
Tanpa menyimpan dendam dan amarah, Dean membiarkan Bian masuk. Tidak tahu apa lagi tujuan Bian berani muncul bahkan di depan keluarganya.
"Maaf aku menganggu," ujar Bian yang membungkukkan sedikit tubuhnya.
Secara langsung Bian meminta maaf karena kecelakaan Isel tidak mungkin terjadi jika bukan berawalan dari dirinya.
"Tidak perlu dibahas lagi, apa yang hilang biarkan. Jika kamu datang hanya mengatakan maaf, maka kami tidak bisa memaafkan." Anggun menatap tajam, tidak bisa terima dengan hanya kata maaf.
Mata Isel dan Dean bertatapan, jika Mommy Anggun yang sudah angkat bicara tidak ada yang berani membantah lagi.
"Jawaban satu orang sudah mewakili semuanya, maka silahkan keluar." Aliya menatap tajam Bian yang mengusap air matanya.
Kepala Bian mengangguk, dirinya sangat menyesali kehilangan Isel, tapi tidak merasa salah karena jatuh cinta. Bian lebih dulu mencintai Isel sebelum Dean.
"Jatuh cinta kamu memang tidak salah, tapi cara menyingkapi yang salah. Cinta kepada siapa saja boleh, tapi ada batasan. Sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain, tidak sepatutnya dihancurkan dan direbut. Kamu bahagia, tapi tidak dengan pasangan. Segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik." Langkah Gemal mendekat, menarik kerah baju Bian untuk menatap wajahnya karena sudah lancang menyakiti putrinya.
Kepala Bian mengangguk, dia salah karena memaksakan kehendak. Sampai kapanpun tidak mungkin bisa mendapatkan wanita seperti Isel.
"Tubuh Bian membungkuk sampai berlutut memohon agar memaafkan dirinya, Bian tidak mungkin bisa melanjutkan hidupnya jika masih meninggalkan rasa bersalah.
"Kamu merasa bersalah soal apa? kenapa tidak mengingat betapa banyaknya kamu merugikan orang, silahkan menyerahkan diri jika kamu begitu ingin dimaafkan?" Dean mengingatkan Bian dengan semua kejahatannya. Meksipun bukan dirinya yang melakukan, tapi tetap saja dia yang memberikan perintah.
"Aku akan menyerahkan diri, memberikan seluruh harta kekayaan aku kepada orang yang membutuhkan. Aku siap di hukum seumur hidup," ujar Bian dengan penuh keyakinan.
Diana langsung terkejut, bukan itu akhir yang Diana inginkan. Di dalam hati kecil Diana menginginkan Bian menemukan kehidupan bahagia.
"Tidak boleh, kamu tidak bisa menyerahkan diri karena akan menggagalkan permainan yang sedang berlangsung." Kepala Tika menggeleng diikuti oleh Shin.
Tangan Isel menggenggam jari-jemari Dean, menatap tanpa berkedip. Isel sejak awal tidak pernah mengumumkan siapa Bian, dia juga lebih pilih tidak ikut campur, tapi keadaan yang membawanya.
Isel tidak ingin memiliki semakin banyak musuh, waktu bermainnya sudah usai. Melepaskan Bian jauh lebih baik daripada masih terikat.
"Kakek, aku ingin Bian kehilangan segalanya dan berada di perbatasan perang. Dia bisa melihat kejamnya dunia di sana." Ghion ingin orang kejam berada di tempat yang semestinya.
"Aku lebih setuju dengan Ghion," ujar Papa Calvin yang ingin Bian memulai kehidupannya dari nol.
__ADS_1
Berhenti mengusik rumah tangga Isel, Bian akan menemukan bahagianya dan jika berhasil menjadi orang baik maka jodoh terbaik juga pasti datang.
Banyak yang mengatakan jika jodoh cerminan diri, ada kelebihan juga kekurangan. Ada yang pemarah juga sabar sehingga rumah tangga imbang.
Kepala Bian langsung mengangguk, dia akan ikut ke negara lain untuk memulai hidup. Tinggal di tempat yang tidak ada satupun kenal dirinya.
"Memulai dari nol tidak mudah, kamu bisa saja mati di tengah perjuangan." Shin menatap kasihan karena Bian juga tidak memiliki keluarga.
"Kamu bisa pergi dan kehilangan segalanya, atau kamu tetap berada di posisi sekarang, tapi berdamai dengan diri sendiri. Musuh terberat bukan lawan, tapi ambisi." Ian melangkah keluar pamit untuk pergi.
Isel dan Tika tepuk tangan, Ian benar musuh terberat saat kita terlalu berambisi sehingga lepas kendali. Si kembar yang sangat berbeda karakter. Ian dan Ghion memang tidak pernah sejalan.
"Kak Tika sarankan ikuti Ian, pamit pulang dulu." Tika mengejar Ian yang sudah menghilang.
"Saran Ghion juga bagus, tapi cepat juga almarhum." Shin melambaikan tangan pamit pulang karena anaknya sudah membuat Papa dan Papinya botak karena pusing.
Tawa Ghion terdengar, dirinya tidak pernah mengorbankan nyawa orang hanya saja sensasi menegangkan sangat menyenangkan.
"Aku dan Isel memaafkan kamu, kita tidak ingin menjalankan siapapun. Ini hanya teguran dan ujian melalui orang lain, dan teguran juga cara kita memperbaiki diri. Tidak ada hak aku untuk menuntut kamu, tapi saran Ian jauh lebih baik. Hadirnya orang kaya untuk membantu orang yang membutuhkan, maka lakukan tugas kamu." Dean menarik napas panjang berharap dengan mengikhlaskan segalanya bisa mengajari menjadi lebih baik.
"Di mana Ai?" Dean baru ingat jika Aira tidak muncul lagi.
"Kenapa bertanya Kak Ai?" Isel mencubit perut Dean kuat.
"Ya Allah, bertanya saja tidak boleh." Dean mengusap perutnya yang perih.
Dean berdiri di depan Isel agar Bian tidak menatap istrinya lagi, senyuman Isel terlihat memeluk pinggang suaminya.
Dokter masuk, meminta keluar sebentar karena ingin mengecek kembali kondisi Isel karena dia ingin beristirahat di rumah.
Satu persatu keluar, hanya menyisakan Dean dan Isel. Dokter tersenyum melihat ketampanan suami Isel.
"Jaga mata Dok suami orang," ujar Isel sinis.
"Kamu putrinya Dokter Di, sikap kalian sama persis." Dokter tersenyum kecil, melakukan tugasnya barulah keluar.
__ADS_1
"Siapa dia Uncle?"
"Kamu tidak kenal dia?" Dean tersenyum karena Dokter yang menangani Isel calon istri anaknya Septi dan Dika.
Mereka sudah persiapkan menikah, si nakal yang membuat darah Papinya naik setiap saat berhasil menaklukkan hati seorang Dokter kandungan, satu profesi dengan Maminya.
"Oh, dia cantik, kenapa mau dengan polisi gadungan?"
Dean hanya mengulum senyum karena Isel sengaja memancing dirinya agar memuji cantik, lalu akan mengamuk karena memuji wanita lain.
"Besok kita pulang ke apartemen, lalu pulang bersama Mommy Daddy." Dean mengusap wajah istrinya.
"Bi, Isel minta maaf karena sebenarnya buah pir di lemari es Isel yang makan, bukan Brayen."
Senyuman Dean terlihat, selama hamil Isel menanggung ngidam sendiri. Tidak suka buah pir, tapi langsung suka. Tanpa Isel mengatakan Dean sudah tahu karena mengecek CCTV rumah.
"Maaf, janji ini tidak akan terulang lagi. Abi akan lebih perhatian dan peka," ujar Dean menyakinkan.
"Isel tidak percaya, sudah tahu wataknya Abi yang tidak peka. Sejak kapan nama Dean bisa memahami wanita?"
"Sudah lama sayang, gengsi saja." Tawa Dean terdengar, mengecup pipi Isel yang cemberut.
Sikap gengsi suaminya sangat luar biasa, Dean begitu dingin kepada siapapun, begitu menjaga image.
"Bi, nanti jika kita punya anak ingin mirip siapa?
"Aku," balas Dean.
"Tidak tahu diri." Isel memukul pelan wajah suaminya.
Tawa Dean terdengar memeluk lembut Isel yang sudah cemberut, dia tidak ingin memiliki dua manusia gengsian.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1