
Keberadaan Gloria sudah diketahui, pukulan Ghion melayang kepada wanita yang mencelakai adiknya.
Tika dan Shin yang menyaksikan hanya berdiri diam, marahnya pria periang tidak enak sama sekali.
"Ampuni aku ... sungguh aku terpaksa melakukan ini," ujar Glora memohon agar berhenti memukulinya.
"Aku tidak terima melihat adikku terluka, lebih baik kamu lenyap dari muka bumi ini." Ghion mengarahkan senjata, Tika langsung menendang senjata Ghion agar tidak bertindak gegabah.
"Keluar dari sini Ghion," pinta Shin sangat lembut.
Tanpa jawaban Ghion langsung keluar dari ruangan tempat persembunyian. Senyuman Tika dan Shin terlihat menatap si tampan.
Pintu terkunci, Ghion langsung kaget mendengar suara teriakan menggema. Ingin masuk lagi sudah terlambat, pintu terkunci.
"Apa yang terjadi di dalam sana?"
"Tolong!" teriakan dari dalam terdengar.
Jantung Ghion berdegup kencang, merasa cemas dengan apa yang terjadi di dalam ruangan apalagi suara teriakkan histeris terdengar.
Beberapa langkah Ghion mundur, dia belum pernah melihat kekejaman dua wanita yang dulunya terkenal ahli bela diri.
Pintu ruangan terbuka, senyuman Tika dan Shin terlihat menatap pemuda tampan yang panik melihat keduanya keluar.
"Apa yang terjadi di dalam?"
"Jangan kepo Ian," jawab Shin.
"Aku Ghion Aunty Shin."
Tawa Shin terdengar, Ghion memang sangat lucu. Dia sangat mirip Gemal, pemuda jahil dan sangat suka bercanda, berbanding kebalik dengan Ian yang pendiam dan sangat jarang bicara.
"Aku akan membawa wanita itu ke kantor polisi."
"Tidak perlu Ghion, nanti akan ada polisi yang datang. Kita bisa pergi sekarang tanpa meninggalkan jejak apapun." Tika merangkul pundak Ghion mendorongnya masuk mobil.
Suara ledakan terdengar, mulut Ghion menganga melihat bangunan meledak. Glora mengesot keluar demi menyelematkan nyawanya.
Mobil menghilang dari pandangan, Ghion langsung diam tertunduk merasa takut dengan kekejaman Shin dan Tika.
__ADS_1
"Apa wanita itu akan bebas?"
"Jangan harap, resiko berurusan dengan keluarga kita maka mereka harus siap menanggungnya." Shin menatap Tika yang mengacak-acak rambut Ghion.
"Kasus yang menimpa Bian pindah kepala Glori, jika polisi datang dia akan segera diselidiki. Maka tanpa ada hubungan dengan siapapun, kasus selesai. Kamu harus banyak belajar lagi Ghion." Tatapan tajam Tika terlihat membuat Ghion menjauhinya tidak ingin melihat mata kejam.
Sampai di rumah sakit, Mami Aliya juga sampai. Mendorong Tika dan Shin agar menyingkir dari depan jalan.
"Kalian berdua sudah membereskan pelaku?" Al berjalan di depan dua wanita yang hanya memberikan jempol.
"Siapa dalangnya?" Diana yang berada di belakang menarik pundak Shin dan Tika.
"Semuanya sudah beres Kak, sisanya biarkan Isel yang menyudahi," balas Shin tidak bisa mengungkap soal Vio.
"Baiklah, kalian berdua boleh pulang. Juna dan Genta hampir gila karena ulah keenam anak yang sangat aktif." Diana sudah menyiapkan tiket penerbangan.
Bibir Shin dan Tika manyun, baru satu kali kembali ke masa muda, sudah diminta pulang menjadi orang tua lagi. Belanja saja belum sempat, kebebasan terenggut karena banyak anak.
"Ais sialan, ayo kita pulang Shin. Aku juga harus menyelesaikan urusan bersama Mora, apa yang anak satu itu lakukan, tidak bisa aku awasi lagi." Tika berlari mengejar Shin yang masuk ke kamar rawat Isel.
Suasana di dalam kamar sedang hening, dokter sedang menjelaskan kondisi Isel yang mengalami perdarahan cukup parah sehingga ada masalah dengan rahimnya.
"Terima kasih dokter," ucap Diana yang membiarkan dokter keluar.
Kedua tangan Gemal memeluk Isel yang sudah menangis kembali, Dean juga sama sedihnya karena begitu lama mereka menanti sebagai teguran karena tidak menerima hadiah istimewa.
Aliya dan Diana saling pandang, Mommy Anggun memilih menjauh bersama Mam Jes yang baru tiba.
Daddy Dimas, Papa Altha, dan Papa Calvin hanya duduk di sofa tidak ada yang mengangkat kepala karena sedih mendengar tangisan Isel.
Air mata Ghion juga menetes, memeluk Shin yang berdiri di sampingnya. Tika juga mengusap air mata kasihan melihat Isel yang harus menunda begitu lama.
Satu tahun saja sudah lama, apalagi tiga sampai empat tahun. Pasti rasanya terpukul sekali.
Pintu ruangan terbuka, Tika menatap Ian yang baru muncul sambil membawa hasil pemeriksaan Isel.
"Kenapa menangis, apa dokter di dunia ini hanya satu? orang divonis mati saja jika belum waktunya tetap sembuh, apalagi soal anak yang menjadi rahasia Allah." Ian mendekat Isel menujukkan hasil pemeriksaan.
Mata Isel terbelalak besar, dia tidak mengerti apa yang tertulis di dalam kertas. Otak Isel tidak jalan sama sekali.
__ADS_1
"Kamu seorang dokter, baca itu apa?"
"Isel tidak mengerti Kak, ini apa?"
"Makanya diminta sekolah belajar yang benar, vonis begini saja tidak mengerti!" bentakan Ian terdengar, Dean dan Gemal memukul punggung Ian secara bersamaan karena membentak Isel begitu kuatnya.
"Kenapa kamu marah, jika kamu mengerti maka jelaskan sendiri." Tatapan Gemal tajam tidak suka Putrinya dibentak.
"Isel bukan dokter kandungan Ian, dia psikiater." Dean juga tidak suka dengan kemarahan Ian.
Tawa Isel terdengar, menjulurkan lidahnya ke arah Ian karena ada banyak lelaki yang akan membelanya. Bukan hanya papa dan suaminya, kakeknya juga terlihat marah kepada Ian.
Mata Ian dan Isel bertemu, sama-sama tajam. Teguran dari Ghion terdengar barulah Ian memutuskan tatapan.
"Isel tidak mengerti tulisan ini?"
Ian menjelaskan kondisi Isel setelah mengalami pendarahan, dokter kandungan hanya memberikan peringatan terburuknya. Setelah tiga bulan Isel harus periksa rahimnya lagi untuk melihat perkembangan rahim yang mengalami luka.
"Ingat Sel, tiga bulan lagi pemeriksaan. Aku bilang pemeriksaan, bukan hamil. Jika tiga bulan ke depan dokter kandungan menyatakan aman, maka silahkan hamil, tapi jika tidak ikuti proses pengobatan sampai satu tahun paling lama." Kepala Ian geleng-geleng karena tahu jika Isel tidak akan mendengar dirinya maka peringatan juga berlaku untuk Dean jika tiga bulan pemeriksaan bukan hamil lagi.
"Bagaimana jika hamil?"
"Dean!" semua orang teriak histeris.
"Kenapa marah, Dean hanya bertanya. Tahu sendiri sikap Isel, di minta apa melakukan apa."
"Jika hamil, kemungkinan besar keguguran atau kejadian Mama saat hamil kita terulang kembali." Penjelasan Ian sangat detail.
Diana setuju dengan Dean, meminta Isel dan Dean pulang. Mereka bisa bekerja dari rumah tidak harus berjauhan apalagi kondisi Isel yang membutuhkan banyak teman.
"Isel tidak ingin pisah sama Uncle, di sini banyak pelakorr." Isel menatap Shin dan Tika yang hanya diam.
"Aku juga pulang, kamu harus cepat sembuh agar kita bisa pulang ke rumah." Dean merangkul Isel yang mengangguk bahagia.
Suara pintu terbuka terdengar, seluruh mata melihat ke arah Bian yang datang di depan seluruh keluarga.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1