SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
DITOLAK


__ADS_3

Matahari saja belum muncul Dean dan Isel sudah tiba di rumah sakit, Dean pergi ke tempat jenazah Brayen sedangkan Isel ke kamar Laura.


Pintu kamar terbuka, Isel menatap Laura yang sudah bangun dari atas tempat tidurnya menatap ke arah jendela.


"Apa yang sebenarnya terjadi Ra, kenapa Brayen bisa bunuh diri?"


"Itu pilihan dia Sel, aku hanya mengatakan jalani hukuman dan bayar semua kesalahan, tapi dia menolak." Laura menatap Isel melangkah keluar kamar menuju ruangan jenazah.


Isel berjalan di samping Laura, terlihat sekali wajah marah dan kecewa. Sudah disakiti, lalu ditinggalkan pergi.


Suara Weni dan Vio lari-larian terdengar, baru mendapatkan kabar soal Brayen yang mati bunuh diri.


"Woy bumil, pagi sekali datangnya? Tidak capek kamu membawa perut sebesar itu?" tanya Weni yang gemes melihat perut Isel besar, tapi badannya tetap kurus.


"Mereka lebih antusias dari pada aku, ikuti saja apa maunya. Calon jagoan semua karena sejak Laura menghilang kesulitan tidur." Isel terseyum kecil merasa senang bisa diizinkan oleh suaminya untuk ikut.


Sampai di ruangan jenazah hanya ada kepolisian, Laura tidak diizinkan masuk. Vio menujukkan identitasnya barulah mereka semua bisa masuk.


"Bagaimana bisa bunuh diri, apa yang Brayen katakan kepada Laura?"


"Dia bukan ingin mengatakan sesuatu, tapi membunuh aku." Laura melangkah masuk menujukkan bekas suntikan di lengan.


Brayen tidak punya pengalaman soal melarikan diri dari kantor polisi, tidak tahu apapun karena dia hanya menjalankan perintah.


"Kamu yakin sampai akhir dia menjalankan perintah?" tanya Dean dengan nada dingin.


"Ucapan Laura benar, aku saksinya." Ren melangkah masuk secara tertatih.


Ren berhasil lolos karena Laura menyelamatkannya. Ada orang dalam Kepolisian yang ingin menutupi kejahatan Kim.


Tangan Dean tergempal, kasus Kim sepertinya berlangsung lama. Ada orang pangkat tinggi yang ikut campur.


Ketukan pintu terdengar, Ghion tersenyum kecil menatap Brayen yang mati dengan cara menyedihkan.


"Vio dan kamu Ren mundur, Isel fokus saja dengan kehamilan kamu, Weni selesaikan masalah kamu dan Bian, sedangkan Laura secepatnya pulih dari rasa sakit patah hati juga sakitnya penyiksaan. Kasus ini akan diusut secara rahasia oleh para atasan. Kak Dean tunggu hasil di persidangan," ujar Ghion yang menyampaikan amanah dari Kakeknya untuk semuanya mundur.


Isel keluar diikuti oleh Laura dan Weni, Vio juga langsung lari mengejar Ghion yang jalan santai tidak tanpa beban karena dirinya berangkat ke luar negeri.

__ADS_1


"Kak, siapa sebenarnya orang di balik kasus ini?" tanya Isel memeluk lengan Ghion.


"Tanya saja Kakek Dimas, dia yang akan membereskannya. Meskipun aku tahu, tidak penting juga untuk kamu, lebih baik di rumah tunggu waktunya lahiran." Ghion menatap sinis adik bungsunya.


"Isel mau liburan keluar negeri saja, ikut ya?"


Kepala Ghion geleng-geleng, tidak mungkin pergi membawa Isel yang sedang hamil besar. Bisa melahirkan di jalan, lagian Ghion bukan jalan-jalan ada kasus yang harus diselesaikan.


"Terima kasih Ghion untuk tadi malam," ujar Laura yang belum sempat mengucapkan terima kasih.


"Bagaimana kamu bisa tahu jika itu aku?"


Kepala Laura menunduk melihat bekas luka kecil yang sengaja Laura tinggalkan. Ghion tertawa karena Laura cukup cerdas, tidak menyangka dia menjadi korban suaminya sendiri.


Sampai di parkiran, Ghion meminta bantuan menjaga adik perempuannya. Dirinya akan kembali setelah lahiran.


"Hati-hati ketua," ujar Vio yang mengangumi sosok Ghion.


Kepala Isel dan Weni menoleh ke arah Vio, tidak mungkin dia lancang menyukai Ghion yang memiliki segudang pacar.


Isel menelan ludah pahit, Kakaknya sungguh keterlaluan. Belum mengakui perasaannya sudah langsung ditolak.


"Ish, Kak Ghion becanda saja, tidak mungkin Vio sama dia," ucap Isel agar suasana mereka tidak canggung.


"Aku memang mencintai Ghion, aku menyukainya dan kesekian kalinya cinta bertepuk sebelah tangan."


"Sudahlah jangan meratapi nasib, cinta tidak seindah itu. Jangan jatuh cinta jika tidak ingin seperti aku," tegur Laura yang memutuskan untuk pulang.


"Tidak ada juga yang ingin seperti kamu, kita berharap seperti Isel." Weni menjulurkan lidahnya.


Lirikan mata Laura tajam, Isel lompat ke atas batu menbuat tiga wanita teriak secara bersamaan.


"Isel, kamu bukan kodok. Main lompat saja, cepat turun!" teriakkan Weni terdengar, Isel langsung turun perlahan.


Tatapan mata Isel tajam memutuskan untuk menemui suaminya, tidak ingin bicara dengan Weni yang suka membentaknya.


"Perempuan gila, tidak heran menjadi dokter orang gila. Lagi hamil lompat, tidak sekalian saja terjun dari atas gedung." Weni mengejar Isel yang ngambek memintanya untuk pulang.

__ADS_1


Mayat orang mati juga bisa hidup lagi melihat wanita hamil yang membawa perut besarnya, Vio menarik Isel untuk pulang.


"Sel, lebih baik kita pulang, kita makan saja di cafe." Laura kabur dari rumah sakit untuk mengobati patah hatinya


"Laura kamu tidak ingin menangis?" tanya Isel yang penasaran karena Laura nampak santai.


"Kenapa aku harus menangis?" Laura membuka baju rumah sakit hanya menggunakan bra di dalam mobil.


Vio memberikan baju, kasihan kepada Laura yang menjadi janda di usianya yang sangat muda. Apalagi ditinggal mati suaminya, jangan menangis mengurus jasad saja Laura engan.


"Sia-sia hilang mahkota, ujungnya jadi janda," sindir Weni yang menjalankan mobil.


"Jangan membicarakan mahkota, aku tahu kamu gadis rasa janda." Tawa Laura terdengar duduk santai di samping Vio.


Tawa Isel juga terdengar, menceritakan malam pertamanya yang sangat nikmat. Isel rasanya ingin melakukannya setiap malam.


"Kenapa kalian membicarakan hal itu?" Vio merasa tidak nyaman.


"Jangan munafik Vio, aku tahu kamu pernah melakukannya. Awal kamu jatuh cinta kepada Dean karena menjalin hubungan dengan sepupunya, dia yang sudah mengambilnya." Weni bongkar air di depan Isel yang baru tahu karena Vio memang tidak pernah menunjukkan perasaannya.


Pukulan Vio kuat ke arah kepala Weni, mengecapnya sebagai mulut sampah karena membuka aib orang sangat lancar.


"Siapa mantan pacar kamu, sepupunya Dean berarti anaknya Uncle Dika?" Isel baru tahu. Pantas saja Vio tahu jika Dean anak orang kaya, tapi tidak tahu jika Isel bagian dari keluarganya Dean.


Sorakan Laura terdengar meminta Vio berkata jujur jika ada hubungan dengan sepupunya Isel.


"Ceritanya panjang, aku juga baru tahu ternyata Papanya pengusaha dan Mamanya dokter."


"Jadi kamu pacaran bersama playboy bodong itu, berapa wanita yang dia bawa tidur." Isel memukul dasbor mobil.


"Dia tampan tidak Sel, kabarnya dia juga seorang dokter?"


"Ya, namanya Devan( maaf kalau salah, lupa soalnya, hanya Ingat D. Hihihi), dia anak pertama. Memiliki dua adik perempuan, satunya mirip kuntilanak, satunya mirip malaikat. Bulan depan Devan menikah dengan sesama dokter, haruskan aku membatalkannya?" tanya Isel ke arah Vio.


***


Menyempatkan untuk up. Sebelum tanggal 29 masih sibuk mohon pengertiannya.

__ADS_1


__ADS_2