
Persiapan pernikahan Lea sudah dimulai, tempat dan segalanya sudah ditentukan. Keluarga besar Juan turun tangan semua untuk memberikan yang terbaik.
Air mata Lea menetes mengusap foto Blackat, dia tidak bisa mengingat Kakaknya sama sekali.
Pemberitaan kematian Blackat dicari tahu, tempat yang Aira kunjungi ternyata tempat terakhir kakaknya.
Tangisan Lea terdengar, memeluk foto kakaknya yang tersisa. Aktor juga penyanyi yang sangat terkenal, namun Lea tidak bisa mengingatnya sedikitpun.
Aira masuk kamar, memeluk Lea yang menangis histeris. Memanggil kakaknya, memintanya untuk pulang.
"Hentikan Lea, jangan merasa hidup kamu kesepian. Ingat apa yang aku katakan, jika kepergian Blackat bukan akhir dari kehidupan kamu." Ai memeluk erat meminta Lea mengikhlaskan kepergian kakaknya.
Rasa kehilangan hal yang normal, Lea pasti merasakan sakitnya kehilangan seluruh keluarganya.
"Ai, aku akan segera menikah, tidak ada Papi, Mami dan Kakak yang mendampingi aku. Lea tidak punya keluarga." Tangisan Lea terdengar sangat menyayat hati, dadanya sesak mengetahui jika Kakak tidak ditemukan.
Di balik pintu, Juan melangkah masuk memeluk calon istrinya yang sedang bersedih setelah mengetahui jika kedua orangtuanya dan Kakak adiknya sudah tiada.
"Ke mana Lea harus datang untuk menyapa? kakak bahkan tidak pulang," ucap Lea dengan nada pelan.
"Menangis tidak dilarang, tapi jangan terpuruk dan berlarut. Kita temui Kak Black untuk meminta restu, juga datang ke makam kedua orang tua kamu." Juan menggenggam tangan Lea sambil meneteskan air matanya.
Kepala Lea mengangguk, dia ingin menemui Kakak dan kedua orangtuanya. Meksipun Lea tidak memiliki kenangan bersama mereka, tidak bisa mengingat apapun soal keluarganya.
Langkah Lea keluar dari kamar, memeluk lengan Juan masih tidak bisa menghentikan tangisannya. Dirinya sangat merasa bersalah karena tidak mengingat kakaknya.
Keluarga yang sedang memilih baju untuk acara hanya bisa diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ikut bersedih melihat Lea yang baru tahu soal keluarganya namun tetap tidak bisa mengingat.
"Mami," panggil Lea dengan tangisan yang semakin pilu.
"Sini peluk Mami nak, jangan menangis seperti itu. Mami juga tidak sanggup melihat kamu yang terluka." Pelukan Mami sangat erat, menangis bersama dengan Lea.
Diana berdiri, langsung memeluk Lea dan Adiknya. Tangisan ketiganya terdengar, Aliya dan Diana masih bisa saling berbagi kasih sayang, mereka memulai kehidupan baru setelah badai.
__ADS_1
Saling menjaga dan melindungi, berbeda dengan Lea, bukan hanya sekedar kehilangan keluarga namun hilang juga moments bahagianya.
Lea seperti bayi yang baru lahir, tidak memiliki memori apapun. Dia hidup sendirian tanpa tahu apapun.
"Sudah jangan menangis, Lea punya kita semua. Buatlah moments bahagia bersama kita, habiskan banyak waktu untuk memiliki kenangan indah." Altha mengusap kepala Lea, mengusap air matanya meminta berhenti menangis.
Wanita tangguh dia yang kuat menghadapi hidupnya, Lea sangat spesial karena memiliki ujian hidup yang begitu sakit.
"Kebahagiaan menanti kamu, air mata hari ini akan diganti dengan tawa." Alt memegang kedua pundak Lea untuk bertahan.
"Lea tidak bisa mengingat mereka Pi, tapi hati Lea merasakan kesedihan yang teramat dalam. Sehebat apa Lea sehingga diuji begitu luar biasa, maafkan jika Lea terlihat lemah, tapi ini sakit Pi." Kedua tangan Lea menutup wajahnya menyembunyikan tangisannya.
Altha memeluk Lea yang menangis sesenggukan, tubuhnya sampai bergetar karena merasa sangat kehilangan.
"Lea ingin menemui Kakak, ingin meminta maaf,"
"Ya sudah, kita temani Lea untuk bertemu Kakak. Papi yakin, Black tenang jika melihat kamu datang dan berjanji akan bahagia." Alt menatap Juan untuk mendampingi Lea melepaskan kesedihannya.
Dia begitu nyaman berada di dalamnya sehingga memutuskan tidak pernah keluar, bahkan sedikitpun tidak menunjukan tanda jika dia ada.
Beberapa mobil berhenti di jembatan, tidak ada yang sanggup keluar tanpa air mata. Hanya Lea, Juan dan Aira yang berjalan bersama.
"Kakak, Lea datang. Maafkan Lea ya Kak karena terlambat untuk datang. Kenapa Kak Black di dalam? di sana dingin Kak." Lea memegang jembatan menatap air sungai yang terlihat deras karena air naik.
Senyuman Lea terlihat, mendoakan kakaknya di dalam hatinya setulus mungkin. Lea berharap kakaknya akan melihat dirinya menikah.
Seluruh keluarga berdoa di dalam hati masing-masing, mendoakan yang terbaik untuk Blackat. Mereka semua ikhlas melepaskan dan menganggap Black hidup di dalam hati.
Lama Lea memejamkan matanya, tangan meremas jembatan dengan sangat kuat. Juan memeluknya dari belakang meminta Lea ikhlas.
"Sayang, jangan menyakiti diri sendiri. Kak Blackat tidak menginginkan kamu seperti ini, bangkit kembali Lea, aku akan menjaga dan mencintai kamu hingga akhir hidup aku." Juan menyatukan jari-jemari untuk saling menguatkan.
"Lea ikhlas, dan meminta maaf karena tidak bisa mengingat apapun. Dari lubuk hati paling dalam Anggia sayang Kakak." Suara tangisan Lea terdengar kembali, meremas tangan Juan dengan sangat erat.
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Aira hanya berdiri diam memperhatikan arus air, teringat Isel yang biasanya ada di sungai.
Sudah satu bulan Isel pergi tanpa kabar berita, dia meninggalkan wilayahnya untuk mencari tempat baru.
"Kenapa Isel pergi setelah dua tahun menguasai tempat ini?" Ai menatap sungai dan langit.
Tangan Dean menepuk pundak Aira, melihat ke arah arus sungai teringat Isel yang selalu membuat Dean harus datang setiap harinya.
"Apa kabar Isel?"
"Kamu belum menemukan keberadaannya? tidak menghubungi Mam Jes?"
Helaan napas Dean terdengar, dia sudah menghubungi dan keluarga di sana hanya bertemu dengan Isel beberapa jam.
Isel tidak mengatakan negara tempatnya mendarat, dia tidak tinggal di negara nenek Kakeknya.
"Ai merasa ada yang Isel sembunyikan, kenapa dia tiba-tiba menyerang aku di sini?" jika memperebutkan Black mungkin sudah lama mereka bertarung, tapi kenapa setelah Black meninggal.
Dean memikirkan hal yang sama, tapi tidak ada yang bisa memahami Isel. Dia akan kembali jika sudah waktunya.
Suara teriakan terdengar, Lea pingsan. Aira langsung bergegas mendekatinya. Juan menggendong Lea untuk membawanya ke rumah sakit.
"Ai, hubungi rumah sakit,"
"Kita pulang saja Kak, Lea bukan pasien lagi, sudah Kak Juna katakan dia tidak akan mengingat apapun. Berhentilah mengkhawatirkan secara berlebihan." Ai membukanya pintu mobil.
Dean masih berdiri di atas jembatan, mengingat kecelakaan Blackat yang terjatuh di posisi yang berbeda dengan Imel. Kemungkinan Imel terbawa arus deras, namun tidak dengan Blackat. Dia hanyut ke cabang sungai kecil.
"Ya Allah kenapa cabang sungai kecil itu baru terlihat? Dulu air setinggi ini, dan semuanya fokus ke arus deras." Juan menghubungi orang kepercayaannya untuk menyusuri sungai kecil yang muncul hanya saat air naik.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1