
Teriakan Mira terdengar, Mommy Anggun memegang tangannya Mira yang penuh darah.
Isel terduduk lemas melihat Mira tertembak, sedangkan dirinya tidak bisa mengejar Brayen yang berencana mengugurkan kandungannya .
"Hore, Mira terluka." Ura lompat-lompat kesenangan.
"Mora, tangan aku berhasil menepis peluru." Mira terlihat bahagia, sedangkan Mora sudah berlari keluar mengendari sepeda milik Ajun yang terparkir.
Mobil Brayen melaju dengan kecepatan tinggi, melihat Mora langsung melepaskan tembakan berkali-kali, tapi berhasil menghindari.
"Jangan sebut nama Amora jika tidak bisa menangkap kamu, sekalipun ke lubang kubur aku kejar." Mora mengumpat kasar masih terus megincang sepedanya.
Beberapa penjaga sudah berdiri di gerbang karena mobil Dean masuk, Brayen melanjutkan mobilnya lebih cepat agar bisa lolos.
"Minggir, anjing apa yang kalian lakukan di jalan!" teriakkan Mora terdengar mengerem sepeda sampai sepedanya terpental.
Penjaga kaget semua, Dean bahkan menghentikan mobilnya. Satu mobil lolos dan pergi meninggalkan perumahan.
Teriakkan kencang Mora terdengar, menendang gerbang langsung berlari kencang pulang ke rumahnya untuk melacak keberadaan Brayen.
"Ini semua gara-gara Mami yang menyita ponsel Mora, jadinya seperti ini." Mora berlari melewati mobil Dean.
"Ada apa Mora, siapa yang kamu kejar?" Dean menarik sepeda yang sudah hancur karena kepala dan badan terpisah.
Tangisan Ajun terdengar karena ikutan mengejar bersama Vino karena sepedanya hilang.
"Sepeda Ajun jadi dua, Kak Mora ganti." Tangisan Ajun kuat memeluk sepeda kesayangannya.
"Jangan menangis Jun, pakai punya Vino saja," bujuk Vino dengan nada lembut agar adiknya tenang.
Dean masih binggung melihat aksi kejar-kejaran, langsung berlari meninggalkan mobilnya karena mencemaskan istrinya.
"Mora, kamu gagal?" tanya Mira yang berjalan masih sempat membungkus tanganya dan berlari kencang pulang ke rumah.
Mommy Anggun panik, satunya terluka, satu kejar-kejaran belum lagi Isel yang gemetaran karena hampir disuntik obat. Hanya Aura yang lompat bahagia.
"Ada apa Mom? Kenapa anak-anak lari-larian?"
__ADS_1
"Brayen datang kesini, ingin menyuntikan obat mengugurkan kandungan Isel." Mommy menghubungi Tika dan Shin yang sedang bekerja, meminta Diana pulang.
Tanpa mengucapakan sepatah katapun, Dean langsung berlari masuk rumah melihat Isel yang duduk di sofa masih tidak percaya Brayen berani masuk wilayah singa betina.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja, kita ke rumah sakit sekarang."
"Abi, aku baik-baik saja, Mimor yang terluka, anak belasan tahun tertembak," ucap Isel yang mengatur napasnya.
Di rumah si kembar beda rahim rusuh, Mora menghidupkan komputer Mamanya melihat rekaman jalanan.
"Itu mobilnya Mor, ikuti, tutup beberapa jalanan. Aku akan meminta bantuan teman-teman bela diri kita untuk menghentikan." Mira mengatur arah, mengerakkan teman-teman bela dirinya yang ada di gedung pelatihan.
"Dia tidak akan lolos, aku sendiri yang akan mencabut nyawanya." Mora memicingkan matanya tidak peduli jika akan dimarah oleh dua wanita yang selalu menghukumnya karena suka mengacaukan jalanan.
"Wow, kemampuan kamu ada kemajuan Mor, kali ini jalanan tidak berantakan dan macet." Mira bertepuk tangan lupa jika telapak tanganya tergores peluru.
Suara Mira meringis kesakitan terdengar, tanpa sengaja memukul komputer di sebelahnya hingga layar retak.
Kepala Mora menoleh, Mira berulah lagi bisa habis mereka dicambuk jika Mama Tika dan Mami Shin tahu.
"Mira, bisa tidak kontrol diri, aku sudah korbankan nyawa masuk ke sini ditambah lagi kamu merusak barang."
Suara beberapa mobil terdengar tiba, teriakan Tika sudah terdengar mendapat kabar putrinya tertembak.
"Mama, Kakak Mora merusak sepeda Ajun, sepeda belah dua," ujar Ajun mengadu.
"Minggir Ajun, kenapa anak laki-laki satu ini mirip perempuan." Tika menyingkirkan Ajun yang melirik tajam.
"Ajun punya burung," jawab Ajun membuat Isel yang mendengarnya langsung tertawa.
JIka sudah masuk rumah Tika Shin pasti rusuh ditambah Ajun yang sangat cerewet banyak keluhan karena sangat manja.
Pintu ruangan terbuka Tika masuk menarik tangan Mira mengecek telapak tangan, memastikan tangan anaknya tidak bolong, jika sampai bolong kepala pelaku akan berlobang.
"Ma, hari ini Mira hebat bisa menangkis peluru, Mami benar peluru tidak akan tembus jika power kita lebih ...." Mira terdiam melihat Mamanya menangis memeluk erat hampir jantungan saat dapat kabar putrinya terluka.
"Sebelas tahun aku membesarkan kamu, beraninya orang luar masuk dan melukai." Tatapan mata Tika tajam tidak melihat keberadaan Mora lagi.
__ADS_1
Suara Shin meleking terdengar melihat tangan Mira yang hanya tergores, dan cukup dalam. Seseorang yang menembaknya tidak berpengalaman sama sekali.
"Di mana Mora?" Shin melihat semua orang yang tidak melihat keberadaan Mora.
Shin meminta Tika mengendalikan keaadaan karena Mora sudah mengacaukan CCTV jalanan.
"Kali ini Mora sudah lihai dalam mengendalikan, dia tidak menyebabkan kemacetan lagi." Tika melihat segerombolan remaja yang berlari ke arah mobil yang berhenti di sebuah hotel.
"Mora pergi ke hotel, ini anak pendendam sekali ingin menangkap pelaku dengan tangannya sendiri." Shin meminta penjaga menghentikan Mora yang keluar dari gerbang.
Kerutan di kening Isel terlihat, Mimor tidak keluar dari gerbang, tapi jalan tikus. Keduanya sudah pergi ke arah hotel.
"Ada apa ramai-ramai?" Ai baru bangun tidur melihat Mira berlari menggunakan motor listrik yang sudah modifikasinya.
"Mira juga sudah kabur, kenapa dua anak ini gerakannya lebih cepat." Tika tepuk jidat karena Genta melakukan panggilan ingin melihat Mira, sedangkan Putrinya sudah kabur.
"Papa, sepeda Ajun rusak lagi, beli lagi ya Pa, kali ini harus yang lebih kuat juga tahan banting." Bibir Ajun ditarik oleh Tika agar berhenti bicara membuat kepala Tika pusing.
Pintu rumah terbuka, Diana melangkah masuk bersama Aliya melihat anak sudah berkumpul menatap satu-persatu.
"Kamu baik-baik saja Nak, apa kandungan kau terasa sakit?" Diana meneteskan air matanya karena sangat mencemaskan Isel.
Senyuman Isel terlihat, mengusap perutnya karena anaknya dalam keadaan aman, tapi saat ini emosi Mira dan Mora sedang tidak terkendali, mereka tidak akan berhenti sebelum menemukan Brayen.
Tangan Aliya tergempal, siapapun yang masuk ke dalam rumah dan mencelakai salah satu anggota keluarga harus dilenyapkan, siapapun tidak boleh menganggap remeh.
"Sehebat apa Brayen itu hingga berani mengancam dan melepaskan tembakan?"
"Ai rasa dia tidak lebih kuat dari Mimor, perut aku sakit ingin ke toilet dulu." Aira berjalan pergi karena tidak mencemaskan si kembar sama sekali.
"Lea sependapat dengan Ai, sejak kecil keduanya sudah ahli bela diri dan kemampuan Brayen tidak imbang, dia hanya modal nekat."
Diana mengambil ponselnya, menghubungi Gemal untuk menghentikan Mimor yang pergi mengejar Brayen karena bisa saja dua remaja terbiasa menghabisi orang, Diana tidak ingin otak keduanya terkontaminasi hal buruk.
Menyerang boleh, tapi Berjalan tidak boleh mati di tangan keduanya, Diana ingin melihat Brayen dalam keadaan hidup ada di hadapnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira