SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
INGIN PUNYA BABY


__ADS_3

Acara mulai sepi, Angga langsung bergegas ingin pergi ditemani oleh bodyguard dan managernya untuk segera ke rumah sakit.


"Blackat," panggil seorang wanita cantik yang pernah main film bersama Blackat pertama kalinya.


"Kamu Wenda, terlambat sekali datangnya?" Angga tidak enak meninggalkan, namun dirinya harus ke rumah sakit karena adiknya sedang lahiran.


Wenda berjabatan tangan dengan Angga yang juga langsung menyambutnya,ada beberapa wartawan yang suka menyebarkan gosip para selebriti sengaja menaikan nama Blackat dan Wenda yang menjadi pasangan pertama dalam film besar.


"Kamu terlihat terburu-buru sekali?"


"Lumayan, tapi aku tidak enak juga meninggalkan kamu. Kenapa kamu terlambat?"


Senyuman Wenda terlihat mengizinkan Angga pergi karena dirinya juga tidak ingin menganggu pengantin baru.


Berita saat Angga berpacaran dengan lawan mainnya, tidak sedikitpun Wenda percaya karena tahu siapa Angga sebenarnya yang tidak mudah tergoda.


Secara besar-besaran gosip terus berkembang sampai muncul beberapa foto, Wenda masih belum percaya berpikir jika hanay menaikan nama Aira.


"Kenapa kamu memutuskan menikah lebih cepat, bukannya aku pernah meminta kamu menunggu?"


"Wen, aku tidak pernah mengatakan iya, sekarang aku sudah menikah dan Aira tempat aku berlabuh. Aku harap hubungan kita tetap baik dan tidak mengarah ke hal lain." Kepala Angga tertunduk, pamitan untuk pergi karena istrinya sedang menunggu,


"Bisa kita mengobrol berdua, aku ingin berbicara sesuatu?" kepala Wenda juga tertunduk dalam tidak bisa terangkat lagi karena hatinya perih mendengar langsung Angga mengatakan jika Aira pelabuhannya.


Helaan napas Angga terdengar, meminta maaf karena dirinya tidak bisa bicara hanya berdua, meskipun Angga seorang selebriti, tapi dia harus menjaga nama baiknya juga istrinya.


Angga tidak sebebas dulu, dia bukan berpacaran namun sudah menikah. Ada keluarga besar yang harus dirinya jaga kehormatannya.


Satu kali berita buruk tersebar, maka keluarganya pasti akan tahu Angga tidak seperti dulu lagi yang bebas, dia sekarang memiliki dua keluarga.


"Aku pergi Wen," pamit Angga dengan sangat sopan, tidak memberikan ruang bagi wanita lain meskipun dahulunya Wenda sangat baik kepadanya di pertama karir.


Mobil Angga melaju meninggalkan hotel, tukar mobil saat di pertengahan jalan karena di ingin sendirian.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit sudah heboh, ada dua bayi laki-laki yang lahir sehat juga sempurna.


"Assalamualaikum," salam Angga kepada keluarga yang sudah ada di ruangan pribadi masih menunggu Lea.


"Sayang, bagaimana dengan pestanya?"


"Sudah selesai, bagaimana kondisi Lea?" tanya Angga dengan perasaan cemas.


"Lea baik Kak, kenapa menjadi yang terakhir datang, padahal banyak keluarga yang sudah pulang?" Lea tersenyum duduk di kursi roda, Juan menggendong istrinya meletakkan di atas ranjang.


Senyuman Angga nampak, kagum melihat dua bayi mungil yang ada di dalam boks. Tangan Angga ingin sekali menyentuh wajah si kecil.


"Selamat Juan, selamat ulang tahun, juga selamat menjadi Ayah dari dua bayi menggemaskan ini." Angga memeluk Jun yang juga sangat bahagia. Hadiah paling besar juga istimewa yang dirinya terima selama puluhan tahun hidup.


"Juan doakan kian juga akan segera diberikan kepercayaan untuk memiliki momongan." Juan memeluk Aira mengucapkan selamat ulang tahun kepada Adiknya juga selamat atas pernikahannya.


Angga dan Aira mengamini, berharap akan segera menyusul memiliki bayi lucu, pasti sangat membahagiakan.


"Lea selamat menjadi Bunda, kamu sungguh luar biasa," ujar Angga mengusap kepala Lea, matanya sampai merah merasa terharu.


"Mami dan Papi pasti bahagia karena Lea sudah menjadi orang tua, Lea ingin bangga mengatakannya jika sekarang aku bahagia." Air mata Lea menetes, memeluk Angga yang berusaha untuk tegar dan kuat.


Hanya anggukan yang Angga berikan, mereka tidak harus mengingat masa lalu, paling penting mereka bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi.


"Sudah jangan sedih, kita harus bahagia menyambut keluarga Rahendra yang baru." Al menatap bayi mungil teringat saat Juan lahir.


Dulu anaknya yang ada di dalam tabung, tanpa terasa waktu berlalu, anak Juan juga berada di dalam tabung.


Selamat datang para lelaki hebat, jadi anak yang luar biasa dan taat selalu, kakek tidak pernah tahu sampai kapan hidup, tapi yang pasti bahagia bisa melihat kalian lahir." Altha meminta kedua cucunya tidur nyenyak.


Aliya memeluk suaminya, tidak menyangka mereka sudah memiliki delapan cucu. Tiga dari Arjuna, tiga dari Atika, dan dua dari Arjuanda, hanya menunggu Adriana.


"Tidak menyangka ada delapan cucu, jadi ingat Mami udah tua jangan terlalu sibuk bekerja, diam di rumah saja." Ai meminta Maminya hanya menghabiskan waktu bersama Papinya bukan marah-marah di kantor.

__ADS_1


"Mami belum tua, selama cucu pertama belum mengambil alih dan tumbuh dewasa, maka Mami belum tua." Al mengeratkan pelukannya kepada suaminya meminta pembelaan.


Alt meminta Aira dan Juan memeluknya, Altha merindukan bayi kembarnya yang sudah tumbuh dewasa.


"Selamat ulang tahun ya sayang, saat kalian berdua lahir ada pertumpahan darah, sehingga dipaksa lahir. Hari itu Papi berasa tidak bernyawa karena bukan hanya Mami yang terluka, namun ada Anggun dan Kak Juna juga. Terima kasih karena kalian tumbuh besar bersama Papi." Alt memeluk erat kedua anak kembarnya yang berbeda karakter.


Air mata Aira dan Juan juga menetes merasakan haru, perasaan bahagia tidak terbendung lagi.


"Kenapa jadinya sedih?" Aliya memeluk erat ketiga hartanya.


Suara bayi menangis terdengar, Aliya langsung melepaskan pelukan langsung mengambil bayi yang menangis sangat kuat.


"Mi, boleh Angga mencobanya, apa aku harus ganti baju dulu?"


"Langsung saja Angga, jangan saja kamu tempelkan wajahnya di baju kamu." Mami meletakkan ditangan Angga yang langsung bisa menggendong bayi.


Senyuman Angga nampak lebar merasa sangat senang bisa melihat bayi dengan jarak yang begitu dekat.


"Tampan sekali wajahnya, mirip Uncle." Tawa Angga terdengar membuat Juna langsung sinis.


"Benar, dia mirip Ayang," ucap Aira yang menyentuh kening bayi.


"Tidak terkejut, Bundanya sibuk mengurus Blackat, dan terlalu mengagumi kakaknya sehingga wajahnya mirip." Juan menganggukkan kepalanya menatap istrinya yang tertawa lucu.


"Mereka mirip kamu sayang, Ayah idola Bunda," balas Lea sambil tertawa pelan.


"Bahaya juga jika banyak bayi mirip aku, saat nanti anakku lahir mirip orang lain karena tidak ingin banyak kesamaan." Pelukan Angga sangat lembut gemes melihat bayi lucu.


Mata Angga dan Aira bertemu, langsung tersenyum manis. Angga mengecup kening istrinya yang juag ingin punya bayi.


"Nnati jangan mirip Isel yang kelewatan nakal, apalagi mirip Aunty Tika, kalian mirip Aunty Aira saja." Ai mengecup pipi bayi yang sangat mengemaskan ingin rasanya Aira remas.


Aliya menggelengkan kepalanya, berharap tidak mirip Ajun yang mulai nakal hanya takut kepada dua kakak perempuannya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2