
Mata Angga tidak berkedip melihat Aira tertawa membawa barang emas milik Isel dibantu oleh Andra dan Andri yang juga membawa satu-satu.
"Dari mana emasnya sayang?"
"Ini punya Aira, kita juga koleksi emas," ujar Ai menyusun emas di dalam brangkas.
"Pi, Andri udah atakan ama Mimi jika menculi tidak baik, tapi Mimi etap ambil unya Aunty Icel." Andri menceritakan dengan bahasanya jika mereka mencuri milik Isel yang ada di kamarnya.
Kepala Angga menggeleng melihat tingkah laku istrinya yang secara tiba-tiba ingin mengikuti jejak Isel yang koleksi emas batangan.
"Ai, tidak boleh mengajari anak-anak begitu, berikan contoh yang baik," ujar Angga meminta Andri dan Andra mengembalikan kembali apa yang sudah diambilnya.
"Kenapa Ayang, punya Isel punya Aira juga, kita bersaudara harus saling berbagi." Tawa Aira terdengar memeluk suaminya yang hanya bisa tarik napas buang napas karena ulah istrinya.
Tawa Andra sudah terdengar di kolam ikan, melemparkan emas batangan miliknya, berusaha menangkap ikan yang berukuran besar.
Suara Angga memanggil Andra terdengar memintanya pulang karena Bundanya ingin pergi bersama Ayahnya.
"Dra, kamu di mana?" Angga hanya bisa terpaku dalam diam melihat si kecil yang berdiri memeluk ikan emas berukuran besar.
Emas yang dibawanya sudah berganti menjadi ikan berukuran besar, dipeluk dengan sangat erat.
"Baju kamu kotor Dra," tegur Angga meminta kan yang dipeluk erat.
Kepala Angga menggeleng, berlari melewati Angga membawa ikannya. Aira yang melihat hanya bisa terpingkal-pingkal tertawa karena Andra sangat menyukai ikan hidup.
Senyuman Aira dan Angga terlihat mengikuti dua anak kembar yang berjalan pulang, satunya berjalan sangat sopan dan gagah, tapi satunya terlihat pecicilan, jangan berputar-putar sambil memeluk ikannya.
"Kamu lebih menyukai karakter yang mana Ayang?"
"Keduanya, suka kedewasaan Andri, suka juga dengan sikap cuek Andra, tapi sangat perhatian secara diam-diam." Senyuman Angga nampak, sambil merangkul pinggang istrinya.
Suara Andra terjatuh terdengar, Angga ingin membantunya namun Air menahan agar Andra terlatih untuk bangun sendiri.
Ikan yang Andra peluk lompat, menggelepar di tanah, kucing kesayangan Mora dan Mira berlari kencang langsung megambil ikan Andra.
"Angan, unya Andra ini, tolong Kakak Dri." Tangisan Andra terdengar memeluk ikannya yang sudah dikunyah kucing.
__ADS_1
Aira yang melihatnya terpingkal-pingkal tertawa merasa sangat lucu melihat Andra rebutan ikan bersama kucing.
"Miming idak oleh, ini unya Andra. Iming epaskan." Andri menarik tubuh kucing berukuran besar agar melepaskan ikan adiknya.
Tangisan Andra sudah teriak-teriak membuat Juan berlari kencang mendengar tangisan histeris anaknya.
Angga juga langsung mengambil Andra yang sudah mengamuk sampai berguling di tanah melihat ikannya dibawa kucing berlari.
Kepala Aira geleng-geleng, memegang perutnya karena sakit terlalu banyak tertawa, merasa puas melihat Andra menangis sekuat mungkin karena kehilangan ikannya.
"Ada apa?" Juan langsung mengambil putranya yang masih teriak-teriak kuat.
"Ikan dia diambil kucing, sampai rebutan." Kepala Angga tertunduk melihat Andra masih marah.
"Kenapa Andra menangis?" Lea menatap baju Andra yang kotor juga bau amis.
Telinga Andra ditarik karena masih saja bermain ikan, sudah lelah Lea mengatakan jika ikan hidup di air, tidak bisa bertahan di daratan, namun masih saja Andra tidak mendengarkan.
"Bunda sudah larang berman ikan, kamu tidak punya telinga?" suara Lea meninggi memarahi anaknya.
"Bunda." Pukulan kedua tangan Andra menghantam Bundanya tidak suka ditegur, tidak terima salah.
"Sudah, ambil ikan baru." Juan mengusap wajah putranya yang penuh air mata. Membersihkan tubuhnya yang penuh pasir.
Ai terduduk lemas, melihat mobil Isel sampai tepat di depan rumahnya. Aira langsung berlari ke rumah Diana untuk melihat Isel yang ingin membatalkan tempat kerjanya.
"Sel, kamu dari mana?"
"Apa aku, hampir aku membunuh orang gila. Perut lapar, bisa mati berdiri aku." Isel membawa makanan langsung mengunyahnya dengan lahap karena dari pagi tidak bisa makan karena mengurus pasien gila.
Aira hanya bisa tertawa, Isel mengoceh sambil makan. Aira hanya menonton saja apa yang dimakan oleh adiknya.
"Kenapa Kak Ai menatap begitu?"
"Sel, aku butuh saran. Kamu tahu sendiri sudah hampir dua tahun aku belum diberikan kepercayaan untuk memiliki anak." Ai menakup wajahnya meggunakan kedua tangannya.
Makan Isel langsung berhenti, memperhatikan wajah Aira. Tangan Isel mengenggam pergelangan tangan langsung melepaskan.
__ADS_1
Aira menceritakan keluh kesahnya, meskipun Aira tahu jika keluarga tidak mempermasalahkan soal kekurangannya. Perasaan Aira saja yang suka sedih jika melihat orang lain baru menikah sudah hamil.
Helaan napas Isel terdengar, meminta Aira tarik napas lalu menghembuskan perlahan. Berkali-kali Aira melakukannya sampai Isel memintanya berhenti.
"Hamil itu bukan kewajiban, kenapa Kak Ai sangat menginginkannya? apa Kak Ai berpikir hanya wanita satu-satunya yang sedang menanti? Ada ratusan bahkan ribuan wanita di dunia sedang menanti buah hati." Isel menggenggam tangan, ada waktunya harus melihat ke bawah agar tahu rasa bersyukur.
Senyuman Aira terlihat, mengikuti Isel untuk melakukan rileksasi agar bisa melepaskan pikiran buruk di hatinya.
Aira harus menenangkan hatinya agar tidak memiliki pikiran negatif, sangat dibutuhkan yang namanya lepas beban pikir.
"Sel, kamu bisa melakukannya?"
"Tentu, kamu lupa aku lulusan apa? lulus dokter orang gila." Isel menatap Aira yang memicingkan matanya.
Ai berbaring di atas tempat tidur, mengikuti instruksi Isel. Kening isel berkerut karena Aira menguap berkali-kali.
"Jangan tidur Kak," ucap Isel tidak sengaja menyentuh perut Aira.
Sekitar lima menit, Aira terlelap tidur. Isel belum melakukan apapun, namun pasiennya sudah tumbang.
Kedua tangan Isel mengacak-acak rambutnya, mengambil suntikan di peralatan medisnya. Mengambil darah Aira, dan memperhatikan suntikan.
Suara tangisan Aira terdengar, dia sedang bermimpi mengadu kepada suaminya jika menginginkan anak. Ai takut suaminya akan bosan jika dirinya tidak bisa memberikan keturunan.
Ketakutan terbesar Aira bukan hanya soal suaminya, namun komentar pedas dari banyaknya hater yang terus menggunjing dirinya dengan sangat kasar.
"Pertanyaan kapan hamil ternyata jauh lebih menyakitkan, daripada kapan menikah. Keterlaluan sekali jari-jemari yang menjatuhkan mental." Isel menyelimuti Aira, membiarkannya tidur dengan tenang.
Isel keluar menunju lab Mamanya untuk mengetes darah, ada hal yang Isel curiga, berharap bukan hal buruk.
"Isel, di mana Aira?"
"Lagi tidur di kamar Kak, sementara waktu kurangi pekerjaan Kak Angga, dan hentikan pekerjaan Kak Ai. Lingkungan membuat Aira jatuh dengan sangat buruk sehingga tidak memiliki jalan untuk bangkit." Isel menujuk kamarnya agar Angga menemui istrinya.
"Masih soal hamil?
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira