SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PULANG KE RUMAH


__ADS_3

Diana mendapatkan kabar kelahiran Putri Lea, kelahiran bayi secara bersamaan di hari yang sama hanya berbeda jam.


"Kita sudah boleh pulang Ma?" tanya Isel yang baru bangun.


"Sel, semalam Lea juga lahiran." Diana menujukkan foto Putrinya Lea yang sangat cantik.


"Seriusan Ma, kenapa bisa begitu?" Tawa Isel terdengar, langsung memegang bagian bawahnya yang sakit karena jahitan mengeluarkan tiga kepala.


"Sel, hari ini belajar menyusui." Dokter tersenyum melihat Diana yang setia mendampingi Putrinya.


Perlahan Mama Di meletakkan bayi ketiga untuk menyusui lebih dulu, sedangkan dua bayi perempuan sudah menyusu bersama Abi dan Kakeknya.


Usapan tangan Isel lembut ke arah anaknya, kagum sekali melihat anak bayi bertubuh mungil sedang menyusu.


"Bagaimana rasanya, sayang tidak sama anak?"


"Sayang sekali, mana lucu," jawab Diana menatap Mamanya.


"Begitulah besarnya sayang Mama kepada kamu, masih ingin melawan orang tua?"


Senyuman Isel terlihat, meminta Mamanya mendekat. Mengecup pipi Mamanya meminta maaf karena selama ini selalu menyusahkan.


Dokter sudah mengizinkan Isel dan ketiga anaknya pulang, kondisi Isel hanya butuh banyak istirahat.


Ketiga bayi juga dalam keadaan sehat dan sudah boleh dibawa pulang bersama Mamanya.


"Terima kasih Dokter," ucap Mama Di.


Sebelum Isel pulang, di rumahnya Ian dan Ion sudah sibuk menyiapkan tiga ranjang bayi, menyusun semua perlengkapan untuk menyambut kedatangan tiga bayi.


"Ian, kira-kira kamu kapan menikah?"


Kepala Ian menoleh ke arah kakaknya hanya menghela napas panjang karena tidak menyukai pertanyaan tidak jelas.


Pukulan Ghion mendarat meminta jawaban, masih penasaran dengan kehidupan yang akan Ian pilih.


"Kakak kapan?"


"Saat aku berusia dua puluh tujuh tahu, menemui wanita lembah lembut, penyayang dan siap menjadi ibu rumah tangga yang baik." Senyuman Ghiondra terlihat mengkhayal terlebih dahulu.


"Menikah saja sama Maid, langsung menjadi ibu rumah tangga yang baik," balas Ian membuat Kakak tersentak kaget.


Tawa Ghion terdengar, mengejar Ian sudah berlari sambil tertawa. Kedua saling pukul karena memang jarang sekali memiliki waktu bersama.


Selain perkejaan yang berbeda, hobi juga sikap berbeda jauh, tapi tidak pernah bertengkar seperti saudara lainnya.

__ADS_1


"Katakan kapan kamu akan menikah?"


"Jangan tanyakan itu Kak Ghion, masalahnya tidak akan ada yang ingin hidup bersamaku. Ian juga memiliki banyak hal yang harus dicapai." Ian mendorong kakaknya agar menjauh.


Tawa keduanya terdengar main lari-larian di dalam rumah mewah kakeknya, biasanya ada Isel bersama mereka yang paling jahil, tapi sekarang Isel sudah memiliki keluarga yang lengkap, hanya tersisa dua kembar beda rupa.


"Ian, Kakak rasa kita berdua mirip," ucap Ghion berdiri di depan kaca sambil merangkul leher adiknya.


"Ian putih Kai Ghion hitam."


"Mana ada hitam begini Ian, sawo matang." Ghion membandingkan kulitnya dan Ian yang beda jauh.


Panggilan dari Papanya masuk, meminta keduanya juga pergi ke rumah keluarga Rahendra karena Aira melahirkan, ada dua bayi yang membutuhkan ranjang tempat tidur.


Satu ranjang lagi dipasang di rumah Juna karena putrinya juga sudah lahir, saat semua bayi pulang ranjang sudah siap.


"Pa, kenapa kita yang menderita?" tanya Ghion.


"Salah sendiri kalian belum menikah." Gemal tidak ingin dibantah.


"Kita harus membuat tiga ranjang lagi." Ghion berjalan lemas keluar rumah karena sudah lelah.


"Perumahan ini seperti Panti asuhan, banyak sekali anak-anaknya," gumam Ian.


Tidak ingin pusing, Ghion meminta penjaga menyiapkan tiga ranjang untuk tiga bayi, Ghion hanya duduk memantau.


Kepala Ian menoleh ke arah pohon besar, mengukir namanya dan Kakaknya, lalu ada nama Almira dan Amora yang paling besar di antara yang lain.


"Apa yang kamu buat?" Ghion menatap ukiran nama yang sangat bagus.


"AlHasan dan AlHusein, Arvino dan Ajun. Bagus sekali nama mereka berempat." Ian mengukir nama empat anak lelaki.


Dibawah keempatnya ada Andra Andri, satu si kecil emosian, satunya si kecil yang baik hati. Dibawah sekali ada Aura si centil yang sangat nakal.


"Ini tanggal berapa Kak?" tanya Ian mengukir tempat untuk enam bayi lagi.


"Emh ... Kenapa?" Ghion menghitung banyaknya anak-anak di rumah mereka apalagi ada enam bayi yang akan menangis saling sahut menyahut.


Tidak menyadari jika keduanya mengukir pohon sampai hampir sore, beberapa mobil datang juga tidak disadari.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Gemal melihat pohon kehilangan kulit.


"Ya Allah, ini anak berdua. Diminta mempersiapkan ranjang, tapi main gambar-gambar." Diana menarik telinga kedua putranya.


Teriakan Ghion terdengar, mengusap telinganya yang panas karena tarikan yang sangat kuat.

__ADS_1


Isel keluar mobil melihat ke arah pohon, di bawah Ura ada Ira dan Ara di sampingnya ada Delvin dan tiga nama lagi belum terbentuk.


"Kenapa Kakak membuat ini?"


"Ian mengatakan jika perumahan kita mirip panti anak-anak, bedanya mereka memiliki orang tua yang lengkap. Jika ada tamu minta lihat pohon ini agar tidak lupa nama." Ghion langsung berjalan ke arah mobil ingin menyambut Ira dan Ara.


Tawa Isel dan Dean terdengar, merasa lucu melihat pohon kehilangan kulitnya ulah Ian yang kehabisan tempat gambar.


"Sakit Ma," ucap Ian mengusap telinganya.


"Tidak punya buku lagi kamu, apa dinding rumah tidak cukup menjadi tempat menggambar sampai pohon juga jadi korban." Kepala Diana geleng-geleng hobi Ian memang paling aneh.


Semuanya melangkah masuk ke dalam rumah, kamar untuk tiga bayi sudah rapi dan sangat bagus. Isel menyukai hasil karya kedua Kakaknya.


"Bagaimana dengan tiga ranjang lainnya?" Papa menatap Ian dan Ghion yang saling pandang.


Tangan Papa terangkat, Ghion menyerahkan bayi kepada Dean langsung berlari keluar rumah untuk mengecek tiga ranjang lagi.


"Ian, kamu ke bandara sekarang untuk menjemput Kakek Nenek."


"Kapan?" tanya Ian yang tidak menyimak.


"Tahun depan!" teriakkan Gemal terdengar menatap Putranya yang langsung berdiri.


Kepala Gemal pusing melihat Ian dan Ghion yang terkadang ada waktunya melakukan kesalahan, lambat, bermain-main.


Tidak lama Ian balik lagi, mondar-mandir mencari kunci mobilnya, tidak tahu diletakkan di mana.


"Pa, lihat kunci mobil Ian?"


Kepala Gemal geleng-geleng, melepaskan sepatunya melempar Ian yang sudah lari karena remote mobil sudah ada di tangannya.


"Kenapa belum tua sudah tidak konsentrasi?" Gemal langsung duduk, berdiri kembali mendengar cucunya menangis.


Isel mendiamkan putranya yang tidak ingin diambil dari Papanya, menolak diletakkan di atas ranjang.


Berbeda dengan dua bayi yang sudah tidur dengan tenang, tubuhnya juga sudah miring sampai Diana harus merapikan kembali.


"Tidur atau berenang kamu ini?" Diana menatap satu bayi sudah mengeluarkan tangannya, kaos tangan juga lepas tidur nyaman tanpa penghalang.


"Mirip sekali seperti Isel saat bayi," ujar Gemal menatap dua bayi perempuan.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2