
Mobil Brayen berhenti di hotel berencana mengambil pakaiannya juga uang daan beberapa aset yang disimpan.
"Gila, keluarga Isel sebenarnya siapa, masih kecil, tapi ahli bela diri semua." Brayen menarik koper untuk keluarga hotel.
Ada banyak remaja yang berdiri di depan mobil Brayen berusaha menghentikan, mereka masih menunggu si kembar.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Brayen.
"Kamu tidak bisa pergi setelah membuat kekacauan."
Teriakan Mora terdengar, menendang sepeda listrik miliknya karena kehabisan baterai. Tatapan mata Mora tajam melihat Brayen membawa banyak koper.
"Ada berapa nyawa kamu berani masuk ke rumah?" Mora mengepalkan tanganya sudah lama dia mencari lawan yang imbang.
Senyuman Brayen terlihat ada banyak orang-orang berbadan besar yang berdatangan untuk membantu Brayen.
Dia sengaja membayar orang jika saja keluarga Isel memberontak terutama Tika dan Shin yang terkenal suka tawuran.
Tawa Mora terdengar, sangat menyukai pertarungan karena pada akhirnya mereka punya lawan.
"Tugas kalian sudah selesai, jaga di gerbang jangan sampai ada polisi ataupun keamanan yang datang ke sini," pinta Mora agar dirinya bisa melakukan sendiri.
"Awas Mor!" Mira menabrak sepeda motor Mora semakin hancur.
Tawa Mira terdengar, menatap Brayen dan banyaknya pria berbadan besar. Tangan Mira meminta teman-temannya berjaga.
"Ternyata kamu tidak tertembak," ucap Brayen menatap dua gadis kembar.
"Kamu tahu siapa kita?" Mira melangkah maju melilit kain di tangannya yang ada bekas luka.
"Bunuh saja dua anak ini, sudah terlanjur berantakan sekalian saja mereka semua menangis duka agar Isel keguguran." Tawa Brayen terdengar, hatinya masih sakit mendengar hinaan keluarga Laura saat dibandingkan dengan Dean.
Suara pertarungan terdengar, Brayen memasukkan tas yang berisikan uang juga emas dan beberapa surat penting ke dalam mobil.
Tendangan Mora menghantam wajah pria tinggi sampai terpental ke arah mobil, Brayen sampai tercengang melihat ke arah Mira yang melawan lima orang sekaligus.
"Kamu mencari lawan yang salah." Mora mengibaskan rambut panjangnya.
Dia orang menarik tangan Mora, tapi tidak menahan kakinya yang bisa memecah milik lelaki.
Mami Shin selalu mengajarkan jika sudah lelah bertarung, hancurkan barang berharga. Setiap manusia memiliki titik kelemahan termasuk lelaki.
"Wow ini nikmat, Mora suka bertarung."
__ADS_1
"Terakhir!" Mira melayangkan pukulan kepada pria besar hingga terjatuh ke arah Mora.
Tubuh Mora hilang karena ditimpa dua orang sekaligus, Mira berkeliling mencari keberadaan Mora yang lenyap.
"Mora, di mana kamu?"
"Babi kamu Mira, awas saja." Mora berhasil bangkit meraba dadanya yang rata semakin rata.
Belasan orang bayaran Brayen tersungkur jatuh, kepala Brayen hanya bisa geleng-geleng melihat dua gadis kembar bertengkar.
"Sebaiknya aku pergi." Mobil Brayen melaju pergi.
Mora dan Mira yang saling jambak langsung melepaskan mengejar mobil yang sangat cepat.
"Capek, ambil sepeda listrik saja." Mora balik lagi.
Mira yang memiliki kaki panjang, mampu berlari cepat langsung bergantung di mobil Brayen.
Di depan gerbang hotel para remaja berkumpul menghalangi Gemal, Genta untuk masuk.
Beberapa polisi terpaksa melepaskan tembakan, menahan para remaja agar bisa masuk ke dalam hotel.
"Minggir!" teman-teman Mimor langsung bubar.
"Itu Mira atau Mora?" Genta menatap Gemal yang tergagap.
"Kamu yang membuatnya, mana aku tahu," balas Gemal juga binggung tidak bisa membedakan mana Mira dan Mora.
"Awas!" Mora mempercepat laju sepeda listrik Mira.
Genta langsung berlari ke arah mobilnya mengejar kedua putrinya yang mulai berada di jalanan.
Mira berhasil naik ke atas atas mobil, memukul kaca agar Brayen berhenti. Mora memanggil melemparkan suntikan yang Brayen bawa.
"Hentikan mobil Mora," pinta Mira yang memberikan instruksi.
"Tidak bisa, di depan cukup padat. Buat mobil belok ke kanan." Mora tidak bisa mengerem lagi langsung lurus, sedangkan mobil belok kiri.
Suara Mira mengumpat terdengar, Mora memang bodoh karena selalu lupa rem yang pasti akan merusak sepedanya.
Mobil ditembak dari belakang sampai ban pecah, terpaksa mobil terhenti. Mira tersenyum manis melihat Papanya yang melepaskan tembakan.
Brayen yang gemetaran langsung keluar ingin berlari, tapi saat keluar Mira menyuntikkan apa yang ingin Brayen suntikan kepada Isel.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tidak menyerang di dalam kandang, apalagi tanpa tahu apa yang ada di dalamnya." Mira menendang kuat Brayen sampai tersungkur.
"Ye, kita berhasil." Mora berlari kencang, tidak menyadari kepalanya mengeluarkan darah.
Mira terjun dari mobil melihat ada banyak mobil polisi, Mimor berpelukan karena bertarung memang sangat menyenangkan.
"Mor, kenapa kepala kamu bocor?" Mira menyentuh darah.
"Bukan darah aku mungkin?" Mora memegang kepalanya harus segera pulang sebelum kehabisan darah.
Wajah panik Genta terlihat, menatap Mora dan Mira yang sama-sama penuh luka. Apalagi Mora yang panik kepalanya pecah.
"Kenapa sayang, di mana yang terluka?" Genta menatap wajah Mora.
"Kepala Mora pecah, Papi tolong." Mora minta pulang karena harus bertemu Papinya.
"Belum pecah Mora, kepala kamu masih utuh. Masih jauh dari pecah," ucap Gemal sambil tertawa karena merasa lucu ulah si kembar.
Kecemasan Mora berkurang, meminta Mira memegang kepalanya sebelum darahnya kering.
"Kamu merusak sepeda Ajun, sepeda listrik kamu, dan sekarang mana sepeda listrik aku?" tanya Mira yang selalu dibuat emosi karena Mora selalu merusak barang.
Polisi menahan Brayen yang tidak sadarkan diri, dia dibawa ke kantor untuk memberikan keterangan atas kasus kematian keluarga Laura, apalagi Laura sudah satu bulan menghilang.
Genta memilih pulang untuk mengantar Mimor yang terluka, keduanya harus diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan.
"Kita pulang sekarang, Papi juga sudah pulang ke rumah." Genta menatap si kembar beda rahim.
"Mimor, kenapa kalian berdua semakin mirip? pinang dibelah dua saja ada besar dan kecil, atau kurus dan gendut, tapi kenapa kalian tidak ada bedanya?" tanya Gemal yang menatap mata keduanya.
"Mora bermata biru, Mira bermata kuning. Mora berambut pirang kemerahan, Mira pirang kekuningan, Mira lebih tinggi daripada Mora," jelas Mora sedikit karena perbedaan keduanya sangat jauh.
"Mora perusak barang, Mira yang memperbaikinya, Mora pelupa, dan Mira yang selalu mengingatkan. Mora ... kenapa ada manusia pengacau seperti Mora," ujar Mira kesal.
"Komputer di ruangan Mami bukan aku yang merusaknya, tapi kamu. Kekuatan tenaga kamu yang berlebihan sehingga membuat masalah." Mora juga nampak kesal.
Senyuman Gemal terlihat, Mimor masih sama seperti Shin Tika yang selalu bertengkar. Tidak ada bedanya, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.
"Gen, aku rasa anak kamu dan Juna tertukar. Kecerobohan Tika jatuh kepada Mora, tapi ahli komputer, sedangkan kecerdasan Shin jatuh kepada Mira yang ahli bela diri dan pintar dalam medis." Gemal merasa keduanya dalam keadaan sehat karena masih bisa bertengkar.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1