
Tangisan Aira pecah, pelukan Angga erat keduanya tidak tahu dan tidak terpikirkan sama sekali.
Hampir dua tahun menikah, menanti kehadiran buah hati, namun saat bahagia datang tidak menyadari, dan mendapatkan kabar janin tidak berkembang.
"Jangan menangis sayang," pinta Angga yang juga menepis air matanya.
"Kak Ai jangan menangis nanti semakin stres, jangan percaya apa yang Isel katakan karena Isel dokter khusus orang gila, bukan dokter hamil." Ekspresi Isel binggung, memilih menjauh membiarkan Mami Aliya menenangkan Aira.
Al memeluk anaknya, meminta Aira berhenti menangis mereka harus berpikir positif, seharusnya Ai tersenyum mendapatkan kabar yang mereka nantikan selama ini.
Mommy Anggun juga berlutut, mengusap punggung tangan Aira yang dingin agar dirinya tenang.
"Mami, kenapa Ai tidak tahu?"
"Kamu berharap bisa seperti orang lain, sedangkan masa kehamilan tidak semua orag sama sayang, Mami temani Ai ke Dokter." Aliya mengusap air mata yang mengalir di pipi putrinya.
"Kenapa begitu takut, belum juga dapat kabar buruknya sudah panik? Mama dulu tiga bayi yang diperjuangkan saat semua orang menyerah dan meminta digugurkan. Kak Di tidak menyerah karena hati seorang ibu percaya anaknya masih ada." Diana juga berjongkok mengusap perut Aira yang memnag membuncit, tapi benar ucapan Isel kemungkinan besar tidak berkembang.
"Sayang kamu tidak sendiri ada banyak orang yang mendampingi Aira, berhenti memiliki banyak beban. Anggap saja dia memberikan kejutan dan tidak ingin menyusahkan Maminya sehingga muncul secara diam-diam." Anggun menyentuh perut Aira memujinya karena hebat bisa betah di ruangan yang kecil.
Air mata Lea menetes memeluk Aira dari belakang, Tika juga mendekat mensuppor adiknya untuk tidak takut karena mereka semua ada bersamanya.
Kedua tangan Aira mengusap air mata menunjukkan senyuman, Shin memberikan air minum agar lebih tenang.
Tangan Air gemetaran meminum air karena masih tidak percaya jika sikap cengengnya, manja, dan mudah mengeluh bukan karena kritikan banyak orang namun memang mood bawaan hamil yang sedang buruk.
Langkah Aira berjlan mendekti Papinya langsung memeluknya dengan sangat erat, Altha hanya tersenyum kecil tidak menunjukkan kekhawatiran sama sekali karena Altha yakin anaknya kuat, bayi yang Aira kandung sekuat wanita yang mengandungnya.
Arjuna memeluk Adik kecilnya yaang sedang berada dalam ujian, Juan juga memeluk lembut.
Tawa kecil Aira terdengar, dirinya begitu spesial karena memiliki empat lelaki dalam hidupnya yang sangat mencintainya.
__ADS_1
"Aira baik-baik saja, nanti periksa ke dokter untuk memastikan jika bayinya baik. Semuanya tidak harus khawatir, Ai happy." Kedua tangan Aira melingkar di perutnya yang tidak terlihat membesar.
"Kak Di akan mendampingi kamu untuk bertemu dengan dokter terbaik. Aira harus ingat ibu dan anak memiliki ikatan kuat, apa yaang kamu rasakan dia juga merasakan. Jika Aira bahagia maka dia juga bahagia, tapi sebaliknya Ai sedih begitupun dia. Berbahagialah Aira, moment mengandung sangat berharga dan kamu orang spesial itu." Diana mengecup kening Aira untuk tersenyum lebar.
Kepala Aira mengangguk mengerti, dirinya sangat bahagia meskipun impiannya melihat hasil tes pack, memberikan kejutan kepada semua orang.
"Ayang bahagiakan?"Ai mengecup tangan suaminya.
"Kamu tahu bahagia aku ada pada kamu, senyuman dan air mata kamu menjadi penentu suasana hatiku. Jika kamu bahagia, aku dua kali lipat." Angga menyentuh perut istrinya mengucapkan selamat datang di rahim.
Angga meminta maaf jika mereka terlambat, apa yang selalu mereka minta sudah ada namun masih keras terus meminta tanpa menyadari jika sudah terjawab.
Teriakan Isel menggema langsung lari kencang membuat semua orang melihat ke arahnya, suara pintu dibanting terdengar.
Melihat Isel teriak histeris, Dean juga langsung lari melihat ke kolam belakang ada anak kecil yang menenggelamkan kucing di kolam ikan.
"Ini anak siapa?" Dean lompat ke kolam, menggendong anak kecil yang menarik kuping kucing.
Kecerdasan si kecil tidak ada lawannya karena sangat pintar mengeringkan air kolam sampai dirinya tidak tenggelam.
"Kucing Mora, lepaskan." Mora menarik rambut Andra yang langsung menangis histeris.
"Mora tidak boleh seperti itu, sakit adiknya." Dean menggendong Andra sampai kucing dan ikan terangkat.
Mora dan Mira berusaha mengambil kucing mereka, memukuli tangan Andri yang bertahan tidak ingin melepaskan.
"Ucing kakak yang curi unya Dra, calah cendiri jahat." Tangisan Andra kuat meremas kepala kucing.
Suara kucing mengeong dan mengamuk terdengar, tangan Andra digigit. Isel langsung cepat melepaskan sampai tangannya juga penuh cakaran.
Teriakan Lea terdengar melihat tangan anaknya meneteskan darah, Juna langsung mengambil Andra yang masih memeluk ikan.
__ADS_1
"Anak siapa ini, kenapa dia begitu dendam?" Dean melihat kolam yang kering air karena saluran pembuangan air terbuka.
"Anaknya Juan, mirip siapa dia nakal sekali." Isel langsung masuk ke dalam.
Satu rumah yang heboh karena Isel hamil, pindah kepada Aira yang kandungannya tidak terlihat dan berakhir dengan kehebohan Andra yang dendam kepada kucing.
Dia menenggelamkan kucing agar menangkap ikan sendiri, tidak mencuri mliknya.
"Sakit tidak tangan kamu? lepaskan dulu ikannya." Juan mengusap kepala Putranya yang masih sangat kecil namun begitu cerdas meskipun hanya melihat televisi, Andra bisa tahu apa yang dibicarakan berita.
Satu tangan Andra masih memeluk ikan, dan satu tangannya dibersihkan karena ada bekas gigitan kucing juga cakaran. Juna sampai geleng-geleng, kenakalan dua putrinya tidak sebanding dengan Andra yang begitu aktif.
"Ketika dua jenius disatukan jadinya over jenius." Dean tertawa melihat ikan yang ada dalam pelukan.
Mata Andra terpejam langsung tidur padahal tubuhnya amis dan basah, tangannya juga masih diobati, tidak ada tangisan sama sekali.
"Kenapa anak satu ini suka ikan, mana ikan hidup." Juan membuang ikan yang harus dikembalikan ke dalam air.
"Tidak masalah JUan paling penting dia sehat, lihat Ajun yang aneh sendiri. Aku pikir hanya wanita yaang nakal, tapi kenyataannya Ajun mirip monyet." Tawa Tika terdengar langsung memeluk suaminya yang menatap sinis.
Kepala Aira menoleh, melihat suaminya yang memeluk dari belakang, tangan Angga mengusap perut istrinya.
"Kita buat jadwal untuk bertemu dokter, semoga saja doa baik kita di jabah, dan diberikan anak yang sehat juga tidak kurang apapun." Senyuman Angga terlihat merasa sangat bahagia mendapatkan kabar istrinya hamil anak pertama mereka.
Kepala Aira mengangguk, dia percaya jika janin di dalam kandungannya dalam keadaan baik, dan sengaja ingin tumbuh secara diam-diam untuk kejutan.
Senyuman Dean terlihat menatap Aira dan Kakaknya nampak sangat bahagia. Perasaan Dean yakin untuk serius juga sudah tiba, dia akan memperkenalkan wanitanya kepada semua anggota keluarga.
***
Follow ig vhiaazaira
__ADS_1