SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PULANG


__ADS_3

Banyak wartawan yang berdatangan karena cuplikan video yang bermunculan, Aira jatuh pingsan langsung dibawa oleh Altha sebelum banyak wartawan yang menyorot Putrinya.


Tim yang dikerahkan sangat banyak untuk menemukan beberapa orang yang terjatuh, kehebohan publik juga sangat kacau sehingga banyak polisi yang berkeliling jembatan menjaga lokasi.


Jalanan ditutup, tidak ada yang diizinkan lewat demi penyelidikan karena Blackat aktris terkenal.


Terlibatnya Black, membuat kasus bunuh diri tersebar dalam luar negeri dalam hitungan jam.


"Kenapa semuanya menjadi kacau? kematian Imel membawa luka besar." Kepala Dean langsung tertunduk meremas kuat jembatan.


Dari kejauhan Dean melihat Isel berlari menyusuri sungai, Dean langsung bergegas turun meminta bodyguard keluarga menahan Isel.


Isel ingin lompat ke dalam air untuk menemukan Blackat, sedangkan air sungai meluap.


"Ghiselin!" tangan Dean mencengangkan pergelangan tangannya.


"Uncle, kita harus menemukan Kakak Black. Dia tidak boleh berlama-lama di dalam air, nanti kedinginan Uncle." Tangisan Isel terdengar, tarik-menarik bersama Dean yang memaksanya untuk naik.


"Tim saja mundur karena arus air tinggi, dan keruh. Bagaimana kamu bisa menyelam untuk menemukannya?" kedua tangan Dean mencengkram pundak Isel untuk naik bersamanya.


Air mata Isel menetes, duduk di atas jembatan menyaksikan derasnya air sungai. Pencarian terpaksa dihentikan karena hujan turun lebat.


Kedua tangan Dean mengusap wajahnya yang basah karena hujan, menatap Isel yang terus memperhatikan pergerakan air.


"Kita pulang sekarang Sel, ada tim khusus yang akan berjaga juga menyusuri sungai." Dean menggendong Isel untuk pulang ke rumah.


Di dalam mobil Isel hanya menatap sebuah kalung liontin yang diberikan oleh Black, hadiah kecil yang baru saja Isel terima.


"Sudah jangan menangis, kita pasti akan menemukan Kak Black." Dean memeluk Isel lembut, tidak mengizinkan banyak pikiran.


"Kak Black lebih baik tidak ditemukan jika hanya jasad yang kembali. Isel lebih rela jika Kakak Angga bersama Kak Aira bersatu daripada kehilangan dia untuk selamanya." Tangisan Isel terdengar sangat kuat tidak kuasa menahan kesedihannya.


Sesampainya di rumah Isel langsung berjalan ke dalam. Melihat kedua kakaknya yang sedang melihat televisi yang menyiarkan kasus bunuh diri Imel.


Dia bukan hanya menyerang Aira, tapi membawa Blackat dalam kematian. Kisah cinta Aira dan Blackat disiarkan kembali.

__ADS_1


Takdir memisahkan keduanya dengan kematian, bahkan sebelum Blackat ditemukan. Pemberitahuan sangat banyak dan tidak ada satupun yang membuat hati membaik.


"Isel, kamu kenapa main hujan?"


"Kak, tolong temukan Kak Blackat." Isel berjalan ke arah kamarnya.


"Tim SAR saja tidak bisa apalagi kita, ini lawannya alam bukan dunia online." Kepala Gion geleng-geleng melihat adiknya yang berduka atas kasus Blackat.


Setelah berganti baju, Dean berjalan ke rumah Aira. Melihat Ai yang duduk termenung melihat pemberitaan bersama Mami Al, dan Shin yang tidak kuasa menahan kesedihannya.


Mata Ai mengandung air mata, tapi tetesan matanya tidak keluar. Aira menahan kehancuran hatinya di dalam diam.


Altha meminta Dean masuk ke dalam ruangannya, menanyakan hubungan Blackat dan Aira settingan atau hubungan saling mencintai.


"Dean, Aira mengamuk habis-habisan, dia bisa mati tanpa Black. Jika hubungan sebatas pekerjaan tidak seharusnya Aira begitu hancur." Papi Altha menepuk pundak Dean untuk menjawab.


Kepala Dean hanya menggeleng, dia tidak tahu hubungan apa yang terjalin di antara Aira dan Blackat. Di dalam hati Dean ingin menangis dan teriak histeris, tapi dia tidak bisa melakukannya.


"Dean, apa kamu dan Aira baik-baik saja?"


"Iya Papi, kita baik-baik saja. Bisa kita fokus ke pencarian Kak Blackat. Dia harus ditemukan dalam keadaan hidup atau mati agar semua jelas dan bisa melepaskan." Tangan Dean meremas celananya berharap Black hidup dia tidak bisa menanggung amanah dari Black yang begitu berat baginya.


Laporan dari bawahan Altha terdengar, kabar satu korban ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.


"Ada satu korban ditemukan, kamu ingin ikut?"


"Iya Pi,"


Suara teriakan Aira histeris, Altha dan Dean langsung berlari saat disiarkan ada satu korban ditemukan tidak bernyawa.


"Aira tenang sayang, di luar hujan kamu tidak boleh pergi." Aliya dan Shin menahan Ai yang mengamuk ingin menemui Blackat.


"Sialan! kenapa masih ada media di lokasi?" Altha mengejar Aira yang ingin masuk mobil.


"Uncle, Isel kembali ke jembatan." Ian berlari ke rumah Altha saat tahu Adiknya berlari kencang setelah satu korban ditemukan.

__ADS_1


"Dean hubungan Gemal dan Diana untuk pulang, sedangkan kamu Ian pinta penjaga menahan Isel di gerbang." Altha memeluk Aira yang masih menangis histeris.


Di tengah hujan, Gion dan Isel teriak-teriak. Tangan Gion terangkat ingin memukul adiknya yang keras kepala.


Tangan Gion ditahan oleh Dean, langsung mengendong Isel dengan cara di pukul. Kedua tangan Isel memukul Dean yang basah kembali karena membawa Isel masuk.


"Aku bisa gila karena kalian. Sel, kenapa perasaan cinta begitu bodohnya? sekuat apapun kamu berjuang jika dia tidak menginginkan kamu bisa apa? Uncle tahu kamu menyayangi Kakak Angga, tapi kondisi sedang kacau jangan membuat semakin kacau." Bentakan Dean terdengar, kakinya menendang meja.


Tangisan Isel terdengar, berlari ke arah televisi. Mencari siaran soal korban yang ditemukan.


Dean langsung mematikan televisi, menarik tangan Isel untuk berganti baju. Shin yang melihat kekacauan memahami perasaan Isel dan Aira.


Dia juga ingin menangis histeris karena sangat kehilangan Black. Dia pemuda yang baik, sebelum pergi dia menyempatkan diri menemui Shin dan Mira Mora.


"Kenapa kamu pamitan dengan cara seperti ini? kami semua kehilangan, inilah alasan kamu meminta aku menjaga anak asuh kamu dengan mengolah keuangan karena tidak ada keluarga lain. Pulanglah Black, pulang dalam keadaan utuh. Di sini keluarga kamu menunggu." Tangisan Shin terdengar, memohon agar Black kembali dalam keadaan baik.


Suara tangisan Mira dan Mora terdengar, keduanya terbangun sambil memeluk boneka pemberian Blackat.


"Mami, Mira kangen Uncle Angga. Telepon Uncle Mami, katanya kalau kangen telepon, Uncle pasti datang." Mira memeluk Shin erat, meminjam ponsel Mamanya.


"Mami, Mora bermimpi Uncle pergi jauh. Mora juga kangen,"


Tangisan Shin semakin kuat, memeluk kedua Putrinya. Mereka tidak akan pernah bisa menghubungi Blackat.


"Ada apa ini?" Tika baru pulang dari rumah sakit dan mendengar kabar soal Black.


Mira dan Mora memeluk Mamanya, Tika membawa keduanya kembali ke kamar. Sementara waktu Black tidak bisa mereka ganggu.


"Shin, bagaimana keadaan Tika?"


"Kamu pasti tahu sakitnya kehilangan seseorang yang dicintai?" Kepala Shin menggeleng karena Aira dalam keadaan tidak baik.


Bukan hanya Aira, Isel yang selalu mengangumi Blackat juga sama hancurnya. Dia kehilangan seseorang yang dianggap spesial.


"Aku juga kehilangan Tik, dia pergi setelah pamit untuk berkerja. Kerja apa hingga membuat berita seheboh ini?"

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2