SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERSAMA


__ADS_3

Senyuman Isel terlihat saat tahu suaminya pergi ke rumah Bian langsung menyusul, bertemu dengan Laura dan Vio yang berniat menjenguk mertua Weni.


"Sel, kamu serius Weni menikah?" Laura tidak percaya.


"Mana mungkin dia menikah, kawin iya." Tawa Isel terdengar sesekali melirik Laura yang sudah bisa tertawa lepas.


"Yakin ini rumah Bian, mewah juga," puji Vio yang menatap dari gerbang.


"Tidak mungkin Bian tinggal di bebatuan." Laura meminta jangan ada yang keluar mobil karena satu mobil mewah melaju pergi.


"Bukannya itu mobilnya Ren, kenapa dia ada di sini?" Vio sangat yakin jika Ren tugas di luar kota.


"Ren sudah pulang kemarin, dia memiliki tugas baru atas permintaan Dean. Lagian sejak kapan Dean dan Bian suka menyusahkan orang, padahal Ren belum sempat istirahat." Kepala Laura geleng-geleng.


Isel dan Vio terdiam, bahkan Vio yang bertugas di kepolisian juga tidak tahu, Isel yang satu kamar dengan Dean juga tidak tahu. Laura bisa tahu padahal dia selalu mengatakan sibuk.


"Apa sekarang kamu sibuk pacaran?" Isel tercengang.


"Kamu sudah move on Ra, jatuh cinta lagi. Pikir-pikir dulu Laura jangan asal cinta, nanti patah hati lagi, baru juga mati suami, sudah mengincar perjaka. Aku tidak ingin melihat kamu dan Weni jambak-jambakkan." Ekpresi Vio kaget karena Laura memang paling bodoh dalam cinta.


"Aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku harus memikirkan seseorang yang sudah menyakiti, setidaknya Ren baik dan selalu ada."


Tangan Isel dan Vio elus dada, tidak bisa mencerna isi otak Laura. Semua lelaki akan baik jika belum memiliki.


"Ayo kita masuk, kenapa juga debat di sini."


"Sel, Laura sudah gila." Vio melangkah keluar.


"Biarkan saja, Ren memang baik hanya kurang kaya." Senyuman Isel terlihat, berlari masuk ke dalam rumah mewah Bian yang tidak ada penjaga.


Tiga wanita mengendap pelan menghindari keamanan, Isel mengecek ponselnya karena Mamanya meminta pulang sebelum stok ASI habis.


"Nanti, Isel sedang bersenang-senang kenapa diganggu?" Isel mengacak-acak rambutnya karena dirinya memiliki buntut.


"Kenapa kita harus berjalan jongkok, perut aku sakit," keluh Vio karena sedang hamil muda.


"Sial, satunya ibu muda, satunya bumil muda, lagian apa tujuan kita datang ke sini?" tanya Laura.


Ketiga wanita langsung berdiri, berjalan ke arah pintu untuk mencari Weni, tapi kedatangan disambut oleh beberapa maid yang sedang beres-beres.


"Cari siapa?" tanyanya.


"Tuan Bian," jawab Isel.

__ADS_1


"Tuan baru saja pergi bersama temannya untuk ke rumah sakit, terlihat terburu-buru padahal keduanya baru sadar dari mabuk."


"Mabuk ... Temannya Bian juga?" tanya Laura.


Kepala maid mengangguk, pria yang bersama Bian terlihat tampan, memiliki tubuh yang bagus.


"Hanya dua, lalu suamiku di mana?" tanya Isel yang tidak tahu.


"Diculik janda," goda Vio membuat Isel cemberut.


"Suami kamu digoda pelakorr." Isel mengepalkan tangannya, tapi masih berpikir dua kali karena Vio sedang hamil.


Laura ingin melangkah pergi, tapi ditahan oleh Isel. Tujuan mereka bukan mencari Ren, tapi Weni yang belum ditemukan.


Maid menujukkan kamar Weni yang berada di kamar Bian, ketiganya melangkah tanpa peduli dihentikan.


Pintu terbuka, baju berhamburan di lantai melihat seorang wanita cantik tidur pulas dalam balutan selimut.


"Ren atau Bian yang tidur dengan Weni?" Isel menutup mulutnya.


"Isel! Jaga mulut kamu. Weni bodoh bangun, ada kebakaran cepat bangun." Laura berteriak di atas tempat tidur, menendang Weni yang masih terpejam.


Tendangan kuat menghantam Laura sampai jatuh tersungkur, tawa Isel dan Vio terdengar melihat Laura terpental.


Semalaman di rumah sakit, baru ingat tidur sudah ada yang berada di atas tubuhnya tanpa memberikan jeda untuk tidur dan bernapas lega.


Mata baru terpejam sudah mendengar suara Laura teriak-teriak seperti orang hutan yang tidak tahu tempat.


"Bagaimana bisa kamu diam saja saat Bian meminta jatah?" Vio melempar Weni menggunakan bantal sofa.


"Siapa yang bisa nolak om tua seksi itu, lumayan bisa enak-enak." Senyuman Weni terlihat.


Senyuman Laura juga terlihat, berguling di atas ranjang meminta Weni menceritakan bercinta dengan Om-om seksi.


"Untung Isel sudah menikah pulang ke rumah minta jatah," ucap Isel mengelus dada.


"Aku rasa kita harus berhenti bicara begini, soalnya Bunda mertua sedikit alim, aku takut salah bicara."


"Mengobrol saja sama Ayah mertua, otaknya mungkin juga kotor." Weni melirik Vio yang mengelus perutnya karena takut anaknya mendengar.


"Astaghfirullah Al azim Weni, jika kamu sesat jangan membawa aku. Sekarang Vio sudah taubat," jelas Vio tidak ingin mendengar.


Kepala Isel geleng-geleng, menatap ketiga teman kecilnya yang bisa tumbuh besar bersama. Isel tahu pertemanannya yang sangat liar, tapi paling penting tidak saling menjerumuskan.

__ADS_1


"Wen, lebih baik menikah. Bagaimana jika hamil, jangan pikirkan enaknya, pikirkan juga anak kamu. Aku sarankan sebagai teman, aku ingin kamu bahagia." Isel menatap Weni yang melamun sambil memeluk guling.


"Betul, Isel sudah punya tiga baby, tahun depan aku juga punya, kalian berdua juga harus menyusul. Dulu kita tumbuh bersama, mari jadi ibu bersama." Senyuman Vio terlihat lebar menyemangati.


"Ayo, Laura juga mau."


"Memangnya kamu punya calon?" tanya Weni binggung.


Isel dan Vio saling pandang, berharap keduanya tidak bertengkar. Weni menyayangi Ren sebagai Kakak, sedangkan Laura sahabat dekatnya.


Senyuman Laura terlihat, dirinya sudah dilamar. Menunjukkan cincin di jari manisnya, Isel langsung pindah tempat duduk melihat cincin.


"Bukannya itu cincin dari Kak Ren, aku yang menemaninya membeli itu?" Weni menatap tajam.


"Oh begitu, pantas saja sesuai selera. Padahal aku tidak ingin dia buang-buang gaji, uangnya tidak banyak." Laura lompat dari atas ranjang karena Weni ingin menendang lagi.


Teriakan Isel terdengar, menarik tangan Weni agar tidak mengejar Laura keluar kamar dalam keadaan tanpa busana.


"Sumpah ini menjijikan Weni, pakai baju kamu." Isel melangkah keluar merasa geli.


Tawa Vio terdengar sampai sakit perut melihat Weni tanpa baju, sungguh memalukan karena urat malunya sudah putus.


"Laura, cari mati kamu. Aku tidak mengizinkan Kakakku menikahi janda!" teriakkan Weni menggema membuat Laura tertawa.


"Apa hak dia, sadar perempuan aneh." Tawa Laura terdengar karena berhasil kabur.


Kemarahan Weni masih terdengar tidak mengizinkan kakaknya menikahi janda meskipun sahabatnya.


"Apa kurangnya aku, cantik, kaya, belum punya anak, paling bagusnya sudah berpegalaman." Lidah Laura terjulur.


"Aku masih gadis juga berpegalaman bodoh, kembalikan cincin."


"Cukup, apa yang kalian ributkan?" tatapan Bian tajam karena baru saja balik lagi.


Keempat wanita diam, baru sadar jika ada Bian, Ren dan Dean yang menonton pertengkaran.


"Pakai baju yang sopan Weni, sebelum aku sobek baju kamu di depan semua orang!" bentak Bian.


"Bajunya memang begitu Bian, kurang bahan," bisik Dean.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2