
Suara Dean marah terdengar di dalam ruangan kerjanya, Isel yang baru bangun balik lagi ke tempat tidur karena tidak ingin mengetahui Dean sedang marah.
"Ren, dia sebenarnya hanya korban dari kekuasaan orang berkuasa." Isel memejamkan matanya berusaha tidak ikut campur.
Semakin lama Isel diam, sekuat apapun Dean mencoba mencari pembelaan untuk Ren tidak mengubah jika dia dijadikan kambing hitam dan dalang kejahatan Bian.
Isel merasakan kecupan pelan mendarat di keningnya, Dean mengirimkan pesan jika dia harus pergi ke tempat perkara karena ada satu anggota yang tewas.
Setelah Dean pergi, Isel langsung bangun megambil ponselnya untuk menghubungi Vio dan Weni yang pastinya masih tidur.
"Ada apa Sel? masih pagi ini." Vio sedang dalam perjalanan menuju lokasi pembunuhan salah satu anggota kepolisian yang bertugas menyelidiki kasus.
"Di mana Weni?"
"Masih tidur di hotel, ada apa?"
"Tunggu aku di persimpangan batas kota, kita bertemu di sana." Isel mematikan panggilan karena dia tidak bisa diam saja.
Bian terlalu kuat sehingga akan lolos kembali, semakin banyak yang mengusut kejahatan, maka akan terus bertambah korban yang meninggal.
Menghindari hal buruk, Isel harus menemukan Bian dengan caranya tanpa melibatkan suaminya.
"Aku sudah tidak bermain senjata sekitar satu tahun, akhirnya bertarung lagi." Isel menjalankan mobilnya, sedangkan drone kupu-kupu sudah diterbangkan.
Senyuman Isel terlihat karena dia menyukai pertarungan secara tertutup, tanpa ada aturan, hukum dan konsekuensi.
"Kalian sudah sampai lebih dulu?" tanya Isel yang menatap dua sahabatnya yang celingak-celinguk mencari sesuatu.
"Sel, Ghiondra ada di sini juga?" Weni sampai mimpi Kakaknya Isel karena terlalu mengangumi ketampanannya.
"Berhentilah mengigau Weni, sadar diri jika kamu tidak mungkin mampu menggapai dia. Bagaimanapun dia putra utama yang memiliki pengaruh besar, sedangkan kamu siapa?" Vio mendekati Isel yang menatap ke atas langit.
"Aku Wenda, pengusaha termuda yang akan menyaingi Aliya dan Atika Rahendra." Weni menatap Isel yang tersentak kaget.
"Jangan mencoba mengusik mereka, dua wanita psikopat. Aku akan menjodohkan kamu dengan anaknya Uncle Dika agar kalian berdua sama tidak waras." Isel menujuk ke atas langit agar bisa memantau pergerakan CCTV.
"Ganteng, kaya, apa kelebihan dia?"
"Weni hentikan, aku patah tulang kamu nanti." Vio mengikuti Isel yang berlari masuk ke dalam hutan meninggalkan mobil mereka.
Bibir Weni manyun, berlari kencang mengikuti Isel dan Vio yang sudah melompati beberapa pohon besar.
__ADS_1
Dari kejauhan Vio kaget karena melihat salah satu teman mereka yang tidak pernah muncul akhirnya bergabung.
"Laura, I love you." Weni lari tanpa melihat ada kayu langsung terjungkal ke depan sampai kepala berdarah.
Kepala Laura geleng-geleng, Weni masih saja ceroboh karena tidak pernah berhati-hati. Matahari bersinar cerah, tapi otaknya tidak jalan.
"Kapan kamu sampai? bukannya kamu patah tulang selesai balapan?" Vio memeluk Laura yang turun dari atas pohon.
"Kak Yolan meminta aku segera bergabung karena dia tidak bisa meninggalkan istrinya karena sedang enaknya membuat anak. Bagaimana kondisi kamu Sel?" Laura memeluk Isel yang tersenyum kecil.
Empat wanita melihat ke atas, drone yang Isel terbangkan sudah memasuki hutan untuk mencari seseorang.
"Kak Laura, Weni ada kabar bagus, pasti Kak Laura terkejut. Masih ingat Ghiondra?"
"Emh, putra tunggal keluarga Leondra. Dia juga tentara muda yang tergabung dalam misi rahasia. Ada apa dengannya?"
"Dia kakaknya Isel?"
Laura langsung batuk, menatap Isel yang tertawa lucu melihat teman-temannya masih saja kaget. Isel ternyata memang bukan orang sembarangan.
"Sel, tolong jodohkan aku dengan salah satu keluarga kamu," pinta Laura yang takut dijodohkan oleh orangtuanya karena itu dia rela patah tulang.
"Keturunan Leondra, Dirgantara dan Rahendra masih kecil semua. Hanya Kak Gion dan Kak Ian, tapi mustahil mendekati Kak Ian, kalian kenal Dokter Arjuna?" Isel menatap Laura dan Weni yang mencintai banyak lelaki, tapi takut dengan perjodohan.
Melihat Vio sudah bergerak tiga wanita juga mengejar untuk masuk ke dalam hutan. Laura memimpin pergerakan karena dia yang sudah mengawasi lokasi yang Isel curigai.
"Sebenarnya apa yang kita cari di tempat ini?" Weni garuk-garuk kepala karena belum mandi.
"Kemungkinan besar Ren bersembunyi di hutan ini, Bian menjadikan dia kambing hitam kita harus menyelamatkan dia." Isel menatap Vio yang nampak kaget.
"Kenapa kita menyelematkan dia, bahkan aku ingin melenyapkannya." Vio mengepalkan tangannya kuat.
"Pria yang namanya Ren tampan tidak, jika iya aku mau?" Laura sudah tua belum menikah.
"Weni juga mau, capek tidur bersama Vio." Bibir Weni manyun.
Mata Laura melirik ke samping, memberikan isyarat untuk duduk. Ada sekelompok orang yang mendekat."
Semuanya langsung mencari tempat persembunyian, ucapan Laura benar ada lebih dari sepuluh orang mengejar satu pria yang lari kencang tanpa peduli kayu.
"Ren akan segera lewat, tarik dia Vio karena melewati tempat persembunyian kamu." Isel melihat atau drone menangkap aksi kejar-kejaran.
__ADS_1
"Kenapa harus aku sialan?" Vio melihat Ren lari dalam keadaan penuh darah.
Vio berdiri menarik tangan Ren, Laura memakai topi langsung lari kencang mengantikan Ren agar bisa mengalihkan perhatian.
Tangan Ren gemetaran, menatap Vio yang menyelamatkannya. Setelah puluhan orang lewat, Weni juga berlari mengejar.
"Pergi dari sini Vio, bawa dia ke tempat aman. Kami akan membereskan mereka." Isel memakai topi langsung lari untuk membantu Laura sebelum terluka.
Suara pertarungan sudah terdengar, Laura yang ahli bela diri menyerang dengan cepat, Weni yang melihatnya akhirnya memilih duduk santai.
"Awas Laura." Weni megeluarkan belati langsung menancap punggung seorang pemuda.
Satu-persatu pemuda tumbang, Laura tersenyum menyeringai karena melihat lawannya tidak seberapa kuat.
"Sel, ayo duduk. Kamu tidak harus bertarung nanti lecet Dean bisa curiga." Weni dengan santai menepuk kayu meminta Isel ikutan duduk.
"Bantu Laura sekarang agar kita bisa segera pergi." Isel menatap tajam barulah Weni melangkah maju.
Tidak sampai lima menit delapan orang tumbang menyisakan satu orang. Pria bertekuk lutut di bawah kaki Isel.
"Siapa yang memberikan perintah?" dua detik tidak mendapatkan jawaban, Isel langsung melayangkan tamparan kuat sampai keluar darah.
Satu menit Masih belum ada jawaban, Isel menyuntikkan sesuatu karena dia tidak butuh informasi apapun.
"Sel kenapa langsung dibunuh, kita membutuhkannya untuk informasi?" Laura membentak kuat.
"Kita tidak membutuhkannya lagi," balas Isel dingin.
"Saya diperintah Nona Alika, tolong selamatkan saya." Suara memohon terdengar.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Weni pelan.
Lokasi keberadaan Alika diberitahukan, senyuman Isel terlihat langsung melangkah ingin pergi.
"Berikan obat penawarnya?"
"Kamu hanya mendapatkan suntikan vitamin," ujar Isel yang melangkah pergi.
Laura melayangkan pukulan kuat sampai jatuh pingsan, meninggalkan seluruh korban yang tumbang.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira