
Jetski berhenti di pinggir pantai, Mimor langsung berlari kencang untuk menuju mobil.
Dari jauh sudah terlihat dua wanita mondar-mandir menunggu, ekpresi wajah tidak tenang karena Mimor belum kembali.
"Apa mereka berdua tertangkap?" Shin melihat ke arah Tika.
"Ya sudah, palingan bertemu Papanya." Tangan Tika mengacak rambutnya karena Mimor terlalu bodoh.
"Mama Mami, kita datang." Mimor menari sambil joget-joget karena berhasil pergi tanpa ada yang tahu.
Senyuman Shin terlihat, meminta keduanya masuk mobil untuk membersihkan diri barulah pulang.
"Tunggu." Rambut Mira disingkirkan oleh Tika, kedua telinganya terlihat.
Mira menatap Mamanya binggung, tidak mengerti mengapa dirinya dicek padahal bisa kembali dalam keadaan aman.
"Di mana sebelah anting kamu, kapan hilangnya?" tanya Mama Tika.
Kedua tangan Mira memegang telinganya, benar jika salah satu antingnya hilang, tapi Mira tidak menyadarinya.
Sekecil apapun bukti yang ditinggalkan tetap saja akan membuat kecurigaan, jika hilangnya di pelabuhan maka Mira akan dicurigai sebagai komplotan.
"Mira tidak melakukan salah, masa iya Papa ingin menangkap Mira?"
"Iya jika Papa yang menemukannya, jika orang lain maka Papa yang diselidiki." Tika menarik telinga Mira yang nyengir.
Satu mobil melintas, keempat wanita memalingkan wajah. Mobil berhenti tepat di depan mereka, Isel berhenti melangkah keluar.
"Vio, kamu pergi saja ke rumah sakit karena Laura membutuhkan kamu, sedangkan Weni harus mengawasi Ren, aku bisa pulang bersama keluargaku." Pukulan tangan Isel pelan ke arah mobil agar segera meninggalkan lokasi.
Kepala Vio mengangguk, langsung melaju pergi ke rumah sakit karena mobil melewati jalur lain.
"Kamu baik-baik saja Sel?" Shin merasa cemas, mengusap perut besar Isel yang ikut penangkapan.
"Sejauh ini baik, aku tidak banyak gerak hanya mengawasi saja." Isel masuk ke dalam mobil untuk segera pulang.
Tatapan Isel melihat ke arah Mimor yang sudah membuka baju masing-masing karena basah dan bau keringat, juga darah.
"Kenapa dua anak ini ikut-ikutan?"
Senyuman Mimor terlihat, menceritakan aksi mereka yang sangat keren, menjalankan jetski, pindah ke kapal selam, melepaskan tembakan. Ada banyak orang yang tergeletak. Apa yang mereka lakukan layaknya di dalam film yang sedang adegan bertarung.
__ADS_1
"Seru sekali Aunty, ada yang jatuh hanya Mimor yang berdiri." Tawa dua remaja terdengar.
"Apa ini menyenangkan?" tanya Isel dengan nada dingin.
Mimor langsung mengiyakan, Isel tidak boleh marah kepada mereka karena yang melakukan kejahatan bukan mereka, tapi orang lain.
"Bagaimana kondisi di sana Kak Tika?"
"Tuan Kim mengiginkan pulau, kira-kira pulau apa?" Shin menatap Isel yang kemungkinan tahu.
Laura mengatakan jika kalian memiliki pulau rahasia, tidak sembarangan orang masuk ke sana karena untuk masuk saja memiliki kode akses.
Salah satu orang yang mengetahui kode itu Laura, dia dipaksa memberitahu letak pulau yang berisikan banyak harta.
"Apa keluarga Laura menyimpan harta di sana?"
"Entahlah, Isel tidak tahu barang berharga apa yang pernah Laura simpan, dulunya pulau itu memang ada," jelas Isel yang mengingat rahasia pulau.
"Dulunya ada, berarti sekarang sudah tidak ada." Mora menoleh ke arah Isel yang terlihat binggung.
"Di mana pulau itu Sel?" Tika merasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi di pulau.
"Rumah pelangi," jawab Shin.
"Tik, hati-hati menyetirnya! Ini ada bumil." Shin terdengar marah meminta Tika keluar untuk tukar posisi.
Lirikan mata Tika sinis, langsung tersenyum memeluk Shin yang sedang marah. Dirinya terlalu kaget karena rumah pelangi milik Shin seperti rumah penitipan.
Selain dulunya menjadi tempat pembantaian, kecelakan Ria hingga berubah menjadi perpustakaan khusus kedokteran.
"Kita ke sana sekarang Kak," pinta Isel yang juga ingin tahu apa yang ditinggalkan Laura di sana.
Kepala Tika mengangguk, sangat bersemangat karena dia juga ingin tahu apa yang terjadi di rumah pelangi.
"Tidak jadi pulang, Mora sudah buka baju."
"Mandi di rumah pelangi saja, lihat Mira sudah mirip monyet kegatalan." Shin mengusap tangan Mira yang merah.
Perjalanan ke rumah pelangi cukup jauh, matahari bahkan sudah terbit kembali. Isel juga tertidur bersama si kembar.
Sampai di rumah pelangi, Tika dan Shin menutup gerbang, melarang siapapun yang masuk.
__ADS_1
"Sel, bangun."
Mata Isel terbuka, menatap rumah pelangi yang jarang sekali dirinya kunjungi. Isel melangkah masuk bersama Shin, berjalan ke arah bawah tanah.
"Buku-buku di sini masih terjaga sekali ya Kak?"
"Pastinya, staf yang bekerja ada lima belas orang. Tidak boleh ada buku yang berdebu." Shin menatap buku yang tingginya sampai ke langit bangunan.
Mengambil buku juga harus menggunakan tangga, begitupun membersihkannya. Buku bersejarah juga dimuseumkan, dan dilarang dibaca.
"Apa yang kalian lakukan di sini Sel?"
Isel membuka sebuah brangkas yang digunakan untuk menyimpan tas dan barang penting.
"Ini milik Laura, apa isinya?" Isel mengambilnya sebuah map.
"Tunggu Sel, aku juga ingin tahu." Tika berlari kencang, berdiri di samping Isel yang membuka berkas di dalam map.
Mulut Isel, Tika dan Shin menganga. Kekayaan keluarga Laura setara dengan kekayaan keluarga Tika, dia memiliki banyak gedung di beberapa negara, dan Laura pewaris tunggal.
"Mami Laura memang jahat, tapi dia sangat mementingkan kesejahteraan Laura, sedangkan Laura tidak mencintai kekayaan." Shin meminta Isel menyimpan kembali.
Keserakahan Brayen pasti karena mengetahui jumlah kekayaan keluarga Laura, dia tahu jika Laura memiliki banyak harta, tapi hidup sederhana sehingga membuatnya tidak bahagia.
"Harta memang bisa membuat iri hati." Tika melihat satu kertas yang jatuh.
"Subhanallah, Laura baik sekali. Dia menyumbangkan setengah hartanya untuk beasiswa anak kurang mampu." Air mata Shin menetes karena lelaki yang mendapatkan Laura seharusnya orang paling beruntung di dunia.
Seburuk apapun keluarganya, tidak lupa untuk berbagi kebaikan. Tidak banyak orang yang mengulurkan tangan secara sembunyi.
"Ternyata Laura yang dulu meletakkan emas di hutan, dia mengambil emas milik Mamanya dan mengatakan ada harta karun. Gadis bodoh, tidak heran Mami Rose selalu mengatakan jika Laura beban." Isel mengunci kembali brangkas milik Laura.
Tangan Isel mengambil miliknya, membuka kuncinya dan melihat ada banyak foto bersama Dean.
"Sel, kamu menyimpan harta berharga yang dipenuhi foto Dean. Perempuan bucin satu ini," kesal Tika yang merasa geli dengan Isel yang menyimpan harta sebuah foto.
"Sel Isel. Seharusnya seperti Laura memang menyimpan harta, bukan seperti kamu menyimpan foto Dean." Shin melangkah pergi mencari putrinya.
"Karena ini harta paling berharga yang aku miliki, nanti ada baby twins yang juga menjadi harta Bunda." Isel tersenyum mengembalikan kotak miliknya.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira