
Flash kamera berada di mana-mana, Aira dan Blackat secara terang-terangan kembali bersama dan menunjukkan kepada publik pertemuan mereka.
Penjagaan juga sangat ketat, Black menggunakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya, begitupun dengan Aira.
"Kak minta waktunya sebentar,"
"Ai Aira!" teriakkan beberapa fans terdengar ingin memeluk Ai, tapi Black langsung melindunginya.
Kondisi tidak kondusif, Lea meminta Aira dan Blackat langsung diamankan. Keduanya bisa terluka karena antusias fans.
Lea menatap Aira yang terlihat kesal, sentuhan fans membuatnya lagi dan lagi terluka. Bukan hanya Aira yang terluka, namun Black juga terkena cakaran.
"Black, ayo ikut ke ruangan aku untuk bicara. Ada hal penting yang ingin aku katakan." Lea meminta Aira ke ruangan lain, dan menunggunya untuk kembali ke apartemen.
"Nanti saja bicaranya, kamu tidak punya hak mengatur aku. Masa kontrak aku belum habis, ayo Gilang kita pergi dari sini." Tanpa mendengarkan panggilan Lea, Blackat tetap pergi menggunakan mobil perusahaannya.
Helaan napas Blackat terdengar, melihat luka cakar di tangannya. Black masih binggung sebenarnya tujuannya dan Lea satu arah atau berlawanan.
"Black, aku rasa Lea tidak ingin menyakiti Aira. Dia hanya ingin terlihat kuat agar melindungi Ai,"
"Aku tidak tahu Lang, sejak awal aku dan Lea sudah berbeda tujuan. Dia memiliki dendam, tapi aku menginginkan kebenaran." Mata Blackat terpejam.
"Maaf Black boleh aku tahu apa yang sebenarnya terjadi? apa hubungan kamu, Lea dan Aira?'
"Aku harus mulai dari mana? dari Aira atau Lea?"
"Keduanya,"
Black terdiam sesaat, dia hanya mengetahui jika Aira putri bungsu dari keluarga Rahendra, dia putri Pengusaha juga kepala kepolisian. Kakaknya seorang dokter, dan bisnisman.
Ai sejak kecil sudah hidup dalam kemewahan, tapi masa kecil Aira penuh kenakalan meskipun sebenarnya dia hanya menginginkan teman.
Di rumah Aira selalu membuat rusuh, tapi hanya dilakukan untuk menjahili keluarganya. Saat sekolah Aira ingin memiliki banyak teman, tapi tidak ada yang ingin dekat dengannya.
"Aira diasingkan, karena tidak mendapatkan tanggapan baik, akhirnya Aira membuat masalah hingga semakin membuat orang takut. Dia anak orang kaya yang berkuasa." Black tidak menyalahkan Aira, tapi orang sekitarnya yang salah.
"Apa Aira gadis yang cerdas?"
__ADS_1
"Ya, dia sama seperti saudara kembarnya. Aira tida bisa beradaptasi dengan oang lain karena dia tidak menyukai mengulangi pelajaran yang sama, sehingga materi menjadi hal yang menyebalkan." Black tersenyum karena Aira begitu aneh.
"Bagaimana dengnn keluarganya?"
"Semua keluarganya oang baik,"
"Berarti Aira tidak ada cacatnya, dia gadis yang sempurna untuk dijadikan seorang panutan." Gilang tersenyum tidak bisa membayangkan betapa sulitnya lelaki yang mencintai Aira untuk meminta izin menikahinya.
Kepala Black menganggukkan, membenarkan jika Aira begitu indah dan sempurna dari Keluarganya, tapi sebaiknya seseorang pasti ada keburukan.
Begitupun keluarga Aira, mungkin mereka juga menyembunyikan sesuatu dari Aira dan menutupi kesalahan Ai demi masa depannya.
"Lalu, bagaiman dengan Lea?"
Wajah Black berpaling menatap ke arah jalanan, melihat sebuah rumah sakit besar yang menyimpan masa kelam baginya, Lea dan Aira.
Rumah sakit yang menjadi saksi masa lalu mereka yang begitu menyakitkan, masa yang seharusnya mencari jati diri, tapi mereka menyimpan trauma.
"Black, jangan katakan jika itu begitu berat bagi kamu, jangan paksa." Tangan Gilang mengusap punggung sahabat lamanya juga orang yang paling memahaminya.
"Lea ... aku juga baru tahu jika Lea dan Anggrek kembar. Bertahun-tahun Ibu bertahan di rumah tua, bukan karena tidak ingin kehilangan kenangan bapak, tetapi menunggu Anggia pulang dan menemui keluarga kandungannya. Jika Ibu pindah, maka kesempatan bertemu Lea semakin kecil. Itu harapan seorang ibu yang merindukan anaknya." Mobil melewati rumah sakit barulah Blackat menatap Gilang yang mengerutkan keningnya.
Anggrek juga sempat melakukan operasi hingga kondisinya jauh lebih baik, tapi kebebasan Anggrek hanya sesaat. Dia meninggal dalam keadaan yang menyakitkan.
Kedatangan Anggia bertepatan dengan kepergian Anggrek. Adiknya bahkan tidak pernah tahu jika memiliki kembaran.
"Aku tidak tahu pasti kehidupan Lea sebelumnya, dia diambil oleh keluarga kaya dan memiliki perusahaan yang merekrut banyak artis." Blackat meminta Gilang tidak melawan Lea, dia memiliki pengaruh besar.
Jika melakukan kesalahan terhadap Lea, dia bisa melakukan hal yang buruk. Siapapun artis yang membuatnya sakit hati pasti dihancurkan.
"Apa dia juga bisa menghancurkan kamu Black?"
"Tentu, dia tidak peduli siapa aku. Kami memang bersaudara, tapi hubungan kita tidak dekat. Tetapi aku yakin Lea sebenarnya baik." Black banyak melihat artis yang sukses berkat Lea.
Senyuman Gilang juga terlihat, dia juga yakin jika Lea sebenarnya memiliki hati yang baik. Dia hanya merasa dunia tidak adil, belum sempat bertemu namun sudah dipisahkan.
"Kamu menyayangi Lea?"
__ADS_1
"Tentu, dia adik kandungku. Masalahnya aku tidak memahami karakter Lea, dia memiliki pikiran yang tidak bisa ditebak." Kedua pundak Black terangkat.
Keduanya langsung diam, Gilang mendapatkan pesan soal Black dan Aira yang sudah tayang di media. Pihak perusahaan meminta Black bertanggung jawab dan menanggung kerugian besar.
Banyak kerja sama yang sudah ditandatangani, tapi Blackat melanggar kontrak sehingga harus membayar pihak yang dirugikan.
"Black, kamu terkena denda besar,"
"Bayar saja, apa boleh buat. Aku tidak mempermasalahkannya." Senyuman Black terlihat meminta Gilang santai saja.
"Tunggu kabar baik dari aku, nanti aku akan meminta keringanan kepada perusahaan kita." Gilang menghela napasnya tidak tega melihat Black dirugikan, dia tahu jika Black sudah bekerja keras.
Black melarang, dia juga akan segera mengakhiri kontraknya, dan pindah perusahaan. Gilang tidak harus mengurusnya lagi, apalagi menjadi penengah antara Blackat dan perusahaan.
"Apa yang akan kamu lakukan Black? Kamu dan Aira akan berada dalam genggaman Lea." Gilang tidak rela melihat karir Blackat hancur.
"Jangan khawatirkan aku, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin dekat dengan mereka berdua, solusi terbaik." Blackat bersiap turun dari mobil, berjalan masuk ke apartemen pribadinya.
Setelah lama tidak kembali, akhirnya Blackat bisa bernapas lega merasakan istirahat sejenak di kamar yang sangat dirindukannya.
Pintu apartemen terbuka, Black langsung masuk ke dalamnya. Melihat kondisi apartemen masih sama seperti saat dirinya pergi.
Panggilan masuk, tapi Black masih mengabaikan. Suara bel juga terus berbunyi membuat Black kesal, langsung membuka pintu melihat Gilang yang lari ngos-ngosan.
"Blackat? kenapa panggilan tidak dijawab?"
"Ada apa kita baru saja bertemu?"
Suara Gilang terbata-bata menarik tangan Blackat untuk masuk dan mengecek sendiri ponselnya.
"Aira mengalami kecelakaan beruntun. Ini tidak mungkin." Black langsung menghubungi Lea yang nomornya tidak aktif.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya 💛