SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
CALON BARU


__ADS_3

Suara tangisannya haru terdengar, Isel hanya duduk santai menikmati es krim miliknya. Mora berjalan mendekati Isel menatap wanita cantik yang tersenyum manis bisa memakan es krim sesuka hatinya.


"Kenapa kamu melihat Aunty? kasihan sekali tidak boleh makan es krim." Tawa Isel terdengar mengejek Mora yang menatapnya sinis.


"Aunty, Mora punya berita yang akan mengejutkan Aunty, pasti Aunty jantungan." Satu tangan Mora menutup mulutnya.


Mora sudah lama menyimpan rahasia Isel, dia tahu siapa lelaki yang Isel inginkan. Jika sampai keluarga tahu pasti terkejut.


Mata Isel memincing, dia tidak menyangka jika Mora mengikuti jejak Shin bisa memahami pikiran orang hanya melewati tatapan mata.


Dia bahkan pintar menyimpan rahasia, selama dua tahu tidak bocor kepada siapapun termasuk Mira.


"Jangan katakan kepada siapapun sebelum Aunty yang mengumumkan," pinta Isel sambil menawarkan es krim.


"Mora tidak butuh es krim, tapi Mora hanya ingin memperingati Aunty jika ... Aunty kalah cepat," ucap Mora menakuti Isel yang hanya tersenyum kecil.


Suara seseorang terdengar, Isel dan Mora melihat ke arah yang sama, Jaksa muda dalam keluarga muncul setelah memenangkan sidang pertamanya.


Dean memberikan selamat kepada Kakaknya dan juga Aira sengaja membelikan hadiah untuk bumil.


Mata Mora memincing, meminta Isel mempersiapkan hati jika secara tiba-tiba kehadiran anggota keluarga baru.


"Cowok atau cewek, sudah terlihat belum?" Dean duduk bersandar di punggung kakaknya.


"Tidak tahu, kita tidak berpikir ke sana lagi, bisa mendapatkan kabar baby dalam keadaan sehat sudah cukup." Angga tidak memiliki katagori cowok atau cewek bagi Angga sama saja.


"Dia tenang sekali di dalam sana, lagi ngumpulin nyawa untuk segera launching dan membuat rusuh. Selama di perut saja tenang, pas keluar mirip anak satu itu." Tika geleng-geleng melihat kenakalan anaknya, sangat beda dengan anak Shin yang nampak tenang.


Bibir Ai monyong, meminta jangan ada yang menakutinya. Aira bisa gila jika dapatnya model dirinya.


Suara Dean menghela napas terdengar, menatap Juna yang masih menasihati putra bungsunya yang melakukan salah.


"Kenapa kamu menatap Kak Juna?" mata Shin memincing tajam.


"Hubungan Kak Shin dan Kak Ana baik-baik saja?" Dean bicara sangat pelan tidak ingin ada yang mendengar.

__ADS_1


"Kamu menyukai anaknya Yandi yang menjadi polisi itu, Kak Diana setuju. Dia cantik, berwibawa, dan ahli bela diri. Kak Diana siap melamarnya." Senyuman Diana terlihat langsung lompat-lompat karena Dean sudah memilih wanita yang tepat.


Dean langsung berlari menutup mulut Kakaknya yang bicara sembarangan, Dean tidak setuju jika keluarganya maju lebih dulu.


Mommy tersenyum menatap Putranya yang sudah berguling di sofa, semua orang setuju jika menjalin hubungan dengan keluarga Yandi, sudah menjadi harapan lama Dimas dan Altha untuk terikat.


"Jangan asal jodoh, nanti kejadian lama terulang lagi. Jika dia memang sehebat itu, bertemu dengan Isel di area pertandingan." Tatapan Isel sinis langsung pulang kerumahnya.


Senyuman Angga terlihat menatap Isel yang memang sedang mencari target untuk bertarung.


Sesaat semuanya langsung diam, jika Isel tidak setuju maka lebih baik diam daripada Isel datang ke rumah keluarga Yandi lalu menantang Putrinya bisa jadi petaka.


"Sudah jangan jodohkan, Isel tidak terima. Jika memang sudah jodoh pasti bertemu lagi tanpa ada yang ikut campur." Juna juga masih tidak enak dengan keluarga Hana meskipun saat ini Hana sudah menikah.


"Kenapa aku harus menunggu izin Isel, maka semua wanita akan dia banting." Kening Dean berkerut saat menyadari perjanjiannya dengan Isel beberapa tahun lalu.


Lirikan mata Aira tajam memperhatikan Dean yang secara tiba-tiba diam dan berlalu pergi ke belakang rumah.


Aira langsung mengikuti Dean, menatap punggung adik lelakinya yang beda beberapa jam.


Langkah Dean mendekati Aira, duduk di pinggir kolam berenang sambil bermain air. Kepala Dean pusing karena Daddy sudah memintanya untuk berumah tangga.


Hati Dean belum tertarik dengan wanita manapun, dia masih nyaman dengan pekerjaan, tapi di sisi lain dirinya sadar jika keinginan Daddy-nya tidak salah, Dean sudah cukup umur untuk memulai rumah tangga.


"Kita masih muda Dean, jangan terburu-buru hanya karena diminta. Daddy tidak salah takut kamu gila kerja seperti dirinya, tapi kamu juga harus utamakan bahagia sendiri." Juan memberikan susu untuk Aira yang sedang hamil. Juan terbiasa membuatkan susu saat istrinya hamil, hingga anaknya sudah berhenti ASI masih Juan lakukan.


Helaan napas Dean terdengar, Juan bisa bicara karena dia sudah menikah. Jika saja Lea ingat semuanya pasti mereka akan terlambat menikah.


"Kamu sudah siap menjadi Ayah belum?"


"Gila pertanyaan kak Juan, pastinya belum. Ingin melihat daftar kasus Dean tidak?" tawa Dean terdengar menunjukkan begitu banyaknya kasus yang harus dirinya kerjakan.


Dean tidak punya waktu untuk berpacaran apalagi untuk berkencan, belum lagi harus bertengkar hanya karena hal kecil.


Aira dan Juan saling pandang, ucapan Dean benar. Pertengkaran dalam pasangan sangat membuang waktu, apalagi haru debat hal sepele.

__ADS_1


Juan bersyukur istrinya tidak suka debat, jika marah juga tidak teriak-teriak sehingga telinganya aman.


"Ayah, lihatlah. Dra unya ikan balu," ucap Andra yaang menggendong akuarium kecil berisikan tiga ikan hias.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Dra eli di epan ama Enti Sel," jawab Andra sambil tersenyum.


"Apa yang dia katakan Kak Juan, aku tidak mengerti?" Dean geleng-geleng melihat Andra yang sangat bahagia ada ikan baru.


"Dibelikan Aunty Isel," balas Juan membiarkan anaknya tersenyum sendiri main ikan.


"Di mana Aunty Isel, Dra?" tanya Dean mendekati si kecil.


Tangan Andra menujuk ke arah lain, tidak ingin mengeluarkan suaranya karena Dean tidak akan mengerti apa yang dirinya katakan.


Suara Ajun berlari bersama Andri terdengar tanpa sengaja menyenggol Andra yang menggendong akuarium kecilnya untuk dibawa pulang.


"Mampus kamu Ajun." Aira tertawa sangat besar melihat akuarium jatuh ke kolam sedangkan tubuh Andra ditangkap oleh Dean.


Wajah Andra datar, melihat sekeliling kolam mencari batu untuk melempar kepala Ajun yang membuat ikannya hilang.


"Andra, Dra. Tidak boleh menyerang, kakak tidak sengaja melakukannya." Juan menggendong anaknya yang langsung mengamuk.


"Sini sama Uncle, kita beli baru lagi. Andra bisa pilih banyak-banyak." Dean ingin menggendong Andra, tapi tidak mengubah emosinya.


Andra berlari masuk ke dalam rumah, mengamuk kepada Bundanya sambil menangis teriak-teriak menuduh Ajun membunuh ikannya.


"Kenapa sayang? Sini bersama Kakek." Altha memeluk Andra yang menangis menceritakan ikannya meninggal jatuh ke kolam.


"Ikan hidupnya di air Andra bukan darat, kamu yang selalu membuat mereka meninggal." Aliya terheran-heran melihat Andra yang salah menilai.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2