hanya bisa berdoa di dalam hati demi keselamatan baby girl.


"Sayang, kamu harus kuat. Aku ada di sisi kamu," ujar Angga menenangkan istrinya.


"Ayang, kenapa menggunakan celana pendek? Ayang juga tidak menggunakan sendal." Ai merasa ingin tertawa juga kasihan melihat suaminya yang terlihat panik.


Kepala Angga menggeleng, dia tidak bisa berpikir apapun. Bahkan dompet dan ponselnya juga tidak dibawa. Hanya penjaga gerbang yang tahu mobil Angga meninggalkan rumah.

__ADS_1


Dokter sudah bersiap, melihat darah dan air ketuban yang sudah pecah. Dokter hanya dibantu oleh dua perawat karena tidak banyak tim medis.


"Sayang, jangan tutup mata. Aku mohon tetap tatap aku," pinta Angga mengecup tangan Aira yang meremas kuat tangannya.


Air mata Aira menetes karena tidak kuasa menahan rasa sakit, dokter meminta Aira tidak mendorong agar tenaganya tidak habis sebelum dokter memberi instruksi.


"Aira konsetrasi, kepala dedek sudah terlihat memaksa keluar." Dokter meminta Aira mendorong kuat, tapi terhenti karena bayi terlilit tali pusat.


"Tolong cepat keluar, kenapa juga kamu bermain tali pusar di dalam?" Ai menangis mengatai anaknya.


"Sayang sabar, nanti Baby girl masuk lagi." Angga mengusap air mata Aira yang tidak berhenti menangis karena sakit.


Dokter meminta Aira mendorong terakhir, jika gagal terpaksa melakukan operasi karena khawatir leher bayi terlilit tali pusar.


"Dasar anak bodoh, kenapa juga dia bunuh diri dari dalam?" Ai meringis kesakitan berteriak sangat kuat sampai meremas tangan suaminya.


Dokter menarik pundak bayi, suara tangisannya terdengar. Dokter tersenyum bisa mengeluarkan bayi dengan selamat, bayi kesulitan keluar karena kekurangan air ketuban yang memang sejak awal sendikit.


Suara tangisan bersamaan dengan air mata Aira dan Angga yang mengalir keluar karena bayi mereka lahir.


Waktu bersama di dalam kandungan sangat singkat, mereka terlambat tahu dan bayi lahir lebih cepat dari target yang diperkirakan.


"Alhamdulillah bayinya perempuan." Perawat tertawa melihat bayi yang merenggang ototnya seperti bangun tidur.


Bayi cantik yang lahir normal tanpa kurang, memiliki tubuh putih, dan rambut yang sangat lebat.


"Selamat jadi Mami sayang," ucap Angga mengecup kening istrinya.


"Mimi bukan Mami, Papi ...."


"Masa iya aku Pipi?"


Tatapan Aira tajam, langsung teriak merasakan sakit karena jahitan yang tidak kalah sakit. Memaksa suaminya dipanggil Pipi.


"Pak, ini bayinya." Perawat memberikan bayi kepada Angga yang langsung mengumandangkan adzan ditelinga anaknya.


"Dok, buka saja bedong. Kasih bola, soalnya sudah bisa main tendang-tendangan dia." Ai merekam suaminya yang menggendong bayinya.


Tanpa persetujuan Aira langsung mengumumkan kelahiran anaknya yang pasti akan mengagetkan dunia.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2