SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TAMBAH ANAK


__ADS_3

Pulang dari menjenguk Vio, Isel membawa Delvin untuk berbelanja keperluan anak-anaknya, kedua tangan Delvin memeluk tiga cemilan.


"Sayang," sapa Dean mengecup kening istrinya juga pipi putranya yang terlihat tegang.


"Ambil satu saja Vin, satu." Isel mengambil dua bungkus cemilan.


Teriakkan terdengar meminta cemilannya dikembalikan, Isel menyerahkan langsung dipeluk erat kembali.


"Buat siapa sayang, Ira dan Ara?"


Kepala Delvin mengangguk, tersenyum melihat Abi-nya yang datang menyusul. Bahkan mengizinkan membeli lebih untuk dirinya.


"Ini punya siapa?" Dean menunjukkan bungkusan coklat.


"Rara," jawab Delvin sambil tertawa.


Isel langsung shock karena bersamanya berjam-jam tidak tertawa sama sekali, saat bertemu Abi langsung tertawa.


Selesai berbelanja, Dean menggendong Delvin yang mulai mengantuk, membawa kembali ke mobil, sedangkan mobil Dean dibawa supir lebih dulu.


"Sayang, Delvin tidur." Dean membiarkan Putranya tidur dalam pelukannya.


"Susah tidak, sini Isel yang gendong."


Kepala Dean mengeleng, membiarkan Delvin bersamanya karena jika ada Ira Ara maka tidak ada yang bisa melepaskan Dean sehingga Delvin harus mengalah.


Keputusan Isel untuk membawa Delvin sesekali keluar hal bagus, dia harus memiliki moment atau waktu sendiri bersama kedua orangtuanya.


Memiliki kembaran adakalanya tidak adil, bukan tidak sayang, orang tua sudah berusaha untuk mengimbangi.


"Waktu kamu kecil semua fokus kepada kamu, tapi Ian memang anaknya tenang sedangkan Ghion sibuk sendiri sehingga tidak muncul kecemburuan terhadap adik bungsunya, Tapi Delvin beda, dia bungsu dari dua saudaranya, tapi dia juga yang terabaikan." Tawa Dean pelan kasihan kepada putranya yang berusaha mandiri padahal masih butuh perhatian.


"Delvin tidak suka disentuh, banyak orang yang gemes, tapi dia menangis."


"Iya karena terbiasa di rumah, dia juga sudah mulai perasa saat dua saudaranya rebutan, dia pilih diam."


"Umi sama Abi berusaha adil untuk kalian bertiga, bagaimanpun Delvin harus memimpin, menjaga dan melindungi dua saudara kamu," ujar Isel mengusap wajah Putranya.


Sampai di rumah sudah heboh, semua anak-anak berada di luar rumah untuk bermain sore-sore.


Tangisan Ara dan Ira terdengar, menatap kedua orangtuanya hanya membawa Delvin membuat cemburu.

__ADS_1


"Sel, dari tadi mencari kamu sampai marah-marah." Lea menatap si kembar.


"Kenapa nangis, coba saja ada Abi kalian berdua lupa sama Umi. Cepat sini mau apa?" Isel duduk santai menatap dua putrinya ngambek.


Tidak ada satupun yang menemui Isel, kedua putrinya berlari ke arah Abi-nya yang masih menggendong Delvin.


"Abi," panggil si kembar yang jatuh tersungkur.


Ira yang ada di belakang juga jatuh karena tidak sengaja menabrak kakaknya yang jatuh lebih dulu.


Tangisan terdengar, Ira histeris saat kedua tangannya penuh kotoran langung berjalan merangkak menemui Isel menunjukkan tangannya.


"Makanya, sudah dikatakan tidak boleh lari-larian padahal jalan saja belum tegak." Isel mengambil Ira memangkunya membersihkan tangan dan lututnya yang kotor.


Berbeda dengan Ara yang menemukan air langsung dipukuli membuat Dean meminta berdiri, tapi masih saja bermain apa yang ditemukannya.


"Kalian dari mana Sel, kenapa dua tuyul tidak dibawa?" Tanya Aira yang baru keluar setelah menyusui putranya.


"Menjenguk Vio, dia baru lahir di rumah sakit dan anaknya cewek."


"Besok kita liburan, aku boking kapal, sesekali membawa anak-anak ke laut." Ai meminta persetujuan Lea dan Isel yang mengangguk.


"Kenapa lagi, awas kamu minta susu," ancam Lea kepada putrinya yang tidak sabar ingin bertemu Ayahnya.


"Kenapa Dek sini minum susu sama Kakak," ajak Andri dengan nada lembut.


Kepala Era menggeleng, berlari ke arah Ara yang membawa cacing, banyak anak-anak yang berlarian takut.


Keduanya kejar-kejaran rebutan cacing , Isel dan Lea merasa geli melihatnya, tapi dibiarkan saja.


"Ambil cacing itu." Ura melepaskan ayam barunya ke arah Era dan Ara.


Ayam langsung mematuk cacing dan memakannya membuat dua anak kecil terdiam melihat cacing ditelan.


Tangan Ara menangkap leher, Era memegang buntut ayam ditarik kuat meminta mengeluarkan mainan.


Tawa Ura terdengar memeluk kucingnya duduk santai di ayunan, melihat ayamnya kalah, Ura mengirim kucingnya untuk menolong.


"Ura," teriakkan terdengar meminta Ura berhenti menjahili.


Kucing Ura berukuran besar, lima kucing berjalan ke tengah halaman, Ara dan Era terdiam melepaskan ayam melihat ada hewan besar.

__ADS_1


Senyuman Aska dan Kara terlihat ketika dibawa keluar rumah, berjalan pelan ingin mengambil kucing.


"Mi, besok Ura mau liburan, tidak boleh ada kamera soalnya tidak suka dijadikan pusat perhatian." Ura tidak ingin wartawan tahu jika mereka liburan soalnya Mimi Pipi selalu diikuti banyak media.


"Oke, tapi janji malam ini tidur cepat soalnya kamu suka lambat bangun," pinta Aira bernegosiasi dengan putrinya.


"Ura belum bisa tidur jika anak-anak Ura belum tidur, Mimi harus memahaminya," tegur Ura yang harus menidurkan ayam juga kucingnya.


Kepala Aira geleng-geleng, ada saja alasan Ura yang membuatnya stres karena banyak drama.


"Kapan Kak Ai kembali bermain film?" tanya Isel.


"Pekerjaan sebagai selebriti bukan pekerjaan permanen, aku tidak ingin menjadi artis lagi, sudah cukup sebelum menikah." Ai mengikuti permintaan suaminya untuk hengkang dari industri hiburan.


Ai tidak menerima tawaran film kecuali pemotretan karena cantik dan elegan sudah menjadi ciri khasnya.


"Kak Ai bebas kapan ingin kerja karena berada di bawah naungan agensi Kak Angga, tapi aku tidak bisa. Apa aku jadi ibu rumah tangga yang baik saja?" Isel berencana berhenti kerja.


"Kira-kira Sel, meskipun kamu berhenti belum tentu menjadi ibu yang baik. Mungkin saat ini repot, tapi saat anak-anak dewasa baru tahu rasa bosan," ujar Lea yang tidak menyarankan.


Helaan napas Isel terdengar, pikiran Lea terlalu jauh soal masa depan tua. Usia Isel masih muda, dia bisa punya anak lagi sebanyak yang dia mau.


"Kamu ingin membuat anak?" tanya Aira kaget.


"Melihat ketenangan tiga anak itu, sepertinya tidak. Aku bisa gila bukan mengobati orang gila." Tawa Isel terdengar menolak untuk menambah lagi, sudah cukup tiga.


"Banyak anak banyak kerutan, jangan berencana punya banyak ingat peraturan pemerintah, dua anak cukup, kita semua sudah kelebihan," sindir Tika yang berlari pulang ke rumahnya karena Ajun mengamuk.


Tawa Aira, Isel dan Lea terdengar karena Ajun paling spesial satu-satunya yang aktif karena anak bungsu.


Tangan Isel menepuk pundak Lea agar melihat tingkah putranya Andra yaang sangat cuek, tapi turun tangan melindungi adik perempuannya.


"Ada bagusnya punya Kakak laki-laki, Era diistimewakan oleh dua pangerannya." Isel menatap Delvin yang baru bangun dan masih duduk dipangkuan Abi-nya yang sedang mengobrol.


Perlahan turun mengambil cemilan miliknya yang ada d mobil, memberikan kepada Ara dan Ira.


Era menatap meminta juga, langsung memberikan miliknya, tangisan Arka terdengar meminta juga terpaksa balik lagi ke mobil untuk mengambil yang lainnya.


"Abi, mobil dibongkar Delvin, Arka sama Kara." Isel menunjuk ke arah mobil yang sudah dikelilingi anak-anak mencari cemilan.


***

__ADS_1


__ADS_2