
Usia kandungan Isel sudah masuk tujuh bulan, perutnya semakin besar karena mengandung bayi kembar.
"Sudah siap periksa Bu?" tanya seorang pemuda yang menjadi dokter mesum.
"Tumben sekali kamu mampir ke sini?" Isel menatap Devan yang melangkah duduk di depan Isel.
"Kamu sudah dapat kabar jika aku akan segera menikah, Papa tidak tahan lagi melihat aku melajang." Kepala Devan bersandar di sofa menatap langit rumah.
"Kenapa kamu menikahi seseorang yang tidak ada di hati kamu?" Isel sangat yakin jika Devan masih belum move on dari Vio.
Senyuman Devan terlihat, dirinya tidak butuh cinta. Hidup berumah tangga yang dicari hanya kenikmatan, maka cinta urusan belakang.
"Lelaki bisa tidur dengan ratusan wanita tanpa perasaan, jadi tidak ada yang istimewa untuk itu." Kartu undangan diserahkan kepada Isel atas keinginan Maminya, sebelum undangan disebar pihak keluarga harus tahu terlebih dahulu.
Isel hanya menimpali dengan tawa karena dari sekian banyak wanita, tetap ada satu yang di hati.
"Annyeong, apa yang kalian berdua obrolkan? Aira datang ingin pamer, tebak ada brapa bayi dalam perutku?" tanya Aira berputar pamer tas baru.
Mata Isel dan Devan memincingkan matanya melihat perut besar Aira yang sudah hamil enam bulanan.
"Kembar, cowok cewek," tebak Devan.
"Salah," balas Aira yang langsung duduk mengambil undangan.
"Kembar cowok-cowok," tebak Isel yang membuat Aira tersenyum lebar.
Undangan dibuka, mata Ai melotot melihat nama calon pengantin. Devan akan menikah dengan sesama dokter.
"Kamu akan menikah, kenapa pilihannya harus wanita ini?" Ai melemparkan undangan pasti Devan mengikuti perjodohan.
"Ada apa dengannya?"
"Dia terlalu baik untuk bajingan seperti kamu," tegur Aira karean Devan lambat menikah karena suka bergonta-ganti pasangan.
Suara langkah kaki Dean terdengar memukul kepala Devan pelan karena jarang datang ke rumah.
Melihat Devan yang nampak sangat angat ragu dengan keputusan orang tuanya. Isel hanya diam mendengarkan ucapan Devan soal pernikahannya. Meminta bantuan Dean menjaga keamanan.
__ADS_1
"Kenapa kamu terlihat tidak bahagia?" Dean menatap sepupunya yang menarik napas berkali-kali.
"Bagaimana aku bisa bahagia saat kebebasanku akan segera direnggut." Devan pamit pulang karean ingin istirahat.
Isel berdiri memutuskan ikut dengan Devan, Isel sudah lama tidak main ke rumah mereka setelah pindah.
"Kita hari ini k rumah sakit sayang," ujar Dean yang tidak mengizinkan.
"Besok saja, Isel ingin pergi."
Aira juga berdiri ingin pergi, dia juga sudah lama tidak datang. Sekaligus Ai ingin periksa kandungan kepada dokter terbaik saat dirinya lahir.
"Aku tidak mau membawa dua bumil, sedikit saja kalian lecet pasti aku disalahkan." Kepala Devan menggeleng.
Suara tawa Ura terdengar mengendong dua kucingnya yang berukuran besar, satu digendong menggunakan tas dipunggung dan satunya digendong menggunakan gendongan bayi di depan.
"Ura juga mau ikut, sudah lama cekali tidak jalan." Ura berdiri di depan Devan yang sudah pusing melihat anak kecil yang membawa dua bayi besarnya.
"Anak siapa ini, kenapa harimau digendong begitu?" alasan Devan tidak sanggup tinggal di perumahan keluarga Rahendra karena banyak anak-anak nakal.
"Ini cemong, di belakang Ura Cemot. Ini kucing amanya, anak-anak Ura." Tawa Aura terdengar ditertawakan oleh Dean yang merasa sangat gemes melihat putri kecilnya yang mulai lancar bicara.
Tidak ingin membayangkan lebih pilih menginap, Devan juga ingin menyapa Dimas dan Anggun.
Dean mengeluarkan kucing dari dalam tas karena Ura ingin duduk, mengambil kucing yang tidur di dalam gendongan.
"Banyak sekali kucingnya Ura, jangan keseringan main kucing nanti bulunya masuk mulut kamu," tegur Dean membersihkan baju yaang ada bekas bulu.
"Ura ...." mulut Aura ditutup dilarang bicara karena bajunya banyak bulu.
Sikap Dean diperhatikan oleh Devan, pria yang dulunya dingin sekarang berubah perhatian. Bicara sangat lembut dan sanggup mengatasi sikap nakal si kecil yang jadi induknya kucing.
"Sel, kamu tidak cemburu melihat Aira dan Dean, dulu Dean mencintai Aira, siapa menyangka Uncle Dimas punya anak lain," tuduh Devan ingin tahu reaksi Isel melihat Dean dan Aira mengurus Ura.
Senyuman Isel terlihat, dia tahu suaminya sangat mencintai dirinya. Hubungan lama hanyalah masa lalu, paling penting masa depan.
Dean bukan anak kecil, dia tahu terbaik untuk rumah tangganya karena tahu juga akibatnya jika mulai lalai.
__ADS_1
"Dean bukan kamu Van, dia lelaki yang sangat profesional dalam bertindak. Bisa menjaga dirinya juga perasaannya. Lalu bagaimana kamu yang suka keluar masuk lubang, tanpa memperdulikan ajaran agam kita?" sindir Aira dengan nada dingin.
"Apa aku seburuk itu, apa yang terjadi di luar kendali, tapi aku tahu resikonya."
"Lalu kenapa kamu tidak bertanggung jawab kepada Vio?"
Wajah Devan nampak terkejut karena Isel mengenal Vio, setahu Devan hanya Dean yang tahu soal Vio.
"Bagaimana kamu tahu soal Vio, apa Dean cerita?"
Kepala Isel menggeleng, Dean tidak pernah membicarakan soal orang lain, dan Isel juga baru tahu hubungan keduanya.
Isel bersahabat dengan Vio sudah lama, dan baru tahu jika Devan cinta pertamanya dan pria yang mengajari hubungan di luar pernikahan, tapi buruknya Devan meninggalkannya.
"Bukan salah aku, dia bahkan berusaha mendekati Dean sebelum kalian menikah. Asal kamu tahu Sel, Vio bahkan mendekati Ghion agar bisa masuk dalam keluarga kita demi membuat aku panas," jelas Devan dengan nada tinggi.
Tatapan Dean dan Aira tajam ke arah Devan karena bicara dengan nada tinggi kepada Isel pembicaraan keduanya juga nampak serius.
"Kamu yang merendahkan dia, pernah tidak kamu memperkenalkan dia ke Mama dan Papa Dika, bahkan saat tahu dia hanya wanita biasa dan tidak berkelas sikap kamu berubah. " Isel melempar Devan menggunakan ponselnya membuat kepala Devan sakit.
Dean langsung mendekati meminta keduanya berhenti bertengkar, tidak ingin tahu siapa yang dibicarakan.
Tatapan Devan tajam, mengusap air matanya yang menetes, perasaannya mendadak sesak karena bicara dengan Isel.
"Lebih baik kamu masuk kamar Van, istirahat dulu di kamar. Kita ke rumah sakit sekarang Sel, berhenti bertengkar."
Suara teriakkan Ura terdengar ingin ikut dengan Dean ke rumah sakit, melihat Adiknya yang lain karena Ura sudah tahu jika bayi yang ada di perut Miminya berjenis kelamin lelaki.
"Ayo kita pergi, let's go." Ura berlari lebih dulu keluar rumah.
"Di mana Vio sekarang?"
"Jangan tanya, urus saja pernikahan kamu," bentak Isel dengan nada tinggi langsung berjalan ke kamarnya mengambil tas.
Kepala Dean geleng-geleng, meminta Devan mengalah kepada perempuan, tidak akan ada habisnya jika terus diladeni.
Ada kalanya lelaki tegas, tapi bukan melawan beradu kuat pastinya beda jauh. Devan masih belum bisa kontrol diri.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira