SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PERTUMBUHAN JANIN


__ADS_3

Berada di rumah sakit Dean sedikit tidak nyaman karena pusat perhatian terarah kepadanya membawa tiga wanita hamil.


"Pak Dean silahkan masuk bersama istrinya," pinta perawat.


Dean berdiri diikuti oleh tiga wanita yang berjalan lebih dulu ke dalam ruangan, perawat sampai kebingungan.


"Istrinya ada tiga Pak? semuanya hamil." pasien lain tutup mulut melirik Dean yang sangat berani.


"Oh tidak, istri saya satu." Dean ikut masuk.


Dokter sudah tertawa melihat Isel, Aira dan Lea datang bersamaan dan diwakili oleh Dean.


"Istrinya ada tiga?" tanya perawat.


"Satu ... satu istri, satu ipar satu istri sahabat, dan bocil yang tidur ini keponakan," jelas Dean masih dengan nada kesal.


"Oh, keponakan dari ipar?"


"Dokter perawat ini celewet cekali," timpal Ura yang terbangun dari tidurnya.


Senyuman dokter terlihat, meminta Isel lebih dulu diperiksa karena kandungannya yang lebih besar.


Dean mendekati ranjang, ingin melihat pertumbuhan baby yang sangat dinantikannya.


"Istri saya baik-baik saja Dok, apa ada yang harus di jaga selain kandungnya?" Dean sudah mulai belajar apa saja resiko hamil kembar.


Tubuh Isel dalam keadaan baik, tapi kondisi kandungnya yang beresiko. Dokter menatap Isel yang ternyata tahu kondisi janinnya dibalik layar.


"Mereka tidak tumbuh dengan baik?" Isel menatap Dokter yang mengangguk pelan.


"Mereka berarti lebih dari satu?" tanya Aira karena keluarga Isel memiliki keturunan kembar.


"Benar, berat bayi kurang. Kita pastikan lagi di bulan ke tujuh, kemungkinan bisa lebih jelas. Di sini sudah pasti jika bayi kembar." Dokter meminta Isel makan yang banyak, minum vitamin agar janinnya juga memiliki berat yang normal.


Pintu terbuka, Diana melangkah masuk karena tahu jadwal pemeriksaan kandungan Isel. Diana binggung melihat ramai karena tiga bumil pergi bersamaan.


"Kak Di, kandungan Isel tidak tumbuh dengan baik." Dean terlihat sangat sedih.


"Bukan masalah besar, masih terlihat pergerakan. Saat Mama mengandung Isel dinyatakan janin sudah meninggal, tapi kenyataannya sehat." Diana tidak ingin Isel dan Dean berfokus dengan pemeriksaan, cukup tahu saja dan berusaha mengubah pola selalu menjaga kesehatan, baik makanan maupun vitamin.

__ADS_1


Jika sudah waktunya lahir, maka sudah tahu apa yang terjadi, saat ini Isel harus menjaga prosesnya.


"Jangan berpikir negatif, masih banyak waktu untuk berusaha. Misi kamu baby sehat, kamu juga sehat, kita bantu doa." Diana mengecup kening putrinya yang nampak cemas.


Tangan Ura mengusap perut Isel, memastikan Adiknya dalam keadaan sehat. Ura tidak sabar lagi ingin bermain bersama.


"Memangnya Ura ingin bermain apa?" tanya Dean.


"Pukul-pukulan," jawab Ura tertawa.


Semua orang kaget, Ura hanya bisa dijaga dan oleh Mimor, jika tidak habis anak orang dia pukuli.


Dokter meresepkan obat dan vitamin, Isel harus rajin cek ke dokter apapun keluhannya. Dia masih memiliki banyak waktu melalui prosesnya.


"Aira giliran kamu." Diana menatap Ai yang sudah menjadi patung.


Isel yang diperiksa, dia yang panik ketakutan. Suara Aira menangis terdengar, memeluk Dean karena takut jika diperiksa.


Tawa Dean terdengar menghubungi kakaknya karena Ai menangis tidak ingin diperiksa. Takut setelah melihat hasil pemeriksaan Isel karena janinnya tidak berkembang baik.


"Kenapa peluk-peluk suami orang?" Isel menarik rambut Aira membuat heboh.


Dokter memeriksa keluhan juga berat badan Lea, dan melihat perkembangan janin. Dokter tersenyum kecil karena bayi Lea berkembang dengan baik.


"Kembar tidak Dok?"


"Hanya satu, kamu berharap kembar?" dokter tersenyum ke arah Lea.


Kepala Lea menggeleng, punya dua anak kembar otaknya gembul asap terus karena menahan emosi. Punya satu sudah lebih dari cukup karena pengalaman membesar anak kembar butuh kesabaran yang tebal.


Senyuman Aira terlihat, dia juga ingin memeriksa kandungan. Tidak jadi takut karena melihat Lea baik-baik saja.


"Aku rasa Aira juga kembar, telihat dari perutnya yang lebih besar," ucap dokter yang mengecek tensi.


"Mampus kalian berdua akan merasakan stres, tidak tidur berhari-hari, melihatnya saja yang enak punya anak kembar, proses anjing banget." Lea menggedong Ura yang mengikuti ucapannya.


Tatapan Dean tajam melihat Lea yang mengajari kata kasar kepada Ura. Dia sangat mudah menangkap, sehingga mengulangi apapun yang didengar.


"Kenapa dengan anjing? bukannya kita diajarkan tahu hewan anjing." Lea menjulurkan lidahnya membuat Isel tertawa menyetujui.

__ADS_1


Mama Diana meminta semuanya diam, melihat kandungan Aira yang sama saja seperti Isel, berat badan Isel terlalu kurus karena dia seorang selebriti sehingga masih menjaga tubuhnya meskipun hamil.


"Kamu diet Ai? Kak Di laporkan kamu sama Angga."


"Bukan diet Kak, Aira hanya makan sedikit takut gendut." Bibir Aira manyun.


"Nanti memikirkan kurus, fokus dulu demi kesehatan kalian. Proses lahiran bukan seperti membuang kotoran, ada banyak resiko yang bisa membuat kehilangan nyawa. Jika kalian meremehkannya, maka resikonya besar." Mama Di terdengar marah karena Aira yang menjaga pola makannya.


Dean mengusap punggung Diana yang masih cemas memikirkan anak-anak yang sedang hamil, proses kehamilan Diana yang paling menyakitkan, hingga dirinya tidak bisa hamil lagi setelah lahiran karena memaksa menyelamatkan anak-anaknya.


"Di luar ada banyak wartawan, mereka ingin mengetahui kabar terbaru Ai." Dean menghubungi pengawal untuk memindahkan jalur.


"Hubungan perusahaan Dean, minta mereka membantu menyingkirkan wartawan. Pasti berita kehamilan Aira sudah tersebar." Lea akan keluar lebih dulu bersama Ura karena bahaya jika wajah Ura tertangkap kamera.


"Kak Angga dalam perjalanan ke sini, dia mencemaskan Aira." Dean menatap Diana yang tarik napas panjang karena kepopuleran Aira belum pudar.


Diana meminta maaf kepada dokter karena membuat gaduh juga memakan waktu lama, mereka harus segera pergi.


"Isel, Aira kalian jaga kesehatan. Makan apapun jangan peduli dengan gemuk, terutama kamu Isel karena ini kehamilan pertama yang ada riwayat keguguran." Dokter meminta keluar lewat jalur lain karena rumah sakit memang ada jalur VVIP.


Tiga bumil langsung keluar, Dean membawa Ura bersamanya. Di depan terdengar kerusuhan karena melihat Blackat muncul di rumah sakit.


"Pipi, Adiknya Ura tidak sehat karena Mimi diet."


"Apa sih, tidak ada begitu." Aira mencubit Ura yang mulutnya bocor.


Tatapan Angga tajam, mengintimidasi Aira yang pasti memang melakukan diet. Kebiasaan yang buruk demi tubuhnya yang indah.


"Apa kata Dokter?"


"Kemungkinan kembar, tapi pertumbuhan kurang sehat. Pemeriksaan bulan depan harus menghentikan program diet." Dean tidak menutupi apapun karena Aira memang keterlaluan.


Lea meminta ribut di rumah karena harus kembali, terlalu bahaya jika wartawan semakin banyak.


Mama Di hanya tersenyum kecil melihat anak-anak yang saling mencintai, kebahagiaan seorang ibu hamil saat suaminya memperhatikan kesehatannya bukan hanya bayi.


"Mama berharap kalian sehat, jangan sampai yang dulu terjadi terulang kembali." Diana merasakan perasaan tidak enak tanpa alasan.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2